Tradisi Tanpa Sembelih Sapi di Kudus: Warisan Sunan Kudus

Bambang W. · 3 min baca · 10 hari lalu · 68 dibaca
Bisik.id
Tradisi Tanpa Sembelih Sapi di Kudus: Warisan Sunan Kudus

Gambar atau konten salah?

Di Kabupaten Kudus, warga telah lama menjaga tradisi tidak menyembelih sapi, khususnya pada hari raya kurban atau Idul Adha. Tradisi ini diyakini berasal dari ajaran Sunan Kudus, salah satu Walisanga yang pernah menyebarkan Islam di wilayah tersebut.

Jafar Sodiq, yang lebih dikenal dengan Sunan Kudus, dikenal sebagai penyebar agama Islam di Kudus dan sekitarnya. Ia juga dikenal menanamkan nilai toleransi melalui kebijakan tidak menyembelih sapi pada hari kurban. Menurut Dosen Sejarah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Semarang, Dr. Syaiful Amin S.Pd., M.Pd, tradisi ini merupakan warisan Sunan Kudus yang berusaha menenangkan warga beragama Hindu yang masih banyak berada di Kudus pada masa itu.

“Toleransi yang diajarkan oleh Sunan Kudus, terkait dengan menjaga tradisi, karena waktu di Kudus masih banyak orang Hindu untuk menghormati toleransi dan menarik simpati, jadi toleransi dan simpati yang sudah ada yakni ajaran Hindu,” ungkap Syaiful dalam percakapan pada 23 Mei 2026.

Menurutnya, Sunan Kudus tidak hanya melarang menyembelih sapi, tetapi juga menganalogikan pengalaman pribadi. Konon, saat sedang berkelana di hutan, Sunan Kudus tersesat dan diselamatkan oleh sekawan sapi. Dari kejadian itu, ia belajar menghormati hewan tersebut. “Dan menarik bahwa Sunan Kudus tidak hanya melarang, tapi juga menganalogikan, pernah ada cerita konon punya peliharaan sapi kemudian ada juga cerita Sunan Kudus pernah tersesat di hutan diselamatkan oleh sekawan rombongan sapi,” jelas Syaiful.

Ia menambahkan, “Jadi meski di Kudus tak ada berupa larangan tapi diikuti dengan cerita yang memang saat itu berperan dalam kehidupan Sunan Kudus.” Tradisi ini masih dijaga, terutama di Kudus Kulon, dekat Menara Kudus. “Tetapi bukan sekadar larangan, tapi menjaga simpati dari umat agama lain di Kudus. Sampai sekarang terutama di Kudus Kulon masih erat memegang tradisi atau petuah tersebut,” tambahnya.

Menurut Syaiful, tradisi ini bukan semata untuk menghormati orang Kudus saat ini, melainkan membentuk identitas Kabupaten Kudus. “Jadi itu zaman dulu masih ada orang Hindu saat itu, dan apakah relevan saat ini, alasan bukan menghormati dan menghargai orang di Kudus saat ini, akan tetapi berupaya cerita itu membentuk suatu identitas yang itu unik di Kudus,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa tradisi ini melindungi nilai toleransi antarumat beragama. “Jadi lebih mempertahankan identitas dan yang kedua untuk menghormati petuah yang pernah diajarkan Sunan Kudus,” jelasnya. “Dan ketiga nilai toleransi yang dijaga tidak sekadar menyembelih sapi tetapi juga makna itu mengajarkan untuk Toleransi, sehingga harapannya sebagian orang di Kudus islam semua, tapi tetap mengembangkan nilai toleransi yang ada di Kudus,” tambahnya.

Di sisi lain, Bupati Kudus, Sam'ani Intakoris, menegaskan bahwa tradisi tidak menyembelih hewan kerbau pada Idul Adha tetap dijaga. Menurutnya, tradisi tersebut merupakan ajaran rasa toleransi dari Sunan Kudus. “Masih ada tradisi sembelih kurban kerbau sebagai hormat tradisi dan toleransi agama. Saling menghormati. Semoga kurban berjalan baik kidmat dan bermanfaat untuk umat Tambahan gizi untuk masyarakat,” ungkapnya.

Dengan latar belakang sejarah yang kaya, warga Kudus terus mengamalkan tradisi ini sebagai bentuk penghormatan terhadap keberagaman. Tradisi tidak menyembelih sapi pada hari kurban menjadi simbol kesatuan dan toleransi yang telah diwariskan sejak zaman Sunan Kudus. Walaupun masyarakat modern, nilai-nilai tersebut tetap hidup, memupuk rasa saling menghormati antarumat beragama di wilayah tersebut.

Sunan KudusKudustradisi tidak menyembelih sapitoleransiIdul AdhaWalisangaIslamHindu

Komentar

Memuat komentar...