Takbir Idul Adha: Tradisi Membawa Kebesaran Allah Selama
Gambar atau konten salah?
Takbir Idul Adha menjadi tradisi yang paling dinanti umat Islam di seluruh dunia. Gema “Allahu Akbar” mengisi malam 10 Dzulhijjah hingga hari tasyrik, menandai kebesaran Allah dan kesempatan beribadah kurban. Takbir ini tidak hanya sekadar ucapan, melainkan sunnah yang dianjurkan selama hari-hari mulia di bulan Dzulhijjah.
Menurut hadis dari Ibnu Umar RA, Rasulullah SAW bersabda: مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ وَلَا أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعَمَلُ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ. Artinya: “Tidak ada hari yang lebih agung di sisi Allah dan amal shalih di dalamnya lebih dicintai oleh-Nya daripada hari yang sepuluh (sepuluh hari pertama dari Dzulhijjah).” (HR Ahmad, dishahihkan Syaikh Ahmad Syakir). Dari sini, takbir dapat dibaca mulai malam 10 Dzulhijjah hingga akhir hari tasyrik.
Berbagai versi bacaan takbir umum di Idul Adha dapat dibagi menjadi tiga kategori utama:
- Takbir yang dibaca sebanyak tiga kali
- Bacaan takbir umum
- Takbir yang ditambah bacaan zikir
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa di hari raya Idul Adha, takbir dibaca sebanyak tiga kali. Lafalnya adalah:
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ
Allāhu akbar, Allāhu akbar, Allāhu akbar.
Artinya: “Allah maha besar, Allah maha besar, Allah maha besar.”
Selanjutnya, bacaan takbir umum yang sering dikumandangkan masyarakat adalah:
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
Allāhu akbar, Allāhu akbar, Allāhu akbar. Lā ilāha illallāhu wallāhu akbar. Allāhu akbar wa lillāhil hamdu.
Artinya: “Allah maha besar, Allah maha besar, Allah maha besar. Tiada tuhan selain Allah. Allah maha besar. Segala puji bagi-Nya.”
Imam Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW menambahkan zikir di dalam lafal takbir yang dikumandangkan di bukit Shafa. Berikut lafal lengkapnya:
اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا. لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ. لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ. لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ.
Allāhu akbar kabīrā, walhamdu lillāhi katsīrā, wa subhānallāhi bukratan wa ashīlā, lā ilāha illallāhu wa lā na'budu illā iyyāhu mukhlishīna lahud dīna wa law karihal kāfirūn, lā ilāha illallāhu wahdah, shadaqa wa'dah, wa nashara 'abdah, wa hazamal ahzāba wahdah, lā ilāha illallāhu wallāhu akbar.
Artinya: “Allah maha besar. Segala puji yang banyak bagi Allah. Maha suci Allah pagi dan sore. Tiada tuhan selain Allah. Kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya, memurnikan bagi-Nya sebuah agama meski orang kafir tidak menyukainya. Tiada tuhan selain Allah yang esa, yang menepati janji-Nya, membela hamba-Nya, dan sendiri memerangi pasukan musuh. Tiada tuhan selain Allah. Allah maha besar.”
Menurut Syekh Abu Abdillah Muhammad ibn Qasim as-Syafi'i, takbir yang dikumandangkan saat hari raya dibagi menjadi dua jenis: takbir mursal dan takbir muqayyad. Takbir mursal dapat dilafalkan kapan pun dan di mana pun, mulai terbenam malam Ied hingga imam melakukan takbiratul ihram shalat Ied, baik Idul Fitri maupun Idul Adha.
Takbir muqayyad memiliki waktu khusus. Ia dibaca setelah melaksanakan shalat fardhu dan sunnah, mulai pada subuh hari Arafah (9 Dzulhijjah) dan selesai setelah ashar hari tasyrik terakhir (13 Dzulhijjah). Dengan kata lain, takbir muqayyad berlangsung selama lima hari: 9, 10, 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Pada setiap selesai sholat fardu dan sunah, takbir muqayyad diucapkan.
Syekh Ibrahim Al Bajuri menjelaskan bahwa takbir pada hari raya Idul Adha mencakup dua istilah sekaligus, yakni mursal dan muqayyad. Ia dibaca sejak malam Ied hingga hari tasyrik terakhir. Sebagai contoh, pada 9 Dzulhijjah (Arafah) takbir muqayyad dimulai setelah subuh hingga akhir hari; pada 10 Dzulhijjah (Idul Adha) takbir dibaca setelah setiap shalat, termasuk shalat Id; dan pada 11–13 Dzulhijjah (Tasyrik) takbir dilanjutkan setelah sholat fardu/sunah hingga asar hari ke-13.
Perbedaan takbiran Idul Fitri dan Idul Adha terletak pada batas akhir. Takbiran Idul Fitri dibatasi sampai khutbah sholat Idul Fitri, sesuai pendapat sahih Imam An-Nawawi. Sedangkan takbiran Idul Adha tidak hanya sampai sholat Idul Adha (10 Dzulhijjah), melainkan sampai hari tasyrik selesai (11, 12, 13 Dzulhijjah). Selama periode tersebut, takbir tetap disunahkan dan dapat diucapkan setelah sholat fardu. Takbir disunahkan bagi laki-laki dan perempuan, musafir dan mukim, baik yang sedang di rumah, jalan, masjid, ataupun pasar. Dimulai dari terbenam matahari pada malam hari raya berlanjut sampai shalat Idul Fitri. Tidak disunahkan takbir setelah shalat Idul Fitri atau pada malamnya, namun menurut An-Nawawi di dalam Al-Azkar hal ini tetap disunahkan.
Dengan memahami jenis, waktu, dan perbedaan takbiran di Idul Fitri serta Idul Adha, umat Islam dapat melaksanakan takbir dengan penuh kesadaran dan ketenangan. Gema “Allahu Akbar” tidak hanya menjadi ungkapan kebesaran, tetapi juga pengingat akan nilai kebersamaan dan pengorbanan yang menjadi inti perayaan Idul Adha.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ratusan Monyet Ekor Panjang Turun ke Pasar, Cari Makan
Guru SD di Sidoarjo Naik Perahu Demi Mengajar saat Banjir Rob
Messi Geser Mbappe di Puncak Top Skor Piala Dunia
Penyebab Karhutla: dari Hal Sepele hingga Bencana
KAI Bantah Penguntit Penumpang Wanita di Supas adalah Pegawai
Banjir Rob Kalianak Semakin Parah, Warga Minta Dam Dibangun
