Urban Compost Bali Layanan Pengomposan Sampah Naik 25%
Gambar atau konten salah?
Urban Compost Bali beroperasi di Desa Darmasaba, Kecamatan Abiansemal, Badung, Bali, menawarkan solusi bagi warga yang ingin mengolah sampah organik namun terbatas oleh lahan dan waktu. Layanan ini mengubah sisa makanan dan potongan dahan menjadi kompos alami lewat sistem berlangganan.
Menurut I Komang Andhika Putra, General Manager Urban Compost Bali, “Masalah dari member biasanya mereka tidak punya tempat untuk mengompos dan juga tidak ada waktu karena memelihara bakteri pengurai itu perlu ketelatenan. Kami yang mengambil sampah warga untuk dijadikan media kompos atau pupuk alami.” Ia menjelaskan hal ini di Jalan Tanah Putih Darmasaba beberapa waktu lalu.
Member rumah tangga diwajibkan berlangganan minimal tiga bulan. Mereka menerima ember 8 liter, sedangkan restoran mendapatkan ember 20 liter. Selain ember, tim lapangan menjemput sampah secara rutin: satu kali seminggu untuk rumah tangga dan hingga tiga kali seminggu bagi pelaku bisnis. “Untuk rumah tangga kami ambil seminggu sekali tergantung rutenya, sedangkan resto bisa sampai tiga kali pickup tergantung jarak dan kelas membernya. Ember yang penuh akan ditukar dengan yang bersih, sistemnya mirip tukar galon karena semua wadah kami cuci dulu sebelum dikembalikan ke member,” kata Andhika.
Perubahan kebijakan pada 01 April 2026 menutup pembuangan sampah organik ke TPA Regional Suwung memicu lonjakan antusiasme warga Denpasar dan sekitarnya. Jumlah member rumah tangga naik 25 persen, dari 57 menjadi 120 orang. Pendaftaran ditutup sementara pada 09 April 2026 karena daftar tunggu mencapai 300 akun. Andhika menekankan pentingnya kapasitas lahan agar proses pengolahan tetap optimal.
Urban Compost Bali menerapkan standar ketat pemilahan sampah. Sampah anorganik seperti plastik dilarang masuk ember. Jika ditemukan kontaminasi tiga kali, kerja sama dapat diputuskan secara permanen. “Fokus kami adalah sisa makanan dan tidak boleh ada kontaminasi plastik sama sekali, kalau ada campur sedikit saja proses pengomposan bisa gagal. Kami punya standar nilai, kalau kualitas pilahannya terus menurun di bawah nilai dua, maka kerja samanya kami selesaikan,” tegas Andhika.
Skema langganan fleksibel. Masyarakat dapat memilih paket berdasarkan volume limbah harian. Ember 8 liter ditujukan untuk rumah tangga, ember 20 liter untuk bisnis atau restoran. Ada juga opsi planter bag dengan tarif penjemputan Rp 300 ribu per bulan untuk jadwal mingguan dan Rp 200 ribu per bulan untuk penjemputan dua kali seminggu. Andhika menjelaskan, “Biaya langganannya mulai dari Rp 200 ribu untuk penjemputan dua kali seminggu hingga Rp 300 ribu untuk yang rutin setiap minggu.”
Pengolahan sampah organik dilakukan secara aerob di lahan seluas 20 are. Durasi pematangan kompos berkisar dua hingga tiga bulan. Hasil akhir berupa kompos organik yang didistribusikan kembali kepada member atau diberikan sebagai hibah kepada petani organik. “Paling cepat dua bulan sudah jadi kalau cuaca bagus, tapi rata-rata tiga bulan sudah siap diayak menggunakan mesin dan dikemas. Hasil pupuk ini kami kembalikan ke member untuk tanaman mereka atau kami hibahkan kepada petani organik sebagai bentuk tanggung jawab sosial,” tuturnya.
Sehari, Urban Compost mengelola sekitar 5 ton sampah makanan. Tim terdiri dari 12 pekerja lapangan dan 10 orang tim penjemputan. Jangkauan layanan mencakup Kuta Selatan, Canggu, Sanur, Denpasar, serta daerah sekitar seperti Darmasaba dan Desa Sibanggede. Perusahaan berencana merambah ke Ubud pada bulan depan.
Sejak 2019, total akun yang pernah ditangani mencapai 2.018 member rumah tangga dan 229 restoran. Saat ini, lebih dari 1.000 member rumah tangga dan 613 restoran masih aktif. Andhika menegaskan, “Kami ingin membuktikan bahwa UMKM pun bisa mengolah sampah secara mandiri jika ada kemauan dan fasilitas yang memadai.”
Dengan sistem berlangganan, pengumpulan sampah menjadi lebih teratur dan terkelola. Ember bersih dikembalikan setelah dicuci, menjaga kebersihan dan kualitas kompos. Proses pemilahan ketat memastikan tidak ada kontaminasi plastik, yang dapat mengganggu aktivitas mikroba pengurai. Standar nilai kualitas dipantau secara rutin, dan kerja sama dapat dihentikan jika kualitas menurun di bawah ambang batas.
Pengolahan kompos aerob di lahan 20 are memanfaatkan proses alami. Mesin ayak dan kemasan mempersiapkan produk akhir yang siap pakai. Kompos ini kemudian didistribusikan kepada member untuk pertanian rumah tangga atau disumbangkan kepada petani organik sebagai bentuk tanggung jawab sosial. Proses ini memakan waktu dua hingga tiga bulan, tergantung kondisi cuaca dan volume limbah.
Urban Compost Bali menyesuaikan layanan dengan kebutuhan pelanggan. Ember 8 liter untuk rumah tangga, ember 20 liter untuk bisnis, dan planter bag untuk volume berbeda. Harga langganan mulai dari Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu per bulan, tergantung frekuensi penjemputan. Layanan ini memudahkan warga dan pelaku bisnis mengelola sampah organik tanpa harus mengorbankan lahan atau waktu.
Perluasan layanan ke Ubud menunjukkan pertumbuhan yang berkelanjutan. Dengan kapasitas 5 ton sampah per hari, tim lapangan dan penjemputan dapat menampung volume yang meningkat. Pengelolaan sampah organik menjadi bagian penting dalam upaya pengurangan sampah di Bali, terutama setelah pembatasan pembuangan ke TPA Regional Suwung.
Urban Compost Bali terus menegaskan komitmennya terhadap kualitas dan keberlanjutan. Standar pemilahan ketat, sistem penjemputan rutin, dan proses pengolahan aerob memastikan kompos yang dihasilkan memenuhi harapan member. Dengan dukungan teknologi dan tenaga kerja, perusahaan berusaha memaksimalkan potensi sampah organik menjadi pupuk alami yang bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat.
Perusahaan ini menunjukkan bahwa solusi sederhana—seperti sistem berlangganan dan penjemputan rutin—dapat mengatasi kendala lahan dan waktu. Dengan standar kualitas yang ketat dan layanan yang terstruktur, Urban Compost Bali membantu warga Bali mengelola sampah organik secara efisien, sekaligus mendukung pertanian organik dan pengurangan sampah di wilayahnya.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kapolri Duduk Bareng Pecalang dan Ojol di Bali
Sensatia Raih Sertifikasi Bebas Kekejaman dari Cruelty Free International
Kampung Gelgel Klungkung tak punya calon kades
Bangkai Paus di Pantai Perancak Kembali Muncul
Ledakan Tabung Gas Hanguskan Warung Bakso, Tiga Luka Bakar
Klungkung Kekurangan 8.300 PJU, Nusa Penida Paling Parah
