UGM Ujicoba Guru Besar: Edi dan Tutik Terpilih, Pasangan

Ani R. · 3 min baca · 3 bulan lalu · 127 dibaca
Bisik.id
UGM Ujicoba Guru Besar: Edi dan Tutik Terpilih, Pasangan

Gambar atau konten salah?

Prosesi pengukuhan Guru Besar di Universitas Gadjah Mada (UGM) berlangsung pada Kamis, 04 September 2026. Acara itu diadakan di Balai Senat, Gedung Pusat UGM, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan menandai pencapaian akademik tertinggi bagi dua profesor yang sekaligus menjadi pasangan suami-istri.

Pasangan tersebut adalah Prof Drs Edi Winarko, MSc, PhD dan Prof Dra Tutik Dwi Wahyuningsih, PhD, keduanya berasal dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA). Pada hari itu, keduanya dikukuhkan secara bersamaan sebagai Guru Besar di UGM.

Prof Edi memperoleh gelar Guru Besar bidang Ilmu Rekayasa, sementara Prof Tutik mendapatkan gelar Guru Besar bidang Ilmu Kimia. Keduanya memegang posisi yang sangat dihormati dalam dunia akademik, dan pengukuhan ini menegaskan komitmen mereka terhadap penelitian dan pengajaran.

Selama pidato pengukuhan, Prof Edi menyampaikan terima kasih kepada rekan-rekan dan pasangan hidupnya. “Ungkapan terima kasih yang paling tulus saya persembahkan kepada istri saya, Prof Tutik Dwi Wahyuningsih, atas kasih sayang, dukungan, motivasi, serta pengertian yang senantiasa diberikan sepanjang perjalanan kehidupan dan karier saya,” ujarnya, dikutip dari laman UGM, Jumat (10 April 2026).

Prof Tutik juga mengungkapkan apresiasi kepada suaminya. “Akhirnya, terima kasih yang sebesar-besarnya kepada suami tercinta, Prof Drs Edi Winarko, MSc, PhD yang selalu memberikan ridho, doa, dan dukungan penuh dalam setiap langkah perjalanan karier ini. Dukungan dan pengertiannya menjadi sumber kekuatan yang memungkinkan saya untuk selalu terus berkarya,” tuturnya.

Dalam pidatonya, Prof Edi membawakan orasi ilmiah berjudul Data Berkualitas, Al Berdaya: Pentingnya Pendekatan Data-Centric dalam Penerapan Kecerdasan Buatan di Dunia Nyata. Ia menyoroti pergeseran paradigma dari model-centric ke data-centric dalam pengembangan kecerdasan buatan.

Ia menegaskan, “Sepanjang sejarah pengembangannya, kemajuan dalam kecerdasan buatan secara fundamental didorong oleh paradigma model-centric, di mana evolusi dicapai melalui inovasi pada algoritma dan arsitektur model,” paparnya. Ia juga menambahkan, “Kinerja sistem kecerdasan buatan sangat bergantung pada kualitas data latih. Dua model yang identik dapat menghasilkan keluaran dan kualitas yang sangat berbeda jika dilatih dengan data yang berbeda,” jelasnya.

Prof Edi menekankan bahwa pendekatan data-centric tidak menggantikan model-centric, melainkan melengkapinya. “Data-centric Al tidak menggantikan model-centric Al, melainkan melengkapinya,” tutur Edi. Ia mengibaratkan data sebagai bahan bakar yang esensial bagi mesin canggih, sehingga tanpa data berkualitas, model AI tidak akan berfungsi optimal.

Di sisi lain, Prof Tutik menyampaikan orasi berjudul Pirazolina sebagai Platform Molekul Multifungsi: Sintesis, Aktivitas Antikanker, dan Aplikasinya sebagai Kemofluorosensor Selektif. Ia menyoroti potensi senyawa pirazolina dalam bidang kesehatan dan teknologi sensor.

Prof Tutik menjelaskan bahwa sintesis organik adalah fondasi penting dalam mengembangkan molekul modern. Ia mengibaratkan proses tersebut sebagai arsitektur dunia molekul yang memerlukan kreativitas tinggi. Penelitiannya fokus pada senyawa heterosiklik pirazolina, yang memiliki cincin lima anggota dengan unsur nitrogen.

Ia menambahkan, “Pirazolina merupakan senyawa heterosiklik dengan cincin lima anggota yang mengandung nitrogen. Dan itu menjadikannya memiliki berbagai aktivitas farmakologis, seperti antimikroba, antikanker, antiinflamasi, dan antioksidan,” papar Tutik. Ia juga menyatakan bahwa turunan pirazolina menunjukkan aktivitas sitotoksik yang menjanjikan terhadap sel kanker, membuka peluang pengembangan obat dengan efek samping rendah.

Prof Tutik mengakui bahwa senyawa ini juga berpotensi menjadi kemofluorosensor, karena sifat fluoresensinya memungkinkan deteksi zat tertentu secara sensitif dan selektif. Ia menekankan, “Senyawa turunan pirazolina memiliki prospek yang menjanjikan di dalam pengembangan obat antikanker maupun kemofluorosensor. Namun, masih menghadapi beberapa tantangan, antara lain optimasi selektivitas dan pemahaman mekanisme interaksi molekuler,” ujarnya.

Acara ini menampilkan kombinasi antara pencapaian profesional dan dukungan pribadi. Keduanya tidak hanya berkontribusi pada ilmu pengetahuan, tetapi juga menunjukkan bagaimana kolaborasi dalam kehidupan pribadi dapat memperkuat dedikasi akademik. Dengan fokus pada data berkualitas dan inovasi molekuler, kedua profesor menegaskan arah penelitian yang berorientasi pada solusi praktis dan aplikatif.

Guru BesarUGMdata-centrickecerdasan buatanpirazolinamolekul antikankerkemofluorosensor

Komentar

Memuat komentar...