Trump Ancaman Serang Pembangkit Iran, Pasar Minyak Melambung

Ani R. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 47 dibaca
Bisik.id
Trump Ancaman Serang Pembangkit Iran, Pasar Minyak Melambung

Gambar atau konten salah?

Trump mengancam akan menyerang pembangkit listrik Iran jika Teheran tidak membuka Selat Hormuz dalam 48 jam. Ancaman tersebut menambah ketegangan di Timur Tengah dan memicu reaksi pasar global.

Iran menanggapi dengan mengancam akan menyerang infrastruktur energi dan fasilitas desalinasi di Teluk. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan, “Infrastruktur penting serta infrastruktur energi dan minyak di seluruh wilayah akan dianggap sebagai target yang sah dan akan dihancurkan secara permanen, dan harga minyak akan naik dalam waktu yang lama,” katanya di sebuah konferensi pers pada 23 Maret 2026. Ghalibaf juga menargetkan lembaga keuangan yang diduga mendanai militer AS melalui pembelian obligasi pemerintah Washington, menambah ketidakpastian di pasar energi.

Di pasar, harga minyak mentah Brent berada di US$ 111,97 per barel pada pukul 19.16 EST, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di US$ 97,64 per barel. Selisih antara kedua harga ini menandai intensitas krisis minyak yang semakin tajam.

Menurut Chris Verrone, kepala ahli strategi pasar di Strategas Research, “jarak harga antara minyak mentah Brent dan WTI menjadi tanda dari puncak intensitas krisis minyak.” Ia menilai bahwa kenaikan harga Brent memaksa pelaku pasar untuk menganggap konflik Timur Tengah akan berlangsung lebih lama.

Reaksi bursa Asia pada perdagangan Senin sangat tajam. Indeks Nikkei 225 Jepang turun hampir 5 %, sedangkan Topix menurun hingga 4,4 %. Di Korea Selatan, KOSPI jatuh lebih dari 6 % dan Kosdaq turun hampir 5 %. Beberapa bursa Korea bahkan sempat menerapkan trading halt setelah turun lebih dari 5 % beberapa waktu lalu. S&P/ASX 200 Australia melemah 2,4 %, sementara Hang Seng Hong Kong dan CSI 300 turun masing-masing hampir 2 %.

Di pasar berjangka, indeks Dow Jones Industrial Average tetap datar, sedangkan S&P 500 terlepas sedikit dengan koreksi 0,1 %. Nasdaq Composite turun 0,2 %. Ketiga indeks utama AS mengakhiri pekan terakhir dengan koreksi: S&P 500 turun lebih dari 1,5 % dan jatuh di bawah rata‑rata pergerakan 200 hari untuk pertama kalinya sejak Mei. Dow Jones mengalami penurunan beruntun selama empat minggu pertama sejak 2023, sementara Nasdaq turun sekitar 2 % sepanjang perdagangan pekan ini.

Pergerakan harga ini mencerminkan ketidakpastian global yang dipicu oleh potensi konflik militer di Timur Tengah. Pasar energi dan saham di kawasan Asia terpengaruh secara langsung, sementara indeks AS menunjukkan koreksi yang signifikan. Ketegangan geopolitik tetap menjadi faktor utama yang memengaruhi sentimen investor di seluruh dunia.

TrumpHormuzIranminyak Brentketegangan Timur Tengahpasar saham Asiainfrastruktur energi

Komentar

Memuat komentar...