Stroke: Gaya Hidup dan Makanan Siap Saji Jadi Penyebab

Lina F. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 84 dibaca
Bisik.id
Stroke: Gaya Hidup dan Makanan Siap Saji Jadi Penyebab

Gambar atau konten salah?

Stroke biasanya muncul dengan mati rasa atau kelemahan di satu sisi tubuh, kesulitan berbicara atau memahami, kebingungan, kehilangan keseimbangan, masalah penglihatan, atau sakit kepala tanpa sebab yang jelas. Penyakit ini umumnya dialami oleh orang berusia 40 tahun ke atas, namun belakangan ini semakin sering terdeteksi pada usia muda. Apa penyebabnya?

Ahli neurologi Dr Rena Sukhdeo Singh menegaskan bahwa gaya hidup dapat menaikkan risiko terkena stroke. Dalam kariernya, ia telah melihat peningkatan kasus stroke pada orang dewasa yang terkait dengan faktor risiko gaya hidup, salah satunya pola makan yang buruk.

Bersama dengan terapis cedera otak Natalie Mackenzie, Singh mengidentifikasi beberapa faktor utama yang memengaruhi risiko stroke di kalangan anak muda. Berikut di antaranya:

1. Obesitas

CDC (Centers for Disease Control and Prevention) melaporkan bahwa dua dari lima orang dewasa di AS mengalami obesitas. Kondisi ini sering disertai kolesterol tinggi dan tekanan darah tinggi, sehingga meningkatkan kerentanan terhadap stroke. Di Indonesia, data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan prevalensi stroke mencapai 8,3 per 1.000 penduduk. Artinya, dari setiap 1.000 orang, sekitar delapan mengalami stroke.

“Jelas bahwa peningkatan berat badan berkontribusi pada kejadian stroke. Diabetes umumnya diketahui meningkatkan risiko stroke karena dampaknya pada pembuluh darah dan jantung, mirip dengan efek tekanan darah tinggi dan obesitas,” kata Mackenzie.

Singh menyoroti bahwa banyak anak muda bekerja di bidang yang menuntut aktivitas minim, sehingga gaya hidup menjadi kurang aktif. Ditambah lagi, makanan siap saji dapat memicu tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, diabetes, obesitas, bahkan sleep apnea. “Masing-masing kondisi tersebut secara independen meningkatkan risiko stroke,” tambahnya.

Dr Jacub Pandelaki, spesialis radiologi, menegaskan bahwa makanan siap saji menjadi pilihan utama banyak orang. Makanan ini mengandung gula, lemak, garam tinggi, serta zat kimia tambahan. “Pola hidup orang kita kan sekarang beda, dulu makan mi instan saja jarang, sekarang kita semua sudah ada fast food, dan umumnya disajikan dengan cara digoreng, kalau rebus, sebetulnya lebih sehat,” katanya. “Jadi pola hidup mempunyai pengaruh yang besar, itulah kenapa pada usia muda sekarang ini bisa dimungkinkan terkena stroke,” tandas dr Pandelaki.

2. Stres

Menurut dr Singh, tingkat stres di kalangan muda semakin meningkat. Stres ini meningkatkan kadar kortisol, yang dapat memicu tekanan darah tinggi, aterosklerosis, dan beban pada jantung. “Tubuh kita tidak dirancang untuk seaktif dan ‘sesibuk’ ini, dan dampaknya terhadap kesehatan fisik dan mental sangat besar,” kata Mackenzie.

Stres juga berdampak pada kebiasaan makan cepat saji, kurangnya waktu untuk olahraga teratur, dan peningkatan masalah kesehatan mental. Kondisi ini tidak optimal bagi tubuh dan menambah risiko stroke. “Pilihan makanan cepat saji karena kurangnya waktu (seringkali dengan kandungan garam tinggi, faktor risiko lain), ketidakmampuan untuk berolahraga secara teratur, dan peningkatan kondisi kesehatan mental bukanlah kondisi optimal bagi tubuh, dan oleh karena itu menambah peningkatan risiko stroke,” tambah Mackenzie.

Gejala Awal Stroke pada Usia Muda

Spesialis saraf dr Al Rasyid SpS (K) menjelaskan bahwa gejala stroke pada usia muda secara umum mirip dengan orang tua. Beberapa tanda yang dapat muncul antara lain:

  • Senyum tidak simetris
  • Kesulitan menelan air
  • Gerak separuh anggota badan tiba-tiba melemah
  • Sulit berbicara hingga tidak nyambung ketika diajak berbicara

Selain itu, gejala lain yang dapat dikenali adalah rasa kebas, baal, atau kesemutan pada separuh tubuh, pandangan salah satu mata menjadi rabun atau kabur, dan munculnya sakit kepala hebat secara tiba-tiba. “Rasa sakit kepala pada pengidap stroke muncul mendadak dan belum pernah dirasakan sebelumnya,” ujar dr Rasyid. Ia menambahkan bahwa pengidap stroke juga sering mengalami gangguan keseimbangan seperti tremor dan sempoyongan.

Jika seseorang mengalami gejala-gejala tersebut, penting untuk segera pergi ke rumah sakit terdekat. Pemeriksaan dan penanganan cepat dapat memengaruhi hasil akhir. “Jika seseorang mengalami gejala-gejala tersebut, penting untuk bisa segera pergi ke rumah sakit terdekat. Hal ini dilakukan untuk dilakukan pemeriksaan dan penanganan secara cepat dan tepat,” pungkasnya.

Kasus stroke pada usia muda menuntut perhatian lebih terhadap gaya hidup, pola makan, dan manajemen stres. Masyarakat perlu sadar bahwa faktor risiko yang dulu dianggap lebih relevan pada usia tua kini juga dapat memengaruhi generasi muda. Kesadaran akan gejala awal dan tindakan cepat dapat menjadi kunci dalam mengurangi dampak stroke.

stroke pada usia mudaobesitasdiet cepat sajistreskadar kortisolkesehatan mentalgejala stroke

Komentar

Memuat komentar...