Teman Bisik Membantu Penggemar Netra Menonton Piala Indonesia
Gambar atau konten salah?
Di Jakarta, pada pertandingan Timnas Indonesia melawan Saint Kitts and Nevis, sebuah kisah tak terduga muncul di pinggir lapangan. Para suporter tunanetra bersatu dengan kelompok “Teman Bisik” yang menjadi pendamping mereka. Video yang diunggah lewat Instagram @sadarbelajar menampilkan pemuda‑pemuda tersebut, yang membantu teman netra menikmati setiap gol dan taktik yang terjadi di lapangan.
Kelompok ini berasal dari komunitas Sadar Belajar, yang didirikan oleh Achmad Novrizal Hidayat. Ia menjelaskan bahwa program ini dinamakan Football for Unity. Di bawah inisiatif tersebut, teman‑teman tunanetra dapat mengikuti jalannya pertandingan lewat bantuan “teman bisik” yang memberi petunjuk secara lisan.
“Sudah ada sejak tahun 2020. Jadi dulu itu saya KKN sewaktu covid, di rumah sendiri. Kebetulan Ganang tetangga saya. Ketika KKN saya bikin pendampingan belajar untuk anak‑anak di desa. Kemudian berkembang dan akhirnya kita mengakomodasi teman‑teman netra termasuk disabilitas juga,” ungkap Achmad.
Sejak saat itu, Sadar Belajar telah memperluas jangkauannya. “Hampir 6 tahun kita sudah mengakomodir seluruh Yogyakarta dan beberapa wilayah di Jateng. Untuk teman‑teman netra kita sudah mengakomodir sebanyak 35, down syndrome ada sekitar 60, dan teman tuli ada sekitar 40,” tambahnya.
Awalnya, gerakan ini dimulai di sanggar belajar. Dari situ, ia merangkak menjadi komunitas, lalu pada tahun 2024 bertransformasi menjadi yayasan profesional. Kini, komunitas ini membuka pintu bagi siapa saja yang ingin berkontribusi.
Untuk membantu teman netra mengikuti pertandingan, para Teman Bisik menggunakan tactical board. Alat bantu visual ini biasanya dipakai pelatih sepakbola untuk menjelaskan strategi. Board tersebut dirancang agar dapat diraba, sehingga teman netra dapat merasakan jalannya permainan. “Ini kita anggap sebagai miniatur lapangan sepakbola, ada magnet yang diibaratkan sebagai bola atau pemain yang sedang memegang bola,” jelas Achmad.
Setelah itu, mereka bisikkan dan arahkan kepada teman netra, membangun imajinasi mereka melalui board tersebut. “Kemudian kita bisikkan dan arahkan kepada teman netra. Kita mencoba untuk membangun imajinasi teman tunanetra itu melalui tactical board ini,” pungkasnya.
Inspirasi program ini datang dari suporter Liverpool. Achmad mengakui, “Kita terinspirasi dari Liverpool. Di Liverpool itu ada temen netra yang demen banget sama Liverpool dan ada satu temannya yang selalu mengajak dan memberikan arahan. Nah, itu salah satu inspirasi kita.”
Ganang, salah satu siswa binaan Sadar Belajar, mengungkapkan betapa berartinya menonton sepakbola secara langsung. “Perasaan saya senang, dan tentunya juga penasaran gitu, gimana sih lingkungannya dan suasananya gitu. Ikut deg‑deg dan mau ikut teriak,” ujarnya. “Malah ikutan wave (bikin gerakan ombak bersama suporter lainnya). Seru itu,” sambungnya.
Meski begitu, Ganang berharap fasilitas stadion di Indonesia dapat mendukung anak disabilitas, khususnya sensorik netra. Ia mengaku, “baru PSM Sleman yang punya ruang khusus bagi teman netra di pinggir lapangan. Rupanya, PSM pun kerap bekerja sama dengan Teman Bisik untuk mengajak teman‑teman netra menikmati laga secara langsung.”
Ganang menegaskan, “Mudah‑mudahan semua stadion, khususnya di Indonesia bisa support untuk anak tunanetra karena. Walaupun anak tunanetra ada yang suka nonton bola dan tidak ada yang membantu untuk menjadi teman bisik.” Ia menutup dengan harapannya, “Itu yang menjadi harapan saya, semoga bisa tercapai, fasilitas‑fasilitas di stadion bisa mendukung untuk anak disabilitas, khususnya sensorik netra.”
Sadar Belajar kini terus bergerak, membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin bergabung. Komunitas ini berencana memperluas jejaringnya di beberapa kota mulai tahun depan, seperti Jakarta dan Bandung.
Program ini menunjukkan bahwa sepakbola dapat menjadi ruang inklusif, di mana teknologi sederhana dan dukungan manusia dapat menghubungkan semua penggemar, tak terkecuali mereka yang memiliki keterbatasan penglihatan. Dengan keberadaan “Teman Bisik” dan alat bantu visual, pengalaman menonton pertandingan dapat dinikmati secara penuh oleh semua pihak.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Skotlandia Kalahkan Haiti 1-0 di Babak Pertama Piala Dunia
Swiss Juara Grup B Piala Dunia 2026, Fair Play Menentukan
Usia Messi 38 Tahun Tidak Menghalangi Argentina 2026
Brasil dan Maroko Imbang 1-1 di Grup C Piala Dunia 2026
Brasil dan Maroko Imbang 1-1 di MetLife, Grup C Satu Poin
Tingkat Pengangguran Remaja di Jakarta Menurun 5 Persen
Berita Terbaru
Polisi Berhentikan Balap Liar Pasuruan, 3 Suspek Ditangkap
Car Free Day Palembang Dukung UMKM, Kurangi Polusi Udara
Tol Prosiwangi Target Operasional Akhir 2026 Sebelum Juli
Indonesia Tampil Tiga Wakil di Final Australian Open 2026
Transmart Sale: AC Sharp 1 PK Diskon 70% Mulai Rp 4.449.000
KCIC Terapkan Tarif Dinamis Whoosh, Harga Terendah Rp250k
Cheddar, Mozzarella, Parmesan: Mana Lebih Sehat Konsumen?
Sambal Bawang Bu Rudy: Pedas Nendang, Mudah Dibuat di Rumah
