Surabaya Sambut Lebaran Ketupat 28 Maret 2026 Tradisi Terus

Guntur P. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 107 dibaca
Bisik.id
Surabaya Sambut Lebaran Ketupat 28 Maret 2026 Tradisi Terus

Gambar atau konten salah?

Surabaya menjadi saksi bagi tradisi yang masih hidup di kalangan masyarakat Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Setelah perayaan Idul Fitri berakhir, masih ada hari lain yang dipenuhi dengan kebiasaan membuat ketupat, yang dikenal dengan Lebaran Ketupat.

Tradisi ini menandai puncak rangkaian Syawalan, tepatnya pada 8 Syawal atau tujuh hari setelah Idul Fitri. Menurut penanggalan Hijriah, 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Karena itu, Lebaran Ketupat tahun ini diperingati pada Sabtu, 28 Maret 2026.

Meski tidak termasuk ibadah wajib, Lebaran Ketupat tetap dijalankan oleh masyarakat Jawa sebagai bagian dari warisan budaya. Dalam bahasa Jawa, istilah bakda merujuk pada dua momen penting: Bakda Lebaran pada 1 Syawal dan Bakda Kupat sekitar satu minggu kemudian.

Menurut jurnal “Makna Simbolik dan Kultural Tradisi Lebaran Ketupat Bagi Masyarakat Jawa” karya Sriyana dan Wiwik Suprapti, dua bakda ini diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga, yang juga dikenal sebagai Raden Mas Sahid, sebagai bagian dari strategi dakwah. Ia ingin mengenalkan ajaran Islam kepada masyarakat Jawa melalui bentuk budaya yang sudah ada.

Di masa itu, tradisi kupatan muncul sebagai hasil akulturasi budaya pada era Wali Songo dan Kesultanan Demak Bintoro di abad ke-15. Sunan Kalijaga memperkenalkan istilah “ba'da” atau “bakda” yang berarti “setelah”. Dari sini lahirlah Bakda Lebaran (setelah Idul Fitri) dan Bakda Kupat (setelah kupatan).

Bakda Lebaran biasanya dimulai dengan salat Id pada 1 Syawal, diikuti dengan silaturahmi. Sedangkan Bakda Kupat menjadi penutup rangkaian tersebut, biasanya dirayakan setelah umat Islam menunaikan puasa enam hari di bulan Syawal.

Ketupat, sebagai simbol utama, merupakan adaptasi dari tradisi kenduri yang sudah lama dikenal masyarakat Jawa. Sunan Kalijaga memadukan nilai Islam dengan budaya lokal, sehingga tradisi ini berkembang menjadi perayaan kupatan yang sarat makna religius.

Dalam konteks budaya Jawa, kenduri adalah bentuk ungkapan rasa syukur sekaligus doa untuk keselamatan. Nilai ini tetap melekat dalam tradisi Lebaran Ketupat hingga kini. Masyarakat membuat ketupat sebagai wujud terima kasih kepada Allah atas nikmat yang diberikan.

Setelah Idul Fitri, ketika keluarga saling bermaaf-maafan, Bakda Kupat melanjutkan tradisi tersebut dengan membuat ketupat untuk disantap bersama. Ketupat juga sering dibagikan kepada tetangga, saudara, atau orang yang lebih tua sebagai simbol kebersamaan dan kepedulian sosial.

Ketupat memiliki makna filosofis yang mendalam. Dalam bahasa Jawa, kata “kupat” diyakini berasal dari frasa “ngaku lepat”, yang berarti mengakui kesalahan. Makna ini menjadi pengingat bahwa setiap manusia tidak luput dari kesalahan, sehingga penting untuk saling memaafkan.

Selain itu, “kupat” sering dikaitkan dengan kata “papat” atau empat, yang merujuk pada salah satu rukun Islam, yaitu puasa di bulan Ramadan. Hal ini menegaskan bahwa tradisi kupatan merupakan bagian dari rangkaian ibadah setelah Ramadan.

Secara kultural, Lebaran Ketupat mengandung pesan tentang kejujuran dalam mengakui kesalahan serta keikhlasan dalam memberi maaf. Melalui tradisi makan ketupat bersama, umat Islam diharapkan menyadari bahwa mereka telah kembali bersih, sekaligus memperkuat komitmen menjaga hubungan baik dengan sesama.

Tradisi ini tidak hanya sekadar acara makan, melainkan juga sarana mempererat tali silaturahmi antarkeluarga dan masyarakat. Dengan membuat dan berbagi ketupat, orang-orang menunjukkan rasa syukur, kebersamaan, dan kepedulian sosial yang masih hidup di kalangan masyarakat Jawa.

Perayaan Lebaran Ketupat menegaskan bahwa budaya dan agama saling melengkapi. Melalui tradisi ini, masyarakat dapat merayakan Idul Fitri dengan cara yang unik, tetap menghormati nilai-nilai Islam, dan menjaga warisan budaya yang telah diwariskan selama berabad-abad.

Lebaran KetupatIdul FitriSyawalSunan KalijagaBakda KupatKetupatWali SongoBudaya Jawa

Komentar

Memuat komentar...