UNAIR Raih Penghargaan Simpul Jaringan Terbaik Nasional 2026
Gambar atau konten salah?
Universitas Airlangga (UNAIR) di Jakarta baru saja menerima Simpul Jaringan Terbaik Nasional Kategori Perguruan Tinggi Tahun 2026 dari Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Penghargaan ini diberikan karena keberhasilan UNAIR dalam menerapkan Sistem Informasi Kearsipan Nasional (SIKN) yang dinilai unggul dan memenuhi standar nasional.
Penghargaan tersebut diserahkan langsung kepada Prof Dr Radian Salman, Direktur Sumber Daya Manusia, Manajemen Talenta, dan Pengembangan Organisasi UNAIR, di kantor ANRI di Jakarta. Radian Salman menerima penghargaan tersebut dengan senyuman, menandai momen penting bagi universitas yang terus berupaya meningkatkan tata kelola arsip.
Merespons pencapaian ini, Prof Dr Dwi Setyawan, Sekretaris Universitas Airlangga, menegaskan bahwa bagi UNAIR, penghargaan ini bukanlah tujuan akhir. Ia menuliskan, “Penghargaan itu bukan tujuan, melainkan ini adalah apresiasi yang diberikan oleh ANRI kepada UNAIR yang melaksanakan tugas kearsipan dengan sebaik-baiknya. Prestasi ini menjadi pemicu bagi UNAIR untuk lebih baik lagi dalam mengelola kearsipan universitas, kita juga harus mengatur arsip-arsip statis dan dinamis dengan baik,” ujar Prof Dwi, dalam keterangan tertulis, Jumat (22/5/2026).
Prof Dwi menekankan bahwa penghargaan tersebut merupakan bentuk apresiasi nyata atas dedikasi dan kontribusi seluruh sivitas akademika. Ia menambahkan bahwa esensi utama kearsipan yang baik adalah dapat mempertanggungjawabkan seluruh aktivitas yang terekam di dalam arsip kepada masyarakat, serta menjamin kemudahan akses informasi bagi publik.
Dalam beberapa tahun terakhir, UNAIR telah memfokuskan upaya inovasi digitalisasi arsip. Program unggulan utama adalah digitalisasi arsip dengan mengkategorikan dokumen dan menghubungkannya menjadi satu data terintegrasi. Menurut Prof Dwi, keunggulan tata kelola kearsipan di UNAIR didukung oleh ekosistem solid, mulai dari regulasi kuat, kesiapan sumber daya manusia di setiap unit kerja dan fakultas, pemenuhan sarana dan prasarana yang memadai, hingga dukungan anggaran dan kebijakan konsisten.
Sebagai wujud keterbukaan informasi, UNAIR juga membuka Museum Digital Arsip di Gedung Airlangga Sharia & Entrepreneurship Education Center (ASEEC). “Lewat program ini, masyarakat umum dapat mengakses secara langsung berbagai informasi historis dan administratif penting yang mereka butuhkan,” ungkap Prof Dwi. Museum ini menjadi platform bagi publik untuk melihat arsip-arsip penting secara digital, memperkuat transparansi dan akuntabilitas.
Perjalanan meraih penghargaan nasional tidak terlepas dari tantangan berat. Prof Dwi memaparkan dinamika operasional kampus, termasuk beberapa kali perpindahan gedung yang sempat mengakibatkan hilangnya beberapa arsip asli. Tantangan kedua adalah kerumitan dalam melakukan digitalisasi serta membangun sistem kearsipan yang benar-benar terintegrasi antar-unit. Namun, berkat upaya penuh dari pimpinan universitas dan kerja sama seluruh pihak, tantangan tersebut berhasil dilewati secara bertahap.
Gerakan kolektif kini terus dibangun, mulai dari unit kerja, fakultas, hingga bidang kearsipan UNAIR, demi menumbuhkan kesadaran bersama akan pentingnya menjaga keaslian dokumen dan memastikan dokumen tersebut mudah diakses kembali sewaktu-waktu. Penilaian objektif dari ANRI mempertegas pandangan bahwa menata arsip dengan baik kini telah menjadi kebutuhan mendasar bagi UNAIR. Ke depan, setiap program kerja yang dirancang oleh UNAIR diharapkan dapat langsung terkoneksi dan mendukung penguatan sistem kearsipan nasional.
“Sesuai dengan visi ‘UNAIR Berdampak’, kemampuan menyajikan informasi kearsipan yang valid dan tepercaya kepada publik dinilai sebagai salah satu indikator nyata kebermanfaatan universitas bagi masyarakat luas,” pungkas Prof Dwi. Penekanan ini menegaskan bahwa keberhasilan dalam kearsipan tidak hanya sekadar administratif, melainkan juga kontribusi nyata bagi masyarakat.
Penghargaan ini menandai langkah penting UNAIR dalam memperkuat sistem kearsipan nasional. Dengan fokus pada digitalisasi, integrasi data, dan keterbukaan informasi, universitas menempatkan diri sebagai contoh bagi perguruan tinggi lain dalam memanfaatkan arsip sebagai aset strategis. Ke depan, UNAIR berencana memperluas program museum digital dan meningkatkan kolaborasi lintas unit untuk memastikan arsip tetap relevan dan dapat diakses oleh semua pihak.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Alumni ITB 2018: Waktu Tunggu Kerja dan Wirausaha Singkat
Furtasan Usulkan PTN Seleksi Mahasiswa Hanya Dua Jalur
122 Program Studi Tutup Akhir 2026, Menteri Jelaskan Alasan
UB SNBT 2026: 5.842 Lolos dari 82.613 Pilihan, Ketat
Helm Cerdas ITB Tuntun Pendeteksi Kelelahan Motor
Strip Tes Minyak Babi: Alat Praktis Deteksi Halal Rutin
Berita Terbaru
Embolo Hadapi Visa Darurat, Swiss Siap Piala Dunia 2026 Cepat
Real Madrid Siap Tambah Bek: Konate, Dumfries, Mourinho
Pasangan Ganda Putri Raih Kemenangan di Indonesia Open 2026
Cisco Luncurkan Foundry Security Spec untuk Keamanan AI
PMDSU 2026: Beasiswa Magister‑Doktor Terbuka, Nambah Riset
BP3D Luncurkan Program Infrastruktur di Daerah Jauh
Menteri Keuangan: Rupiah Menurun, BI Jaga Stabilitas
