Usia SD 2026: Anak 5-6 Tahun Bisa Masuk Jika Siap

Endah K. · 3 min baca · 10 hari lalu · 46 dibaca
Bisik.id
Usia SD 2026: Anak 5-6 Tahun Bisa Masuk Jika Siap

Gambar atau konten salah?

Gogot Suharwoto, Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal Kemendikdasmen, mengungkapkan bahwa usia anak untuk masuk Sekolah Dasar pada tahun 2026 tidak harus 7 tahun. Menurutnya, anak berusia 5–6 tahun dapat memperoleh pengecualian jika mereka sudah siap secara belajar.

“Jadi untuk SPMB SD ada pengecualian usia anak, tapi ada catatan. Jadi kuncinya adalah anak siap untuk mengikuti pembelajaran di SD,” kata Gogot di sela acara penandatanganan komitmen bersama SPMB RAMAH 2026/2027 di Kemendikdasmen, Jakarta Pusat, pada 21 Mei 2026.

Psikolog dan akademisi dari Universitas Indonesia, Prof Dr Rose Mini Agoes Salim M Psi, menambahkan bahwa kesiapan masuk sekolah dapat berbeda bagi setiap anak. Ia menjelaskan bahwa kematangan belajar bisa dimulai sejak 5–6 tahun, sementara 7 tahun dianggap sebagai usia kematangan rata-rata.

“Kalau stimulasi bagus, anak pasti matang ke sekolah. Kenapa usia 7 tahun matang? Karena itu diambil pada usia kematangan rata-rata,” ujarnya.

Di sisi lain, Afia Fitriana, SPsi, MPsi dari Universitas Sebelas Maret (UNS) menegaskan bahwa standar masuk sekolah seharusnya didasarkan pada kesiapan belajar, bukan usia. Ia menyoroti perkembangan fisik, mental, sosial, dan emosional sebagai indikator utama.

Aspek-aspek perkembangan yang perlu diperhatikan meliputi belajar, gerak, bicara, diri, dan kontrol tangan. Afia menjelaskan bahwa perkembangan ini dapat dilihat sejak masa Taman Kanak-Kanak.

“Misalnya, ketika seorang anak sedang bersenang-senang saat istirahat dan harus berhenti bermain dan melanjutkan belajar, jika anak tersebut dapat mengendalikan keinginannya untuk terus bermain, sambil cepat beradaptasi dengan lingkungan kelas, maka anak tersebut sudah siap,” ungkap Afia.

Indikator lain meliputi gerak lengan yang seimbang, kemampuan melompat, dan kontrol gerakan fisik saat berlari. Perkembangan bicara diukur dari pemahaman perintah dan respons. Perkembangan diri mencakup kepercayaan diri dan manajemen diri.

Afia menekankan pentingnya merangsang perkembangan anak sambil mengajarkan keterampilan hidup, seperti memakai sepatu dari kaki kanan terlebih dahulu atau mempersiapkan mereka untuk belajar membaca dari sisi kiri. Ia juga menyarankan mengajarkan cara berhitung, memahami banyak dan sedikit, atau lebih besar dan lebih kecil.

Menurutnya, orang tua perlu memahami kebutuhan untuk mempersiapkan anak masuk SD. Hal ini mencakup kualitas pembelajaran, motivasi (kemandirian belajar dan rasa ingin tahu), serta aspek sosio-emosional (pengendalian diri dalam menghadapi situasi).

Usia minimal masuk SD sebelumnya adalah 7 tahun per 1 Juli. Namun, berdasarkan Permendikdasmen Nomor 3 Tahun 2025, anak berusia 6 tahun dapat mendaftar SD. Untuk usia minimal 5 tahun berjalan, hanya bagi anak yang memiliki kecerdasan dan/atau bakat istimewa serta kesiapan psikis, dengan rekomendasi tertulis dari psikolog profesional atau dewan guru satuan pendidikan.

“Kalau dia usianya kurang, berarti harus ada surat keterangan bahwa anak ini memang siap. Dari siapa? Dari ahlinya. Dari psikolog yang terpercaya nanti di daerah situ pasti tahu siapa yang paling punya otoritas atau siapa yang tahu, kemudian bisa diterima di sekolah,” jelas Gogot.

Permendikdasmen SPMB juga menegaskan bahwa tes membaca, menulis, berhitung (tes calistung) atau bentuk tes lainnya tidak menjadi persyaratan SPMB calon murid baru kelas 1 SD.

“Jadi tidak harus 7 tahun, tidak harus punya ijazah TK, tidak boleh ada tes calistung,” tambah Gogot.

Perubahan kebijakan ini menandai langkah pemerintah dalam menyesuaikan standar masuk sekolah dengan perkembangan psikologis anak. Dengan menekankan kesiapan belajar daripada usia, sistem pendidikan membuka peluang bagi anak yang lebih matang secara kognitif dan emosional untuk memulai pendidikan dasar lebih awal. Ini juga memberi ruang bagi keluarga dan pendidik untuk lebih fokus pada kualitas pembelajaran dan pengembangan keterampilan sosial anak, sehingga proses transisi ke sekolah menjadi lebih lancar dan sesuai kebutuhan individu.

Usia masuk SDkesiapan belajarSPMB SDPermendikdasmen 2025kematangan belajarkesiapan psikologisstandar masuk sekolah

Komentar

Memuat komentar...