Suhu Udara Indonesia Naik: BMKG Jelas Bukan Gelombang Panas
Gambar atau konten salah?
Sejumlah wilayah di Indonesia belakangan ini dilanda cuaca panas menyengat. BMKG memastikan kondisi tersebut bukan gelombang panas, melainkan peningkatan suhu udara.
"Fenomena yang terjadi saat ini bukan gelombang panas, melainkan peningkatan suhu udara," kata Andri Ramdhani, Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG, pada 22 Maret 2026.
Andri menjelaskan kenaikan suhu masih tergolong wajar karena Indonesia berada di wilayah tropis. Ia menegaskan gelombang panas biasanya terjadi di wilayah subtropis dengan suhu ekstrem berturut‑turut. "Di Indonesia, variasi suhu relatif kecil dan pembentukan awan serta hujan masih cukup sering terjadi," jelasnya.
BMKG mengungkapkan periode Maret hingga Mei biasanya identik dengan suhu udara yang terasa lebih panas. Posisi matahari di sekitar ekuator, berkurangnya tutupan awan siang hari, dan angin lemah memicu pemanasan permukaan bumi. Wilayah perkotaan juga merasakan panas lebih intens akibat urban heat island, di mana bangunan menyimpan panas lebih lama.
Suhu tembus 37 derajat Celsius tercatat di berbagai wilayah pada 12‑15 Maret 2026. Jawa Barat mencapai 37,2 derajat, Kalimantan 36,4 derajat, Banten 36,2 derajat, dan Jawa Timur sekitar 35 derajat. Pergeseran distribusi hujan ke timur membuat beberapa daerah mengalami tutupan awan lebih sedikit, sehingga sinar matahari lebih maksimal. Anomali radiasi gelombang panjang keluar (OLR) positif juga menandakan minimnya pertumbuhan awan di sejumlah wilayah.
Meskipun cuaca panas masih berpotensi berlangsung, BMKG menyebut peluang hujan lokal tetap ada, terutama pada siang hingga sore hari. Untuk periode 17‑23 Maret 2026, cuaca di Indonesia diperkirakan didominasi hujan ringan hingga sedang, namun masyarakat diminta waspada potensi hujan sedang hingga lebat di beberapa wilayah.
Daerah yang berpotensi mengalami hujan lebat meliputi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Barat. Hujan juga berpotensi terjadi di Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.
BMKG mengimbau masyarakat tetap menjaga kondisi tubuh di tengah cuaca panas. Warga diminta memperbanyak konsumsi air, mengurangi aktivitas di bawah sinar matahari pada siang hari, serta rutin memantau informasi cuaca terbaru. "Karena kondisi atmosfer saat ini masih dinamis, masyarakat diharapkan tetap waspada terhadap perubahan cuaca yang bisa terjadi sewaktu‑waktu," tutup Andri.
Cuaca panas ini dipengaruhi posisi matahari, tutupan awan, dan urban heat island, namun masih ada peluang hujan di banyak wilayah.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Bloom Putih Anggur: Lapisan Lilin Alami, Bukan Jamur
Rasa Terbakar Dada: Penyebab Utama dan Tanda Peringatan
Minum 3‑4 Cangkir Kopi Bisa Perlambat Penuaan 5 Tahun
Trump Lakukan Tiga Pemeriksaan Medis di Walter Reed
Air Kelapa 15 Hari: Hidrasi, Pencernaan, Berat Badan
Gejala Kulit Leukemia: Memar, Benjolan, Infeksi, dan Lainnya
Berita Terbaru
Kobra Jawa Didampingi Relawan Dilepas dari Rumah di Klaten
Mourinho Setuju Kembali ke Real Madrid jika Perez Terpilih
IHSG menutup di zona negatif, turun 4,11%; global merosot
Sumsel Hormati Keputusan Presiden Makan Bergizi Gratis
Dishub Surabaya Pasang Foto Jukir di Rambu Parkir TJU
Bandara Adisutjipto Tak Perlu Direaktivasi, YIA Cukup
Scammer Solo Baru Target Warga AS, Polda Jawa Tengah
