Tumpukan Sampah Rancabentang, Cimahi Mengganggu Lalu Lintas
Gambar atau konten salah?
Jalan Rancabentang di Kelurahan Cibeureum, Kelurahan Cimahi Selatan, Kota Cimahi kini menjadi jalur yang sempit dan berbau tak sedap. Tumpukan sampah rumah tangga, yang sudah dibungkus dengan kresek, menumpuk di depan kantor UPTD Sistem Pengolahan Air Limbah Domestik (SPALD).
Setengah jalan terhalang oleh tumpukan sampah yang belum diangkut selama beberapa hari. Kendaraan harus berganti satu demi satu saat hendak melintas. Bagi warga sekitar, bau tidak sedap dan lalat mengganggu menambah kesan kumuh di daerah tersebut.
“Sudah dua hari menumpuk, belum diangkut-angkut. Memang dikeluhkan warga, soalnya jadi kumuh dan bau juga belum lagi bikin macet apalagi pagi‑pagi,” ucap Riki (54), warga setempat, Senin, 25 Mei 2026.
Ketua RW 26 Kelurahan Cibeureum, Ajid Ago, menjelaskan bahwa tumpukan sampah terjadi karena kesalahan jadwal pengangkutan. Truk sampah milik Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cimahi datang pada Sabtu, 23 Mei, namun tak kunjung tiba.
“Jadi jadwalnya kan harusnya Sabtu (23/5), cuma ternyata kemarin enggak ada. Akhirnya warga menyimpan sampahnya di sini sampai menumpuk,” kata Ajid. Ia menambahkan, “Jadi itu tempat transit saja karena di sini enggak ada TPS. Biasanya sih enggak sampai menumpuk seperti ini, baru kejadian seperti ini sekarang. Jadi kita sudah sampaikan warga untuk melakukan pemilahan sampah,” kata Ajid.
Menurut jadwal pengangkutan, setiap pekan ada dua kali pengangkutan sampah: hari Rabu untuk sampah organik dan hari Kamis untuk sampah anorganik. Tanpa tempat penyimpanan sementara (TPS) di lokasi, tumpukan sampah menjadi masalah.
Wali Kota Cimahi, Ngatiyana, langsung memeriksa penumpukan sampah di depan kantor UPTD SPALD yang berada di bawah Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP). Ia menegaskan bahwa sampah harus segera diangkut.
“Jadi memang informasinya ada kesalahan jadwal, tapi kita sudah minta diangkut. Kita sekarang masih bergantung pada TPA Sarimukti, itu pun sudah dibatasi pembuangannya sehari hanya 14 truk,” kata Ngatiyana. Ia berharap masyarakat dapat membantu mengurangi timbulan sampah dengan memilah sampah organik dan anorganik.
Dalam sehari, rumah tangga di Kota Cimahi dapat menghasilkan sampah hingga 250 ton. “Kita minta warga disiplin memilah sampah, sehingga bisa mengurangi timbulan sampah yang diangkut lalu dibuang ke TPA Sarimukti,” kata Ngatiyana.
Situasi ini menunjukkan pentingnya koordinasi antara warga, RW, dan dinas terkait agar jadwal pengangkutan tetap terjaga. Tanpa pemisahan sampah yang baik, tumpukan di jalan dapat berlanjut, menambah beban lingkungan dan ketidaknyamanan bagi penduduk.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
SDN 2 Salakaria: 32 Murid, 8 Guru, Semangat Belajar Tak Padam
Tasikmalaya Siaga Darurat Kekeringan hingga September
Petani Indramayu Bangga Garap Sawah, Biayai Kuliah Anak Hingga Sarjana
Dedi Mulyadi Temukan 11 Perusahaan Kapur Ilegal di Cipatat
Kebakaran di Ciamis Hanguskan Bangunan Berisi Enam Usaha
Belasan ASN di Pangandaran Bercerai, Judi Online Jadi Pemicu
