Transaksi Pembayaran BI Naik 40,35%, QRIS Mencatat 133%
Gambar atau konten salah?
Bank Indonesia mencatat volume transaksi pembayaran digital mencapai 4,67 miliar pada 01 Februari 2026, menandai kenaikan 40,35 % dibanding tahun sebelumnya. Angka ini mencerminkan peningkatan signifikan dalam adopsi pembayaran melalui platform digital.
Transaksi yang dilakukan lewat aplikasi mobile tumbuh 9,49 % YoY, sementara yang melalui internet naik 22,16 % YoY. Perbedaan pertumbuhan ini menunjukkan bahwa pengguna semakin memilih metode yang lebih cepat dan mudah.
QRIS, sistem pembayaran terpadu, menunjukkan lonjakan 133,20 % YoY. Pertumbuhan ini menandai adopsi luas di antara merchant dan konsumen, memperkuat jaringan pembayaran nasional.
Perkembangan positif ini didukung oleh peningkatan jumlah pengguna dan merchant. Lebih banyak orang menjadi pemilik akun digital, dan lebih banyak toko fisik serta online menambahkan QRIS ke layanan mereka.
Di bidang infrastruktur, BI-FAST memproses 434 juta transaksi pada 01 Februari 2026, naik 31,49 % YoY. Nilai transaksi melalui sistem ini mencapai Rp1,092 triliun, menandai pertumbuhan signifikan dalam transaksi ritel.
Sementara itu, transaksi nilai besar melalui BI-RTGS hanya mencapai 0,76 juta pada 01 Februari 2026, menurun 5,33 % YoY. Meski volume menurun, nilai transaksi tetap tumbuh 9,19 % YoY menjadi Rp16,105 triliun.
Pengelolaan uang Rupiah juga menunjukkan tren positif. Uang Kartal Yang Diedarkan (UYD) naik 15,78 % YoY, mencapai Rp1,287 triliun pada 01 Februari 2026, menandai peningkatan likuiditas nasional.
PT Bank Nationalnobu Tbk, yang dikenal sebagai Nobu Bank, melaporkan perkembangan layanan perbankan digital, agent banking, bancassurance, dan administrasi kredit. Perusahaan ini terus memperluas jaringan merchant QRIS dan agent banking di seluruh Indonesia.
Hingga akhir 31 Desember 2025, Nobu Bank telah melampaui 2 juta merchant QRIS dan memiliki lebih dari 143 ribu agent banking. Jaringan ini memperkuat posisi bank sebagai pemimpin pembayaran digital di Indonesia.
Struktur portofolio kredit bank tetap didominasi oleh kredit konsumer, yang tumbuh 18,23 % YoY dan menyumbang 56,9 % total portofolio pada 31 Desember 2025. Pertumbuhan ini sebagian besar didorong oleh produk KPR Primary.
Bank aktif berpartisipasi dalam program perumahan pemerintah, termasuk Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) dan Kredit Program Perumahan (KUR Perumahan). Skema ini menawarkan proses cepat, suku bunga kompetitif, dan akses luas bagi pengembang, kontraktor, dan industri pendukung.
Rasio keuangan bank tetap sehat. Capital Adequacy Ratio (CAR) tercatat 22,29 %, menunjukkan modal yang kuat untuk mendukung ekspansi. Return on Assets (ROA) berada di 1,67 % dan Return on Equity (ROE) 13,07 %, menandakan efisiensi penggunaan aset dan modal.
Likuiditas bank terjaga dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) 83,68 %. Rasio ini mencerminkan struktur pendanaan yang seimbang dan ruang bagi pertumbuhan kredit di masa depan.
Ke depan, Nobu Bank akan fokus memperkuat ekosistem pembayaran digital, memperluas jaringan merchant, dan menumbuhkan kredit berkualitas di sektor-sektor dengan potensi tinggi. Strategi ini menyesuaikan diri dengan dinamika ekonomi dan digitalisasi layanan keuangan.
Selama FY2025, bank mencatat Laba Bersih sebesar Rp481,3 miliar, meningkat 46,30 % dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan ini menegaskan keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, efisiensi operasional, dan penguatan pendapatan berbasis transaksi.
Total aset bank mencapai Rp41,2 triliun pada 31 Desember 2025, naik 23,67 % YoY. Pencapaian ini menempatkan Nobu Bank di jajaran Top 25 bank swasta nasional.
Data Dana Pihak Ketiga (DPK) menunjukkan Rp28,9 triliun pada 31 Desember 2025, tumbuh 18,76 % YoY. Pertumbuhan ini mencerminkan kepercayaan nasabah yang semakin tinggi terhadap layanan dan produk bank.
Penyaluran kredit mencapai Rp24,2 triliun, naik 20,07 % YoY. Kontribusi utama berasal dari segmen konsumer, khususnya Kredit Pemilikan Rumah (KPR), serta segmen UKM dan mikro.
Pengelolaan risiko tetap prudent. Rasio kredit bermasalah (NPL) tetap rendah di 0,44 % (Gross) dan Rasio CKPN terhadap NPL mencapai 222 %. Kualitas kredit bank tetap terjaga.
Pendapatan berbasis fee meningkat signifikan, menyumbang 16,6 % dari total pendapatan. Peningkatan ini menunjukkan diversifikasi sumber pendapatan di luar bunga pinjaman.
Secara keseluruhan, data menunjukkan bahwa pembayaran digital dan ekosistem fintech di Indonesia berkembang pesat. Bank Nationalnobu Tbk memanfaatkan tren ini dengan memperluas jaringan merchant, meningkatkan layanan digital, dan menjaga kesehatan keuangan melalui rasio modal dan likuiditas yang kuat. Perkembangan ini menandai kemajuan stabil dalam sektor perbankan digital, sekaligus menegaskan peran penting bank dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan inklusi keuangan di Indonesia.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Pemerintah Pertimbangkan Angkat KSPI Said Iqbal ke Kabinet
IHSG Turun 1,70%, Rupiah Jatuh Rp18.049, Tegaskan Kuat
AIC Singapura-HK: 6.000 Investor, 3.000 Pertemuan, Tinjau Makro
PGN Layanan Mata Gratis: 300 Peserta Diperiksa Jakarta
Prabowo Kunjungi Danantara untuk Fokus AI dan Robotik
OJK Panggil Bank Mandiri Taspen atas Penipuan Purwokerto
Berita Terbaru
Jonatan Christie Batalkan Alwi Farhan, Raih Papan Indonesia
Jadwal Salat Denpasar 05 Juni 2026: Subuh, Zuhur, Asar
Jakarta Menang di Short Course, Ade Jona Cita Olimpiade
BMKG Prediksi Cuaca Jawa Timur 5 Juni 2026: Variasi Tinggi
McDonald's Indonesia Gelar Kampanye FIFA World Cup 2026
ORADO Resmi Jadi Anggota KONI, Domino Menjadi Olahraga Nasional
Suporter AS Kekecewa: Tempat Duduk Piala Dunia 2026 Terbagi
Batam Siapkan Jalan & Landfill TPA Telaga Punggur, Rp45,45 M
