Turasma, 75 Tahun, Nikmati Jutaan Rupiah dari Sampah
Gambar atau konten salah?
Aroma tajam yang menyengat tercium di antara tumpukan sampah dan lalat yang beterbangan di TPA Purbahayu. Turasma, seorang pemulung berusia 75 tahun, tetap semangat memilah botol plastik sendiri. Ia telah tinggal dan bekerja di tempat itu sejak era tahun 2000‑an. Hingga kini, ia masih aktif memisahkan sampah dan mencari barang berharga yang tidak sengaja terbuang oleh masyarakat.
Menurut Turasma, ia telah beberapa kali menemukan perhiasan emas, mulai kalung, cincin, hingga batangan emas seberat 5 gram. Ia menyatakan dirinya telah menjalani profesi pemulung botol plastik selama hampir 25 tahun. “Dulu kan TPA pindah‑pindah dari mulai Wonoharjo sampai sekarang di Purbahayu saya ikuti terus,” ucapnya pada 21 Mei 2026.
Ia menjelaskan bahwa pendapatannya berasal dari hasil memilah sampah buangan. “Kan sampah buangan juga beragam ada botol plastik, kardus dan perabot yang masih layak juga banyak,” katanya. Dalam satu bulan, ia mampu mengumpulkan puluhan ton botol plastik. Harga pasar saat ini sebesar Rp 1.500 per kilogram. “Kalau dihitung puluhan ton ada yang dijual. Estimasi bisa dapet Rp 40 juta aja sebulan,” ujarnya.
Namun, ia tidak menyimpan semua pendapatan. Ia membagikan sebagian kepada orang-orang yang membantunya. “Kan kami juga berdayakan yang bantu cari sampah di sini,” katanya. Menurutnya, setiap pekerja yang membantu, baik yang masih produktif maupun yang sudah lanjut usia, bisa mendapatkan penghasilan berkisar antara Rp 500 ribu hingga Rp 2 juta per orang. “Kan ada yang jual mandiri ada juga yang kelompok,” tambahnya.
Selain itu, Turasma juga memperoleh pendapatan tambahan dari sumbangan sukarela atau uang sawer dari pengunjung yang datang ke lokasi. Ia bahkan mengklaim bahwa total emas yang ia temukan dari tumpukan sampah telah mencapai hitungan kilogram. “Banyak udah nggak terhitung, kayaknya kiloan ada kalau dijumlah semua,” kata dia.
Ia mengungkapkan rasa syukurnya atas rezeki tersebut. “Buat apa malu, mendingan cari uang dari sampah dan berkah halal meski kotor‑kotoran. Daripada cari uang dengan cara kotor,” ucapnya. Melalui profesinya di TPA tersebut, Turasma telah membesarkan dan menghidupi keluarganya selama puluhan tahun.
Meskipun menyadari risiko penyakit dan tetanus, ia kini lebih waspada dengan selalu mengenakan sepatu bot saat bekerja. “Sekarang mah pakai sepatu bot karena bahaya juga, hati‑hati. Bahkan setiap hari menghirup racun itu sudah risiko,” katanya.
Turasma menunjukkan bahwa meski pekerjaan ini penuh tantangan, ia tetap optimis. Ia menekankan pentingnya kerja keras dan berbagi. Pengalaman hidupnya memberi contoh bahwa peluang dapat ditemukan di tempat yang tak terduga, dan bahwa kesederhanaan serta ketekunan dapat menghasilkan rezeki yang cukup memadai.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Kebakaran Hutan Sumsel: 3,5 Hektare Terbakar, Tim Helikopter
Pemerintah Rencanakan Investasi Energi Terbarukan 2025 Tahun
Gelombang 2,5m ke Nias, Risiko Pelayaran Meningkat
Jawa Barat Jamin Biaya Sekolah Swasta bagi PCMB 2026
Satpol PP Bongkar Garasi Viral di Trotoar Jalan Ambon
Maroko-Brasil 1-1 di New Jersey: Gol Saibari dan Junior
Pemkot Palembang Dorong Warga Laporkan Jukir Parkir CFD
Alwi Farhan Juara Tunggal Putra Australian Open 2026
Putri Thailand Bajrakitiyabha Meninggal, Pemakaman Resmi
PDIP Gelar Peringatan Bung Karno, Patung Baru di Istana
