Studi Baru: Kurang Tidur SWS dan REM Meningkat Risiko Alzheimer

Bima J. · 3 min baca · 15 hari lalu · 39 dibaca
Bisik.id
Studi Baru: Kurang Tidur SWS dan REM Meningkat Risiko Alzheimer

Gambar atau konten salah?

Tidur bukan sekadar waktu istirahat. Ia adalah proses penting yang menjaga kesehatan tubuh dan otak. Tanpa tidur yang cukup, tubuh kehilangan kesempatan untuk memperbaiki sel, mengatur hormon, dan memproses informasi.

Menurut laman Health Harvard, tidur terbagi menjadi empat tahap. Masing‑masing tahap memiliki karakteristik unik yang mempengaruhi fungsi tubuh dan otak secara berbeda.

Tahap 1 adalah transisi antara terjaga dan tertidur. Pada fase ini, seseorang masih mudah terjaga. Gerakan tubuh dan suara di sekitar dapat mengganggu tidur ringan ini.

Tahap 2 ditandai dengan detak jantung dan pernapasan yang mulai melambat. Pada tahap ini, kesadaran terhadap lingkungan berkurang. Tubuh mulai menyiapkan diri untuk tidur yang lebih dalam.

Tahap 3 dikenal sebagai Slow Wave Sleep (SWS) atau tidur nyenyak. Pada fase ini, pernapasan dan detak jantung melambat lebih lanjut. Tekanan darah turun, otot-otot menjadi rileks, dan jaringan otak mulai beregenerasi. Tubuh juga melepaskan hormon penting yang mendukung pemulihan.

Tahap 4 adalah Rapid Eye Movement (REM), fase terakhir dan terdalam. Pada REM, pernapasan menjadi lebih cepat dan tidak teratur. Mata bergerak cepat ke segala arah, aktivitas otak meningkat, dan tekanan darah naik. Pada pria, fase ini juga dapat memicu ereksi.

Studi menunjukkan hubungan antara kebiasaan tidur yang buruk dengan kerusakan otak. Kurangnya waktu tidur pada fase SWS dan REM dapat mempercepat penurunan fungsi otak yang berhubungan dengan Alzheimer.

“Kami menemukan bahwa volume bagian otak yang disebut daerah parietal inferior menyusut pada orang‑orang dengan tidur lambat dan REM yang tidak memadai,” kata Cho, dikutip dari laman CNN.

“Bagian otak itu mensintesis informasi sensorik, termasuk informasi visuospasial, jadi masuk akal jika bagian itu menunjukkan neurodegenerasi sejak dini dalam penyakit ini,” tambahnya.

Richard Issacson, ahli saraf preventif di Amerika Serikat, menegaskan bahwa pengalaman klinisnya mendukung temuan tersebut. “Kami juga menemukan metrik tidur pada tidur yang lebih nyenyak, memprediksi fungsi kognitif, jadi antara itu ditambah volume otak, amat nyata,” ujarnya.

Selama tidur nyenyak, otak membersihkan racun dan sel‑sel mati. Sementara pada REM, otak memproses emosi, mengkonsolidasikan ingatan, dan menyerap informasi baru. Dengan demikian, tidur nyenyak dan REM berkualitas dapat menjaga fungsi tubuh dan otak tetap optimal.

Orang dewasa biasanya memerlukan sekitar tujuh hingga delapan jam tidur setiap malam. Remaja dan anak lebih muda membutuhkan waktu tidur yang lebih lama. Para ahli menyarankan agar orang dewasa menghabiskan 20‑25 persen waktu tidur dalam fase SWS dan REM.

Usia memengaruhi distribusi tahap tidur. Bayi, misalnya, dapat menghabiskan 50 persen tidur mereka dalam REM. Sedangkan pada orang dewasa yang lebih tua, proporsi tidur nyenyak menurun.

Tahap tidur yang lebih dalam cenderung berkurang seiring bertambahnya usia, kata Cho. “Tidur nyenyak cenderung dirasakan setelah seseorang tertidur, sementara tidur REM muncul di kemudian hari, menjelang pagi. Jadi, jika tidur dilakukan larut malam dan bangun pagi, seseorang akan mengurangi peluang untuk menghabiskan cukup waktu di salah satu atau kedua tahapan tersebut,” jelasnya.

Namun, tidak cukup hanya berbaring lebih lama. Untuk mendapatkan tidur nyenyak tanpa gangguan secara teratur, kebiasaan tidur yang baik harus dipelihara. Studi pada 02 Februari 2023 menemukan bahwa kebiasaan tidur yang baik dapat menambah hampir lima tahun pada harapan hidup pria dan hampir dua setengah tahun pada wanita.

Bagaimana cara menilai kualitas tidur? Dr. Ray Rattu, SpPD, menyarankan penggunaan fitur sleep tracker pada smartwatch. Meski tidak seakurat tes tidur di rumah sakit, perangkat sederhana ini cukup membantu memonitor kualitas tidur.

“Saya bisa tahu seberapa tenang aktivitas metabolisme saya, seberapa rendah heart rate saya, karena ini berpengaruh pada seberapa aktif sih kita saat tidur,” jelas dr Ray beberapa waktu lalu.

“Kalau heart rate kita turun rendah sampai di bawah 60, itu menunjukkan bahwa kita deep sleep dan betul‑betul tubuh kita beristirahat. Sebaliknya kalau kita tidur heart rate di atas 80, jangan‑jangan ada sesuatu. Apakah kita mengalami demam, apakah kita mengalami stres dalam pikiran,” tambahnya.

Dengan pemahaman tentang fase tidur dan pentingnya tidur nyenyak serta REM, setiap individu dapat menyesuaikan kebiasaan tidur agar tubuh dan otak tetap sehat. Menjaga pola tidur yang teratur, cukup, dan berkualitas menjadi investasi jangka panjang bagi kesehatan mental dan fisik.

tidurREMSlow Wave Sleep (SWS)Alzheimerkebiasaan tidurkualitas tidurotak

Komentar

Memuat komentar...