Utang Digital Naik 25% Tahun Ini, Tabungan Menurun 15%

Vera T. · 2 min baca · 23 hari lalu · 58 dibaca
Bisik.id
Utang Digital Naik 25% Tahun Ini, Tabungan Menurun 15%

Gambar atau konten salah?

Di tengah keterbatasan pemasukan, banyak orang mulai mencari cara baru untuk bertahan hidup. Sebelumnya, tabungan masih menjadi sandaran utama. Namun kini, pola itu mulai bergeser. Pinjaman, terutama dari layanan keuangan digital, menjadi pilihan utama.

Perubahan ini terlihat jelas dari data outstanding utang masyarakat pada layanan pinjaman online (pinjol) dan buy now pay later (paylater). Menurut laporan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), jumlah outstanding utang pada layanan peer‑to‑peer (P2P) lending atau pinjaman online mencapai Rp 100,69 triliun pada Februari 2026. Angka ini naik 25,75 % dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Di sisi lain, PT Pefindo Biro Kredit (IdScore) mencatat pertumbuhan signifikan pada transaksi layanan buy now pay later (BNPL) atau paylater. IdScore melaporkan pertumbuhan paylater sebesar 86,7 % secara tahunan, mencapai Rp 56,3 triliun hingga akhir Februari 2026.

Ekonom Senior INDEF, Tauhid Ahmad, menilai data tersebut menunjukkan masyarakat semakin mengandalkan pinjaman untuk kebutuhan sehari‑hari. “Kalau lihat growth‑nya berarti makin lama makin tinggi, kan. Artinya masyarakat jelas makin lama makin banyak utangnya. Saya kira ini memang bukan pertanda baik karena kebanyakan pinjaman itu untuk konsumtif. Saya kira itu yang kita lihat ketimbang pinjaman produktif untuk dunia usaha,” kata Tauhid kepada detikcom.

Menurutnya, masalah utama datang dari bunga yang harus dibayar bersamaan dengan pokok utang. “Memang NPL‑nya saya kira masih relatif terjaga. Tapi beban masyarakat dengan bunga segitu besar. Sehingga ini membuat masyarakat akhirnya model gali lubang tutup lubang. Baru selesai, dia sudah pinjam yang lain. Nah ini yang saya kira membuat masyarakat makin lama makin tidak sehat kondisi keuangannya,” terangnya.

Selain itu, Tauhid menunjukkan bahwa tingkat pertumbuhan tabungan di bawah Rp 100 juta milik nasabah di Indonesia tidak tumbuh cukup signifikan. Hal ini mencerminkan bahwa simpanan masyarakat, khususnya kelas menengah ke bawah, justru semakin berkurang. “Saya rasa bagi kelompok bawah ini mereka pinjam itu bukan karena ada tabungan, tapi karena tabungannya sedikit. Kalau ada, pasti mereka langsung bayar cash. Biasanya orang yang punya uang tidak bayar pakai paylater atau pinjol, mereka bayar langsung,” jelas Tauhid.

Dengan kondisi tersebut, Tauhid berpendapat bahwa terjadi pergeseran dari fenomena “makan tabungan” menjadi “makan utang” untuk bertahan hidup. Meski tidak terjadi di semua kalangan, terutama di kelompok menengah ke bawah, “Justru yang tabungannya sedikit atau tidak punya tabungan kemungkinan juga menjadi konsumen terbesar untuk pinjaman online seperti ini,” tegas Tauhid.

Perubahan pola ini menandakan ketergantungan masyarakat pada pinjaman digital semakin mendalam. Sementara beban bunga dan NPL menambah tekanan, tabungan menurun menunjukkan ketidakmampuan menabung. Kondisi ini memunculkan risiko finansial jangka panjang bagi banyak keluarga di Indonesia.

OJKpinjaman onlinebuy now pay laterP2P lendingNPLbeban bungatabungan menurun

Komentar

Memuat komentar...