Sukamantri: Tanaman Hias Jadi Pusat Ekspor Berkat BRILian
Gambar atau konten salah?
Desa Sukamantri terletak di lereng perbukitan dan kaki Gunung Salak, Bogor. Dengan luas 638 Ha, desa ini sudah mampu menggerakkan ekonomi masyarakatnya secara mandiri. Komoditas utama desa adalah tanaman hias yang sudah menembus pasar dunia.
Perjalanan menuju Sukamantri dimulai dari Stasiun Bogor. Dalam kondisi lalu lintas lancar, jarak tempuh sekitar 30 menit dengan kendaraan. Sesampainya di desa, cuaca terik namun aktivitas tetap ramai.
Ketika tiba di Kantor Desa Sukamantri pada 21 Mei 2026 sekitar pukul 13.00 WIB, kepala desa Hendi Haerudin memimpin warga dan tamu yang datang. Ia tetap sibuk melayani masyarakat meski suhu tinggi.
Di luar kantor, sentra tanaman hias terletak 1 hingga 1,5 kilometer dari pusat desa. Perjalanan dapat ditempuh dengan mobil atau sepeda motor dalam waktu 5–10 menit. Jalanan di desa sudah teratur, memudahkan pengunjung.
Sentra ini menampilkan berbagai tanaman hias, seperti Anthurium Kuping Gajah, Philodendron, dan Aglaonema. Pusat pembibitan dan gerai siap jual dipelihara oleh petugas desa.
Sejak awal, masyarakat Sukamantri sudah aktif di bidang tanaman hias. Penjualan melonjak pada tahun 2020 saat pandemi COVID‑19. BUMDes Bersama Muda Sejahtera memaksimalkan potensi ini dengan memberikan pelatihan kepada petani.
Sudrajat, Kaur Keuangan Desa Sukamantri berkata, “BUMDes punya program untuk pelatihan terkait untuk budidaya tanaman di Bumdes. Kita datangkan narasumber. Untuk pelatihan, BUMDes mendatangkan dan alhamdulillah mereka semua sudah mandiri sekarang.”
Karena produk unggulan yang menembus pasar ekspor, Desa Sukamantri dipilih untuk ikut program Desa BRILian yang diselenggarakan oleh BRI. Program ini bertujuan memberdayakan desa unggulan menjadi desa percontohan dalam pengembangan ekonomi pedesaan.
Nur Amalia, Kaur TU dan Umum Desa Sukamantri menambahkan, “Kalau untuk tanaman hias, sebelum kami ikut Desa BRILian pun sudah ekspor. Dan mungkin dengan ikutan Desa BRILian ini lebih banyak lagi mungkin.”
Sudrajat menjelaskan bahwa BRI melakukan penilaian khusus untuk menentukan desa yang layak menjadi bagian dari program BRILian. Tujuannya adalah meningkatkan potensi desa yang sudah berjalan. Di Sukamantri, potensi terbesar adalah ekspor tanaman hias.
“Biasanya kan selama ini desa punya produk unggulan yang memang sudah berjalan, sudah melewati proses pemberdayaan, cuma memang desa masih kesulitan untuk mengeksplor potensi yang ada,” ujar Sudrajat.
Dampak nyata dari Desa BRILian terlihat pada eksistensi Sukamantri. Sebelumnya hanya dikenal di lingkup tetangga, desa kini dikenal secara nasional.
“Nah lewat BRILian ini Desa Sukamantri yang awalnya hanya dikenal di lingkup wilayah terdekat, sekarang kan lingkup nasional pun sudah bisa tahu lah informasi terkait desa Sukamantri,” kata Sudrajat.
Nur Amalia mengakui bahwa program BRI sangat membantu masyarakat. Potensi desa kini lebih tereksplor.
“Terus setelah itu mereka mengeksplor ke beberapa tempat yang memang sudah ada. Sekarang nasional pun sudah tahu lewat program Desa BRILian itu,” tuturnya.
Selain tanaman hias, warga Sukamantri juga mengembangkan usaha pabrik tahu, peternakan kambing, agen gas, agen BRILink, dan peternakan ayam petelur.
Desa Sukamantri masuk peringkat 15 batch ketiga program Desa BRILian pada 2024. Reward dari program ini dimanfaatkan untuk meningkatkan potensi desa.
“Kita tambahkan ke modal pengembangan usaha yang ada di BUMDes. Karena memang anggarannya pun langsung masuk ke rekening BUMDes,” ujar Sudrajat.
Petani tanaman hias juga merasakan bantuan dari BUMDes. Perlengkapan pengembangan, seperti jaring paranet, disediakan oleh desa.
“Kalau BUMDES ngebantula. Ngebantu, ngebantu banget. Ini dari desa gitu. Ini jaring-jaring ini,” ujar Jaelani, salah satu pekerja di sentra tanaman hias, sambil menunjuk jaring paranet.
Desa Sukamantri kini menjadi contoh bagaimana potensi lokal dapat dikembangkan melalui pelatihan, program pemerintah, dan kerja sama desa. Ekspor tanaman hias, dukungan BUMDes, serta partisipasi dalam program BRILian telah membuka peluang baru bagi masyarakat desa. Dengan modal yang tepat, potensi desa terus tumbuh, memberi manfaat bagi warga dan memperkuat posisi Sukamantri di pasar nasional.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Nasabah Maybank: Reksa Dana Jatuh Tempo 2023 Belum Cair
IHSG Sentuh 6.300, Saham Konglomerat Jadi Motor
China Beri Peringkat Utang Tertinggi ke Indonesia
Sandwich Generation: 82,96% Rumah Tangga Masih Bergantung pada Lansia
Bank Mandiri Perkuat Keamanan Siber Digital
Menkeu Bantah Rumor S&P Turunkan Peringkat Indonesia
