Tabanan Gelar Dropping Point Sampah Anorganik 15 Mei

Rini S. · 2 min baca · 19 hari lalu · 56 dibaca
Bisik.id
Tabanan Gelar Dropping Point Sampah Anorganik 15 Mei

Gambar atau konten salah?

Tabanan – Pada 15 Mei 2026, sejumlah lembaga dan komunitas lokal menggelar aksi dropping point atau pengumpulan sampah anorganik di wilayah Kota Tabanan. Kegiatan ini diinisiasi oleh Patradesa, Komunitas Tabanan Lovers, dan TPS3R Sadu Kencana sebagai upaya membantu masyarakat mengelola sampah berbasis sumber.

Perwakilan Patradesa, Agus Sumberdana, menjelaskan bahwa kegiatan perdana digelar di Jalan Dharmawangsa, tepat di sebelah timur Kantor Bupati Tabanan. Meskipun sosialisasi baru dilakukan sehari sebelumnya, respons masyarakat disebut cukup tinggi. "Sebenarnya ini ide spontan dan baru disosialisasikan H-1. Tapi hari ini antusias warga sangat positif. Kurang lebih ada belasan warga yang membawa sampah mereka ke sini," ujar Agus Sumberdana.

Panitia merencanakan kelanjutan kegiatan pada 16 Mei 2026 di Jalan Parkit atau pintu selatan Gedung Kesenian I Ketut Marya. Selanjutnya, pada 17 Mei 2026, dropping point digelar di kawasan Lapangan Alit Saputra atau Lapangan Dangin Carik. Kegiatan dimulai pukul 08.00 hingga 10.00 Wita dan sementara di wilayah kota saja, jelasnya.

Agus menyebut pihaknya berencana memperluas program tersebut ke sejumlah wilayah lain melalui konsep road show. Namun, pelaksanaannya masih menunggu hasil evaluasi kegiatan awal.

Selama dua jam pelaksanaan di hari pertama, panitia berhasil mengumpulkan 36,15 kilogram sampah anorganik, 13,75 kilogram residu, 3,75 kilogram sampah organik, serta 0,75 kilogram sampah B3 atau medis. Seluruh sampah yang terkumpul kemudian dibawa ke TPS3R Sadu Kencana di Desa Dauh Peken, Kecamatan Tabanan.

Agus menekankan bahwa sampah yang dibawa dalam kegiatan itu hanya anorganik. Aksi ini dilakukan sebagai salah satu solusi atas Surat Edaran Bupati Tabanan mengenai pengelolaan sampah berbasis sumber dimana masyarakat masih kebingungan mau dibawa kemana sampah pilahan mereka. "Setelah aturan itu diberlakukan, terjadi permasalahan baru yakni masyarakat bingung mau dikemanakan sampah-sampah mereka. Paling tidak aksi ini bisa membantu memberikan solusi," tegasnya.

Selain menerima dan menimbang sampah, panitia juga memberikan edukasi kepada warga terkait pemilahan sampah. Agus mengakui masih banyak masyarakat yang belum memahami perbedaan antara sampah anorganik dan residu. "Masih ada sampah yang bercampur. Ada juga warga yang belum paham mana residu dan anorganik. Saat mereka setor sekalian kami berikan edukasi, sosialisasi dan ajak memilah sampah mereka sendiri," ujarnya.

Ia berharap konsep dropping point semacam ini dapat diadopsi pemerintah, khususnya Dinas Lingkungan Hidup (DLH), agar kebijakan pengelolaan sampah turut dibarengi solusi di lapangan. "Dropping point atau titik kumpul ini semoga bisa ditiru oleh pemerintah. Karena pemerintah yang mengeluarkan kebijakan namun harus dibarengi dengan solusi," pungkasnya.

Salah seorang warga, Khusnul Arif, mengaku mengetahui kegiatan tersebut dari grup WhatsApp Posyandu. Warga Banjar Taman Sari itu menilai program tersebut sangat membantu masyarakat memahami pemilahan sampah. "Tanggapan program ini sangat baik dan memang banyak masyarakat belum paham tentang pemilahan yang benar dan mau dibawa kemana sampah anorganik. Harapan saya agar berkelanjutan kalau bisa," ujarnya.

Program dropping point ini menyoroti kebutuhan akan mekanisme pengumpulan sampah yang praktis dan edukatif di tingkat komunitas. Dengan melibatkan warga secara langsung, kegiatan ini tidak hanya mengurangi tumpukan sampah di jalan, tetapi juga meningkatkan kesadaran akan pentingnya pemilahan sampah. Keterlibatan lembaga lokal dan dukungan pemerintah dapat memperkuat inisiatif ini, menjadikannya contoh bagi kota lain dalam mengatasi tantangan pengelolaan sampah berbasis sumber.

dropping pointsampah anorganikTabananPatradesaTPS3R Sadu Kencanaedukasi pemilahan sampahDinas Lingkungan Hiduppengelolaan sampah berbasis sumber

Komentar

Memuat komentar...