Tanah Bergerak di Desa Mangubi, 40 Hektare Rusak Jalan dan Air
Gambar atau konten salah?
Fenomena tanah bergerak menimpa Desa Mangubi, Kecamatan Momunu, Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah. Pada Senin, 23 Maret 2026, tanah mulai bergeser, menimbulkan kerusakan pada jalan tani dan memutus suplai air bersih ke rumah warga.
Menurut Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Buol, Moh Kachfi, wilayah yang terdampak mencapai 40 hektare. Ia mengungkapkan hal tersebut kepada wartawan pada Rabu, 25 Maret 2026.
“Luas wilayah terdampak kurang lebih 40 hektare,” ujarnya. Kachfi menjelaskan bahwa pergerakan tanah terjadi di Desa Mangubi pada Senin (23 Maret). Akibatnya, distribusi air bersih terhenti. Ia menambahkan, “Kebutuhan saat ini, pemenuhan kebutuhan air bersih dan pembenahan jalan dari material tanah yang diakibatkan tanah bergerak.”
Setelah pergerakan tanah berhenti, tidak ada laporan kerusakan rumah warga. Kachfi menegaskan bahwa fenomena ini menjadi perhatian Bupati Buol, Risharyudi Triwibowo. Ia menambahkan, “Alhamdulillah kami di bawah komando Bapak Bupati, Wakil Bupati, dan Pak Sekda turun bersama ke lapangan. Untuk saat ini kondisi relatif aman dan belum ada lagi pergerakan tanah.”
Untuk mengatasi gangguan, pihak BPBD mulai menyalurkan air bersih secara bertahap. “Sejak kemarin hingga malam hari kami terus mengupayakan distribusi air bersih. Masyarakat diimbau tetap tenang, mengikuti arahan pemerintah, dan tidak panik,” kata Kachfi.
Badn Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bekerja sama dengan tim dari ESDM Pemprov Sulteng terus memantau kondisi tanah. Mereka berusaha memastikan stabilitas tanah dan mengantisipasi pergerakan lanjutan. Kachfi meminta masyarakat tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi atau hoaks terkait bencana.
“Saat ini, situasi di lokasi dilaporkan terkendali, sementara proses pemantauan dan penanganan masih terus dilakukan oleh pemerintah daerah bersama instansi teknis,” jelasnya.
Kasus ini menyoroti pentingnya koordinasi antara lembaga penanggulangan bencana, meteorologi, dan energi dalam menghadapi pergerakan tanah. Masyarakat diharapkan tetap tenang dan mengikuti arahan resmi untuk keamanan bersama.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Tanggal 04 Juni 2026 Dapat Dihitung 18 Dzulhijjah 1447 H
Weton Tulang Wangi: Tradisi Penanggalan Jawa Tetap Ada
Cek Bansos: Aplikasi Monitoring Bantuan Sosial di Ponsel
Doa Akhir Tahun 1448 H Dibaca Setelah Ashar 15 Juni 2026
1 Muharram 1448 H: 16 Juni 2026, Momen Amal dan Refleksi
Raker Apeksi Komwil VI Kendari Tetapkan Tiga Langkah
Berita Terbaru
IHSG Turun 4,11% di Tengah Sesi, Rupiah Menguat
Grab Tegaskan Tidak Keluar Indonesia, Tetap Komitmen Lanjut
Wakil Bupati Iwan Tuaji Laporkan Harta Rp 6,7 Miliar
Penurunan Wisnus Bali 4,14% Tahun Ini, 2,03% Bulanan
Jaga Kolam Ikan Rumah Bersih: Tips Pembersihan dan Nutrisi
Air Kelapa 15 Hari: Hidrasi, Pencernaan, Berat Badan
