Stok Beras Bulog Bandung Melimpah, Butuh Distribusi Cepat
Gambar atau konten salah?
Stok beras di wilayah kerja Bulog Cabang Bandung kini berada pada kondisi melimpah, mencapai 29.754 ton. Kelebihan ini menimbulkan kekhawatiran bahwa jika tidak segera dialirkan, mutu beras dapat menurun karena penyimpanan lama.
Anggota Komisi IV DPR RI, Rajiv, mengungkapkan hal tersebut dalam pernyataannya pada Jumat, 08 Mei 2026. Ia mengapresiasi tata kelola penyimpanan di tiga gudang utama, yaitu Cisaranten Kidul, Cimahi, dan Paseh Sumedang, namun menyoroti risiko kerusakan mutu beras.
“Penyimpanannya bagus, tapi saya cemas dengan penyerapan yang tinggi, jika tidak diimbangi dengan penyaluran atau distribusi yang cepat, bisa merusak mutu beras yang disimpan di tiga Gudang bulog ini,” ujar Rajiv.
Menurutnya, banyaknya stok dan kapasitas terbatas di gudang menuntut pengelolaan distribusi yang tepat, cepat, dan terukur. Tanpa itu, beras akan menumpuk dan kualitasnya berkurang.
Rajiv memaparkan data stok per gudang: Cisaranten Kidul menampung 10.654 ton, Cimahi 10.100 ton, dan Paseh Sumedang 9.000 ton. Jumlah ini hampir melampaui kapasitas gabungan ketiga gudang.
Ia menegaskan, “Dengan stok yang hampir melebihi kapasitas di tiga gudang Bulog Cabang Bandung, dapat dikatakan kondisi pasokan beras medium aman. Namun, stok yang besar ini harus segera diikuti dengan langkah percepatan distribusi agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.”
Rajiv menambahkan bahwa Bulog tidak hanya menyimpan beras, tetapi juga berperan dalam distribusi ketika masyarakat membutuhkan pasokan dengan harga terjangkau. Ia menekankan pentingnya memperkuat sistem distribusi.
Berikut langkah-langkah yang dia sarankan: pertama, mempercepat penyaluran beras medium ke wilayah yang membutuhkan melalui program bantuan pangan, operasi pasar, maupun Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP); kedua, memastikan prinsip rotasi stok berjalan disiplin, khususnya dengan mekanisme first in, first out; ketiga, memetakan kebutuhan beras di wilayah Bandung Raya, Kabupaten Bandung, Cimahi, Sumedang, dan sekitarnya agar distribusi tidak hanya berdasarkan ketersediaan stok, tetapi juga kebutuhan riil masyarakat.
Rajiv mengingatkan, “Jangan sampai stok beras terlihat aman di gudang, tetapi masyarakat masih menghadapi harga tinggi di pasar. Karena itu, data stok harus terhubung dengan data kebutuhan dan harga di lapangan.”
Ia juga menyarankan agar koordinasi antara Bulog, pemerintah daerah, Badan Pangan Nasional, dinas perdagangan, dan dinas ketahanan pangan diperkuat. Koordinasi ini penting untuk memastikan penyaluran beras tepat sasaran, khususnya kepada masyarakat berpenghasilan rendah dan wilayah yang mengalami tekanan harga.
Pengawasan kualitas beras juga menjadi fokus. Dengan jumlah stok besar di ketiga gudang, pemeriksaan kualitas secara berkala menjadi krusial agar beras yang disalurkan tetap layak konsumsi dan sesuai standar.
Secara keseluruhan, pernyataan Rajiv menyoroti pentingnya distribusi cepat dan terukur serta koordinasi lintas lembaga untuk menjaga mutu beras dan memastikan pasokan tetap aman bagi masyarakat.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
SDN 2 Salakaria: 32 Murid, 8 Guru, Semangat Belajar Tak Padam
Tasikmalaya Siaga Darurat Kekeringan hingga September
Petani Indramayu Bangga Garap Sawah, Biayai Kuliah Anak Hingga Sarjana
Dedi Mulyadi Temukan 11 Perusahaan Kapur Ilegal di Cipatat
Kebakaran di Ciamis Hanguskan Bangunan Berisi Enam Usaha
Belasan ASN di Pangandaran Bercerai, Judi Online Jadi Pemicu
