Trump Ancam Hancurkan Infrastruktur Iran Jika Hormuz Ditutup
Gambar atau konten salah?
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menegaskan bahwa ia bersedia menghancurkan pembangkit listrik dan jembatan di Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka untuk semua lalu lintas laut. Ia menambahkan bahwa negara tersebut akan hidup dalam neraka jika tidak memenuhi tuntutan ini.
Trump memberi tenggat waktu hingga hari Selasa pukul 20.00 waktu timur AS. Dalam unggahan di media sosial, ia menyoroti hari Selasa sebagai hari di mana pembangkit listrik dan jembatan di Iran akan hancur. Senin (06 April 2026), beberapa jam setelahnya, ia kembali mengunggah waktu spesifik tersebut tanpa penjelasan tambahan. Gedung Putih kemudian menyebut waktu tersebut sebagai batas akhir bagi Iran untuk mencapai kesepakatan dengan AS.
Ancaman ini bukan kali pertama. Trump sebelumnya berulang kali menyatakan akan menghancurkan infrastruktur penting Iran dan bahkan mengancam akan mengembalikan negara itu ke zaman batu jika tidak memenuhi tuntutan AS.
Penghancuran infrastruktur sipil dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang menurut hukum humaniter internasional. Senator AS Tim Kaine mengkritik keras pernyataan Trump, menyebutnya memalukan dan kekanak-kanakan serta berpotensi membahayakan tentara AS di masa depan jika mereka tertangkap.
Kaine menilai bahwa pemerintahan saat ini tidak memiliki rencana yang jelas dalam menghadapi konflik. Ia berpendapat bahwa pernyataan keras seperti itu justru bisa mendorong pihak lawan untuk memperlakukan tentara AS dengan lebih buruk.
Di sisi lain, Iran menunjukkan tidak ada tanda-tanda akan mundur. Negara tersebut justru melancarkan serangan ke target ekonomi dan infrastruktur di negara-negara Teluk. Media pemerintah Iran menayangkan video yang diklaim sebagai bagian dari pesawat militer AS yang ditembak jatuh, disertai gambar asap hitam tebal membubung ke udara.
Iran menyebut telah menembak jatuh satu pesawat angkut dan dua helikopter AS yang terlibat dalam operasi penyelamatan. Seorang pejabat intelijen kawasan yang mengetahui operasi tersebut mengatakan bahwa militer AS justru menghancurkan dua pesawat angkutnya sendiri akibat gangguan teknis, sehingga harus mengerahkan pesawat tambahan untuk menyelesaikan misi.
Ketegangan ini menekankan ketidakpastian di kawasan Teluk. Sementara Trump menegaskan ancaman, Iran tetap memandang ketegangan sebagai peluang untuk memperkuat posisi strategisnya. Di tengah situasi ini, peran diplomasi dan kepatuhan terhadap hukum internasional menjadi kunci untuk menghindari eskalasi lebih lanjut.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Tarif Listrik Tetap 2017, Subsidi Naik Rp201 Triliun
BEI Hadiri Pertemuan Investor Global, Kuatkan Pasar Modal
Purbaya Jelaskan Defisit APBN 3% di Pertemuan S&P Jakarta
AS Pasang Tarif 10% pada Impor Indonesia, Pemerintah Menelaah
Kementerian Perhubungan Realisasi 32,27% Anggaran Tahun 2026
IHSG Turun 2%+; LQ45 Laba Naik 29,9%, Investor Fokus Fundamental
Berita Terbaru
Persaingan Tinggi pada UTBK Plus Unair 2026 Untuk Mahasiswa
Influencer Jakarta Viral Cosplay Disabilitas, Kontroversial
Prabowo Tekankan Standar 8 Potong Ayam MBG, Kumink Jelaskan
Gamelan Bali dan Tarian Tampil di Pagi SF Indo Cita
Wuling Eksion: SUV Plug‑In Hybrid dengan Empat Mode Energi
Indonesia vs Timor Leste: Duel AFF U-19 2026 Live Streaming
Fadia/Tiwi Raih Kemenangan di Perempatfinal Indonesia Open
Debat Tutup Program Studi: Wisnu vs Menteri Yuliarto
