Transplantasi Ginjal Pertama di Penang: Donor Non-Kerabat
Gambar atau konten salah?
Lau Jay Lim berusia 35 tahun, seorang programmer dan musisi, terpaksa menjalani cuci darah berkala akibat Chronic Kidney Disease (CKD). Kondisi ini memaksa dia melakukan dialisis jangka panjang, membuatnya harus bolak‑bolak ke rumah sakit dan mengorbankan banyak waktu istirahat.
Suatu hari, Isaac Ho, sahabat Lau yang juga berusia 35 tahun, mendengar kabar tentang penyakitnya. “Ketika saya memberi tahu Isaac tentang hal itu, dia langsung menawarkan untuk mendonorkan ginjalnya,” kata Lau. Ia kemudian menambahkan, “Saya memikirkannya selama satu hari, dan keesokan harinya saya bertanya 'bisakah saya memberikan ginjal saya kepada Anda?'"
Isaac menyatakan bahwa keputusan untuk berdonasi hanya memerlukan waktu singkat. Ia tidak pernah menyebutkan alasan di balik kesediaannya, namun tindakan ini menjadi transplantasi ginjal pertama yang dilakukan di Penang.
Menurut Lau, penyakitnya datang tanpa gejala jelas. Ia tidak merasakan apa‑apa sampai akhirnya terlambat menyadarinya. Konsultan nefrologi Dr Vijaya Ramasamy menilai bahwa kondisi Lau tidak sesuai dengan profil umum pasien gagal ginjal, yang biasanya lebih tua atau memiliki riwayat diabetes maupun hipertensi. Dokter menduga penyakit autoimun sebagai penyebab, meski tidak dapat dipastikan.
Dr Vijaya mengingatkan, “Ketika pertama kali ia datang ke klinik saya, kulitnya pucat, lemah, tekanan darahnya sangat tinggi, hemoglobinnya rendah, dan kondisinya buruk.”
Setelah diagnosis, Lau harus menjalani dialisis yang melelahkan. Tekanan darahnya tetap sulit dikendalikan meski sudah menjalani terapi. Ia sempat mempertimbangkan transplantasi sejak awal, namun tidak ada anggota keluarga yang cocok menjadi donor. Tunangannya memiliki golongan darah berbeda, sehingga tidak dapat dipertimbangkan.
Harapan muncul ketika Lau mengetahui bahwa donor non‑kerabat bisa dilakukan melalui prosedur ketat. Proses tersebut memerlukan serangkaian pemeriksaan medis, psikologis, hingga etika, serta evaluasi oleh komite independen untuk memastikan tidak ada paksaan atau imbalan finansial. Setelah menunggu sekitar tiga bulan, persetujuan akhirnya diberikan oleh Direktur Jenderal Kesehatan Mahathar Abd Wahab.
Operasi dilakukan dalam dua tahap, menurut Dr Sritharan Subramaniam, konsultan urologi sekaligus ahli bedah transplantasi. Pertama, pengambilan ginjal donor melalui prosedur laparoskopi. Kedua, transplantasi ginjal ke tubuh penerima. “Kami melakukan operasi secara berdampingan untuk mengurangi durasi ginjal tanpa suplai darah. Prosedur donor dilakukan secara laparoskopi, yang berarti lebih sedikit rasa sakit, lebih sedikit kehilangan darah, pemulihan lebih cepat, dan bekas luka minimal,” jelasnya.
Operasi donor berlangsung sekitar tiga jam, sementara transplantasi memakan waktu tiga hingga empat jam. Isaac bahkan sudah diperbolehkan pulang setelah tiga hari.
Setelah transplantasi, hasilnya memuaskan. Kadar kreatinin Lau turun drastis dari 1.500–2.000 sebelum operasi menjadi 76 setelah transplantasi, yang termasuk normal. “Untuk seseorang seusianya, transplantasi menawarkan peluang terbaik untuk kembali ke kehidupan yang hampir normal. Dialisis membuat orang tetap hidup, tetapi itu bukan pengganti alami untuk fungsi ginjal,” pungkas Dr Vijaya.
Sejak operasi, Lau masih banyak beristirahat di rumah sambil menjalani pemantauan ketat dan terapi obat imunosupresif harian. Ia melaporkan kondisi pemulihan yang baik, meski masih membutuhkan waktu untuk kembali ke aktivitas sehari‑hari.
Kasus ini menyoroti pentingnya donor ginjal non‑kerabat dan prosedur ketat yang memastikan keamanan dan kesetaraan bagi semua pihak. Transplantasi ginjal di Penang menjadi contoh bahwa kemajuan medis dan kerjasama antarindividu dapat memberikan harapan baru bagi pasien yang sebelumnya terjebak dalam perawatan dialisis yang melelahkan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kasus COVID-19 China Melonjak Tiga Kali Lipat pada Juni 2026
Alasan Australia Tolak Daun Kelor sebagai Pangan Sehari-hari
Gelombang Panas Tewaskan 2.700 Orang di Inggris & Wales
Menu Makan Harry Kane: Salmon, Nasi, dan Salad
Uji Ketajaman Mata: Temukan Objek Tersembunyi
7 Makanan Atasi Wajah Bengkak Tanpa Diet Ekstrem
Berita Terbaru
Webinar AI untuk Riset Akademik: Percepat Skripsi dan Tesis
Menteri Dorong Rektor Naikkan Gaji Dosen
Stella Christie: Kunci RI Kuasai AI Ada di Data
SPP SMA Negeri Jawa Barat Akan Dihidupkan Kembali?
Prabowo Hentikan MBG untuk Anak Orang Kaya
BGN Kaji Libatkan Kantin Sekolah untuk MBG
DPR Desak Penataan Taxiway Bandara Halim
Menkeu Purbaya: Surat Tambahan Anggaran IKN Rp 2,86 T Belum Sampai