UNS Terapkan WFH Setiap Jumat, Fokus Kurangi Emisi & Energi

Fajar H. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 84 dibaca
Bisik.id
UNS Terapkan WFH Setiap Jumat, Fokus Kurangi Emisi & Energi

Gambar atau konten salah?

Universitas Sebelas Maret (UNS) mulai menerapkan kebijakan Work From Home (WFH) pada hari 10 April 2026 untuk mengurangi konsumsi energi dan emisi gas kendaraan di lingkungan kampus. Kebijakan ini berlaku setiap hari Jumat dan bertujuan menyesuaikan pola kerja dan penyelenggaraan kegiatan akademik dengan kebutuhan efisiensi energi.

Surat Edaran Nomor 9/UN27/SE/2026 menjelaskan penyesuaian pola kerja bagi pegawai dan penyelenggaraan kegiatan akademik. Rektor Prof Hartono menyatakan bahwa surat edaran ini menindaklanjuti Surat Edaran Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Nomor 2 Tahun 2026 tentang penyesuaian pola kerja di lingkungan kementerian. Menurutnya, kebijakan ini didasarkan pada edaran menteri dan menegaskan bahwa hari Jumat akan diatur sebagai hari WFH.

Pelaksanaan WFH di UNS tidak bersifat menyeluruh. Kegiatan perkuliahan yang dapat dilakukan secara daring akan diarahkan ke platform online, sementara mata kuliah yang memerlukan interaksi tatap muka tetap dilaksanakan secara luring. Praktikum, laboratorium, kuliah lapangan, dan kegiatan lain yang memerlukan fasilitas fisik tetap dijadwalkan secara luring sesuai jadwal yang telah ditetapkan sebelumnya.

Di antara mahasiswa, Junko Jurdan, mahasiswa Teknik Mesin Fakultas Teknik, menilai kebijakan ini memiliki dampak positif terhadap lingkungan. “WFH adalah salah satu solusi kampus untuk mendukung ramah lingkungan, yaitu mengurangi emisi gas kendaraan di wilayah kampus serta mengurangi konsumsi bahan bakar fosil yang semakin menipis,” ujar Junko kepada pihak media pada 8 April 2026. Ia mengapresiasi upaya kampus untuk mendukung keberlanjutan lingkungan di area kampus.

Namun Junko juga mencatat beberapa kelemahan. “Di sini kami juga memandang poin minusnya, untuk WFH pembelajaran mata kuliah sendiri itu dinilai kurang efektif. Karena jika dibandingkan dengan kuliah secara offline pembelajaran WFH cukup sulit untuk dipahami dan mudahnya terdistraksi oleh hal di luar pembelajaran,” ungkapnya. Ia menambahkan, “Selain itu, jika dinilai dari efektifitas UKM dan Ormawa, kontak secara langsung atau tatap muka juga mempermudah komunikasi,” sambungnya. Menurutnya, pembelajaran jarak jauh menantang bagi program studi teknik yang sangat bergantung pada interaksi langsung.

Junko menjelaskan bahwa meskipun kebijakan WFH berlaku untuk perkuliahan teori, praktikum di Laboratorium Teknik Mesin tetap dilaksanakan secara luring. “Untuk jadwal praktikum tetap dilaksanakan sesuai jadwal luring. Kebetulan angkatan saya jadwal praktikum wajibnya di hari Jumat,” jelasnya. Ia menyayangkan adanya pembatasan waktu yang membuat diskusi kelompok menjadi tidak maksimal. “Walau praktikum tetap jalan offline, waktu efektif untuk berdiskusi kelompok tidak maksimal karena adanya pembatasan waktu yang sudah ditentukan,” tambahnya.

Di sisi lain, Aiko Salsabila Fuadah, mahasiswi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan angkatan 2024, menganggap kebijakan ini membawa angin segar, terutama dari segi efisiensi waktu dan biaya. “Menurutku WFH di lingkungan kampus cukup membantu ya, karena lebih efisien dari segi waktu dan biaya buat ke kampus. Apalagi buat mahasiswa yang PP, bisa hemat tiga bensin tiga hari,” tuturnya. Ia menekankan bahwa mahasiswa yang biasanya menempuh perjalanan pulang-pergi akan menghemat bahan bakar dan waktu.

Aiko juga melihat dampak positif bagi pengembangan diri mahasiswa. “WFH juga bikin kita sebagai mahasiswa jadi melek teknologi karena terbiasa pakai dan dituntut buat belajar lebih (soal teknologi),” tuturnya. Ia menilai bahwa sistem pembelajaran jarak jauh mendorong adaptasi terhadap perangkat digital dan meningkatkan kompetensi teknologi.

Meski merasakan manfaatnya, Aiko menekankan pentingnya menjaga kualitas materi agar tidak kalah dengan sistem luring. “Tinggal gimana cara pelaksanaannya aja biar bisa tetep berdampak efektif selayaknya pembelajaran yang dilakukan secara luring,” ungkapnya. Ia menyoroti bahwa tantangan utama saat ini adalah memastikan materi tetap relevan dan interaktif meski disampaikan secara daring.

Menanggapi kekhawatiran terkait jadwal praktikum, Aiko mengaku beruntung. “Semester lalu ada (praktikum), tapi buat semester ini jadwal praktikum kosong di hari Jumat, jadi nggak mengganggu,” pungkasnya. Ia menegaskan bahwa kebijakan WFH tidak mengganggu jadwal praktikum semester ini karena tidak ada benturan pada hari Jumat.

Secara keseluruhan, kebijakan WFH di UNS menandai langkah kampus menuju efisiensi energi dan keberlanjutan lingkungan. Mahasiswa menanggapi kebijakan ini dengan pandangan yang beragam: sebagian mengapresiasi manfaat lingkungan dan efisiensi waktu, sementara yang lain menyoroti tantangan dalam efektivitas pembelajaran dan komunikasi langsung. Rektor menegaskan bahwa kebijakan ini didukung oleh edaran menteri dan diharapkan dapat berjalan lancar tanpa mengorbankan kualitas pendidikan.

Kerja dari RumahUNSefisiensi energiemisi gas kendaraankegiatan akademik daringpraktikum luringkeberlanjutan lingkungan

Komentar

Memuat komentar...