Sumur Puter di Kudus: Warisan Air Sunan yang Terlupakan
Gambar atau konten salah?
Di balik gang sempit di Desa Langgardalem, Kecamatan Kudus, Kabupaten Kudus, tersembunyi sebuah sumur yang konon memiliki kisah terkait Sunan Kudus. Sumur yang dinamakan Sumur Puter dikabarkan merupakan hadiah dari Sunan Kudus bagi warga yang baru pulang dari perang.
Lokasi sumur ini berada sekitar 500 meter dari Menara Kudus. Untuk sampai ke sana, pengunjung harus melewati gang sempit yang hanya cukup bagi satu sepeda motor. Setelah melewati gang, jalan menuju sumur dibatasi oleh tembok setinggi 5 meter yang menutupi sebuah bangunan bekas gudang pabrik rokok. Bangunan tersebut tidak terawat; tanaman liar dan semak belukar menutupi sebagian besar area, sehingga pengunjung harus membawa sabit atau parang untuk menebang tumbuhan dan membuat jalur setapak menuju sumur.
Sumur itu sendiri hanyalah pipa paralon yang menyembul di dalam bangunan. Air biasanya diambil dengan cara disedot menggunakan mesin. Meskipun sederhana, sumur ini tetap menjadi titik penting bagi penduduk sekitar, terutama bagi mereka yang mengadakan acara pernikahan, khitanan, atau persiapan haji.
Mohammad Romza, pemangku Sumur Puter, menjelaskan bahwa sumur ini memang merupakan hadiah dari Sunan Kudus atau Jafar Shodiq, penyiar Islam di wilayah Kudus. Ia mengatakan, “Sumur ini merupakan hadiah dari Sunan Kudus atau Jafar Shodiq, penyiar Islam di wilayah Kudus.” Romza menambahkan bahwa Sunan Kudus membiarkan sumur tersebut untuk warga, khususnya bagi bekal warga yang ikut perang waktu itu. Ia juga menyebut bahwa sumur ini “mulanya dari tongkat Sunan Kudus yang ditancapkan ke tanah.”
Romza mengingatkan bahwa “Sumur puter ini, menurut yang saya terima dari pemangku dulu, sumur hadiah dari Sunan Kudus untuk masyarakat waktu membutuhkan kehidupan, air untuk bekal masyarakat sebagai bekal pulang berperang.” Ia juga menekankan bahwa sumur awalnya adalah tongkat yang ditanamkan di tanah, “sumur ini awalnya dulu tongkat yang ditanamkan di sini, keluar mata air untuk kebutuhan masyarakat untuk bisa dikonsumsi.”
Menurut Romza, nama Sumur Puter berasal dari ketika Sunan Kudus mencari lokasi untuk membuat sumur. Ia menjelaskan, “Nama Sumur Puter ini berasal ketika Sunan Kudus hendak mencari lokasi untuk membuat sumur. Dia bilang, awalnya Sunan Kudus menancapkan tongkat di daerah Pasucen Kudus, namun ditolak oleh warga. Setelah itu Sunan Kudus muter atau berkeliling mencari lokasi lain. Lalu tongkatnya ditancapkan di lokasi ini yang dulunya dekat dengan rumah Sunan Kudus.”
Romza menambahkan, “Namanya sumur puter, dulu yang diputar itu tongkat. Jadi waktu itu Sunan Kudus menancapkan di salah satu tempat di sekitar Pasucen itu, buat mencari mata air. Ada orang tua yang mengatakan tidak bersedia untuk dibuat mata air, maka tongkat ditancapkan di sini.” Ia juga menyebutkan bahwa sumur ini dulunya terletak dekat dengan rumah Sunan Kudus, “Letaknya ini dekat dengan rumah Sunan Kudus. Sekitar 50 meter dari tempat ini adalah rumah Sunan Kudus.”
Menurut Romza, warga sering mengadakan acara bancakan atau syukuran di sekitar lokasi sumur puter. Ia menjelaskan, “Memang kerap sekali kalau ingin punya hajat entah itu mau menikahkan anaknya, mau mengkhitankan anaknya, atau bikin rumah, mau mengawali tempat usaha. Kalau merasa bersyukur tentang kesehatan, itu sering sekali memberikan daharan misalkan makanan, disedekahkan kepada masyarakat sekitar ini.” Romza juga menyebutkan bahwa sebelum berangkat haji, para calon haji biasanya melakukan bancakan di tempat ini.
Romza berharap agar ke depannya warga sekitar lebih peduli dengan keberadaan Sumur Puter yang merupakan peninggalan Sunan Kudus. Ia mengatakan, “Saya secara pribadi, semua punya kesadaran pribadi, dari pemerintah ya gimana untuk bisa dijalankan seperti bakti sosial untuk bersih-bersih di waktu tertentu seperti Ramadan, Suro harapan bisa agar bisa bersih.”
Sumur Puter tetap menjadi simbol warisan budaya dan spiritual bagi masyarakat Kudus. Meskipun kondisi fisiknya memerlukan perhatian, sumur ini terus menjadi tempat berkumpul dan berdoa bagi warga setempat. Dengan sejarah yang kaya dan makna yang mendalam, Sumur Puter mengingatkan kita akan pentingnya menjaga dan menghargai warisan leluhur.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
BEM Solo Raya Demonstrasi di DPRD Solo, Aksi Berakhir Damai
Solo Tunggu Koordinasi Keraton, Belum Ada Rapat Kirab 1 Suro
Harga Obat Semarang Naik, BPJS Terancam Keterjangkauan
Dishub Banyumas Uji Coba Penutupan Jembatan Serayu 15‑30 Juni
15 Twibbon Gratis 1 Muharam 2026, Pilih Desainmu Sekarang
Wali Kota Solo Tuntun Kirab 1 Suro, Pastikan Kelancaran
Berita Terbaru
Sumur Puter di Kudus: Warisan Air Sunan yang Terlupakan
Gula dalam Probiotik: Kunci Fermentasi dan Risiko Gizi
Air Putih Lebih Menarik: Tambah Lemon, Mint, Chia, Garam
Trans Luxury Hotel Surabaya Tarik Promo Kamar Rp999.000
Cuaca Bali 13 Jun: Berawan hingga Hujan Ringan, Suhu 18-30°C
Kanada Imbang 1-1 Bosnia, Raih Poin Pertama Dunia Piala
Cuaca Berawan di Bandung 13 Juni, BMKG Peringatkan Warga Pantau
Canada vs Bosnia: Imbang 1-1, Piala Dunia 2026, Pertandingan Awal
Primbon Jawa Tanggal 13 Juni 2026: Kliwon Pasaran dan Neptu 12
