Tur Jalan Kaki di Kota Tua Jakarta Menyuguhkan Sejarah

Lina F. · 3 min baca · 3 bulan lalu · 113 dibaca
Bisik.id
Tur Jalan Kaki di Kota Tua Jakarta Menyuguhkan Sejarah

Gambar atau konten salah?

Jakarta, 07 April 2026 – Kawasan Kota Tua Jakarta tetap menjadi magnet bagi para wisatawan. Setiap hari, ribuan orang datang untuk menelusuri lorong‑lorong bersejarah, berfoto di depan bangunan kolonial, atau bersepeda di Taman Fatahillah. Namun kali ini, sebuah kelompok tur jalan kaki gratis menawarkan cara yang lebih dekat dan interaktif untuk menjelajahi tempat itu.

Tur ini dipandu oleh Gilang Ramadhan, seorang pemandu dari Free Guided Tour UPK Kota Tua. Rombongan memulai rute dengan tema "Oud Batavia en Omstreken: Then & Now" pada hari Selasa, 07 April 2026. Tujuannya adalah membawa peserta kembali ke masa silam, khususnya abad ke‑17, ketika kawasan ini menjadi pusat perdagangan paling berpengaruh di dunia, VOC.

Perjalanan dimulai dengan menelusuri latar belakang sejarah Kota Tua. Sebelum peserta tiba, Gilang menampilkan replika sebuah karya seni terkenal. “Ini adalah lukisan Jan Pieterszoon Coen atau JP Coen, Gubernur Jenderal VOC,” ujarnya. Ia mengutip buku Terbitan Komunitas Bambu, Genosida Banda: Kejahatan Kemanusiaan Jan Pieter Szoon Coen. Menurut buku tersebut, sekitar 1619, JP Coen menginstruksikan tentara VOC untuk menghancurkan Kota Jayakarta. Di atas reruntuhan itu, ia mendirikan kota baru bernama Batavia.

Gilang menambahkan, “Nama Kota Batavia itu diambil dari nama etnis orang Belanda yaitu etnis Batavi. Mereka asalnya dari Jerman dan dianggap sebagai nenek moyangnya orang Belanda,” katanya. Dari titik nol inilah, VOC membangun pusat pemerintahannya yang kala itu membentang sangat luas hingga ke Pelabuhan Sunda Kelapa, gerbang internasional utama Batavia.

Untuk membantu peserta membayangkan, Gilang memperlihatkan peta visual Batavia dari tahun 1700‑an. Beberapa arsip tata kota pada era 1800‑an yang ditunjukkan ternyata merupakan karya Johannes Rach, seorang anggota militer asal Denmark yang menetap di Batavia pada masa itu.

Selama rute, pemberhentian paling menarik adalah di depan gedung yang kini dikenal sebagai Museum Seni Rupa dan Keramik. Sebelum dipenuhi karya seni, gedung megah bergaya arsitektur klasik dengan pilar‑pilar besar ini menyimpan sejarah yang cukup kelam. “Gedung ini dulunya adalah Raad van Justitie atau Gedung Departemen Kehakiman. Didirikan 1866 dan selesai dibangun 1870, arsiteknya bernama Van Raders,” jelas Gilang.

Pada 1943, seiring dengan pendudukan Jepang atas Indonesia, fungsi bangunan ini mengalami perubahan yang signifikan. “Gedung pengadilan ini, alih‑alih menjalankan peran aslinya sebagai tempat persidangan, diubah menjadi asrama (dorm) bagi tentara Jepang. Pada saat yang sama, warga negara Belanda dan mantan pejabat yang pernah memegang kekuasaan ditahan di kamp‑kamp penahanan. Dalam perjalanan sejarah, setelah kemerdekaan, bangunan ini tidak langsung berubah menjadi museum. Pada 1962, bangunan dari masa kolonial Belanda ini sempat digunakan sebentar sebagai Balai Kota, khususnya Kantor Wali Kota, untuk Jakarta Barat di tengah‑tengah pemerintahan kota yang baru terbentuk. Apa yang menyebabkan transformasinya menjadi museum seni?” tanya Gilang.

Ia menjawab, “Setelah selesai menjadi kantor wali kota, sekitar tahun 1970‑an tempat ini diresmikan sebagai Balai Seni Rupa,” sambil menunjukkan catatan sejarah. Museum Seni Rupa dan Keramik sebelumnya memiliki sebuah aula yang didedikasikan untuk pertunjukan dan memamerkan koleksi lukisannya. Tak lama setelah itu, lembaga ini menerima sumbangan keramik dalam jumlah besar dari Asosiasi Keramik Indonesia. Pada era 1980‑an, Pemerintah Provinsi Jakarta pada era Gubernur Ali Sadikin mengambil langkah signifikan untuk menghargai sumbangan berharga itu dengan mengubah citra dan menggabungkannya menjadi apa yang kini dikenal sebagai Museum Seni Rupa dan Keramik.

Para traveler yang tertarik menjelajahi sisa‑sisa kemegahan Raad van Justitie sambil menikmati karya seni akan menemukan museum ini buka hingga pukul 15.00 dari Selasa hingga Jumat dengan biaya Rp 10.000 per orang. Bagi yang mencari pengalaman yang lebih santai di malam hari, pertimbangkan untuk berkunjung pada akhir pekan ketika museum memperpanjang jam operasionalnya hingga pukul 20.00 dengan biaya Rp 15.000 per orang.

Menjelajahi Kota Tua tetap tak pernah membosankan ketika kita menyadari kisah‑kisah yang terjalin dalam dinding‑dinding kuno yang kokoh. Setiap bangunan, setiap lorong, menyimpan narasi tentang masa lalu yang memengaruhi masa kini. Apakah Anda berencana mengikuti tur sejarah yang menarik ini pada akhir pekan ini, traveler?

Dengan pendekatan yang lebih personal, tur jalan kaki gratis ini tidak hanya mengajarkan sejarah, tetapi juga mengajak peserta merasakan atmosfer Kota Tua secara langsung. Dari lukisan JP Coen hingga transformasi gedung menjadi museum, setiap langkah membawa penjelajah lebih dekat pada cerita yang tersembunyi di balik batu bata dan kayu tua.

Keseluruhan pengalaman ini menegaskan bahwa Kota Tua Jakarta bukan sekadar tempat berfoto, melainkan ruang hidup sejarah yang masih berdenyut. Melalui panduan yang cermat dan narasi yang terstruktur, para pengunjung dapat memahami evolusi kota ini, dari kedudukan kolonial hingga kebudayaan kontemporer yang kaya.

Kota Tua JakartaTur Jalan Kaki GratisVOCMuseum Seni Rupa dan KeramikJan Pieterszoon CoenArsitektur BelandaFree Guided Tour UPK Kota Tua

Komentar

Memuat komentar...