Universitas Pertahanan RI Gelar Aksi Pencegahan OOT
Gambar atau konten salah?
Universitas Pertahanan Republik Indonesia menggelar kegiatan Aksi Nasional Pencegahan Penyalahgunaan Obat-Obat Tertentu (OOT) dan Training of Trainer (TOT) Cegah Penyalahgunaan Obat dan Makanan Terlarang (CEPOT) di Ruang Theater Auditorium Kampus Bela Negara Universitas Pertahanan RI, Kawasan IPSC Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Acara ini diselenggarakan pada hari ini dengan tujuan memperkuat edukasi dan kolaborasi lintas sektor dalam menanggulangi penyalahgunaan obat-obatan tertentu.
Inisiasi kegiatan ini datang dari Prof Dr apt Yahdiana Harahap, M.S., Dekan Fakultas Farmasi Militer Universitas Pertahanan RI. Ia menegaskan bahwa program ini merupakan wujud komitmen institusi terhadap upaya nasional pencegahan penyalahgunaan OOT, seperti Tramadol, Trihexypenidil, Clorpromazin, Amitriptilin, Dekstromethorphan, Haloperidol, dan Ketamin. Pendekatan yang diambil meliputi penguatan edukasi, kerja sama lintas sektor, dan pemberdayaan masyarakat.
Perubahan pola penyalahgunaan obat menjadi perhatian serius. Penyalahgunaan OOT semakin meningkat karena obat-obatan ini lebih mudah diperoleh dan harganya lebih murah dibandingkan narkotika dan psikotropika. Dampaknya tidak hanya pada kesehatan, tetapi juga pada keamanan sosial dan masa depan generasi muda. Prof dr Taruna Ikrar, M.Biomed, Ph.D., Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM RI), menegaskan bahwa penyalahgunaan OOT bukan sekadar masalah kesehatan, melainkan ancaman bagi kualitas sumber daya manusia bangsa.
Di sisi lain, Letjen TNI (Purn) Dr Anton Nugroho, M.M.D.S., M.A., Rektor Universitas Pertahanan RI, menekankan bahwa keberhasilan program pencegahan tidak hanya bergantung pada penegakan hukum. Edukasi dan keteladanan sosial juga berperan penting. Ia menyoroti peran guru, dosen, tenaga kesehatan, tokoh agama, keluarga, komunitas, dan media dalam menciptakan lingkungan yang sehat dan aman bagi generasi muda.
Acara ini menampilkan rangkaian kegiatan yang meliputi laporan pelaksanaan yang disampaikan oleh Jeffeta Pradeko Putra, S.Farm., M.Si. Setelah itu, para pejabat memberikan sambutan, menandatangani komitmen lintas sektor, dan mengadakan konferensi pers. Materi edukasi tentang penyalahgunaan OOT disampaikan, diikuti oleh sesi sharing dan pelaksanaan TOT CEPOT kepada peserta.
TOT CEPOT dirancang sebagai program edukasi yang memperkuat sinergi antara BPOM, Pemerintah Kabupaten Bogor, akademisi, dan masyarakat. Tujuannya adalah mencegah penyalahgunaan obat-obatan tertentu, meningkatkan edukasi terkait dampak sosial seperti tawuran dan kekerasan terhadap perempuan dan anak, menurunkan angka penyalahgunaan obat, serta meningkatkan kewaspadaan nasional terhadap bahaya OOT.
Partisipan sekitar 260 orang hadir di acara ini. Mereka berasal dari kalangan akademisi, OPD pemerintah daerah, lembaga, asosiasi profesi, komunitas, media, dan pelajar. Target utama program TOT CEPOT adalah menciptakan minimal 200 trainer. Para trainer ini nantinya akan menyebarkan edukasi langsung kepada masyarakat dan lingkungan pendidikan, khususnya SMP dan SMA.
Acara ini juga dihadiri oleh pejabat pemerintah pusat dan daerah, akademisi, aparat penegak hukum, organisasi profesi, komunitas, media, serta pelaku usaha. Kehadiran Letjen TNI (Purn) Dr Anton Nugroho, M.M.D.S., M.A., Prof dr Taruna Ikrar, M.Biomed, Ph.D, H. Ade Ruhandi, S.E. (Jaro Ade), dr Devi Maryori, MKM, dan H Eko Prabowo, AP., M.Si. (dpy/up) menambah legitimasi acara ini.
Melalui kegiatan ini, diharapkan tercipta kesadaran bersama mengenai pentingnya penggunaan obat secara aman dan bertanggung jawab. Kolaborasi berkelanjutan antara lembaga pemerintah, akademisi, dan masyarakat diharapkan dapat mengurangi penyalahgunaan OOT, sehingga masyarakat menjadi lebih sehat, aman, dan bebas dari dampak negatif obat-obatan tertentu.
Perlu dicatat bahwa penyalahgunaan OOT masih menjadi masalah kompleks yang memerlukan pendekatan multi sektor. Keterlibatan berbagai pihak, mulai dari tenaga kesehatan hingga media, menjadi kunci dalam membangun kesadaran generasi muda. Program TOT CEPOT, dengan target 200 trainer, diharapkan dapat memperluas jangkauan edukasi dan menurunkan angka penyalahgunaan obat di tingkat lokal dan nasional.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kasus COVID-19 China Melonjak Tiga Kali Lipat pada Juni 2026
Alasan Australia Tolak Daun Kelor sebagai Pangan Sehari-hari
Gelombang Panas Tewaskan 2.700 Orang di Inggris & Wales
Menu Makan Harry Kane: Salmon, Nasi, dan Salad
Uji Ketajaman Mata: Temukan Objek Tersembunyi
7 Makanan Atasi Wajah Bengkak Tanpa Diet Ekstrem
