Utang Digital Naik 25% Tahun Ini, Tabungan Menurun 15%
Gambar atau konten salah?
Di tengah keterbatasan pemasukan, banyak orang mulai mencari cara baru untuk bertahan hidup. Sebelumnya, tabungan masih menjadi sandaran utama. Namun kini, pola itu mulai bergeser. Pinjaman, terutama dari layanan keuangan digital, menjadi pilihan utama.
Perubahan ini terlihat jelas dari data outstanding utang masyarakat pada layanan pinjaman online (pinjol) dan buy now pay later (paylater). Menurut laporan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), jumlah outstanding utang pada layanan peer‑to‑peer (P2P) lending atau pinjaman online mencapai Rp 100,69 triliun pada Februari 2026. Angka ini naik 25,75 % dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Di sisi lain, PT Pefindo Biro Kredit (IdScore) mencatat pertumbuhan signifikan pada transaksi layanan buy now pay later (BNPL) atau paylater. IdScore melaporkan pertumbuhan paylater sebesar 86,7 % secara tahunan, mencapai Rp 56,3 triliun hingga akhir Februari 2026.
Ekonom Senior INDEF, Tauhid Ahmad, menilai data tersebut menunjukkan masyarakat semakin mengandalkan pinjaman untuk kebutuhan sehari‑hari. “Kalau lihat growth‑nya berarti makin lama makin tinggi, kan. Artinya masyarakat jelas makin lama makin banyak utangnya. Saya kira ini memang bukan pertanda baik karena kebanyakan pinjaman itu untuk konsumtif. Saya kira itu yang kita lihat ketimbang pinjaman produktif untuk dunia usaha,” kata Tauhid kepada detikcom.
Menurutnya, masalah utama datang dari bunga yang harus dibayar bersamaan dengan pokok utang. “Memang NPL‑nya saya kira masih relatif terjaga. Tapi beban masyarakat dengan bunga segitu besar. Sehingga ini membuat masyarakat akhirnya model gali lubang tutup lubang. Baru selesai, dia sudah pinjam yang lain. Nah ini yang saya kira membuat masyarakat makin lama makin tidak sehat kondisi keuangannya,” terangnya.
Selain itu, Tauhid menunjukkan bahwa tingkat pertumbuhan tabungan di bawah Rp 100 juta milik nasabah di Indonesia tidak tumbuh cukup signifikan. Hal ini mencerminkan bahwa simpanan masyarakat, khususnya kelas menengah ke bawah, justru semakin berkurang. “Saya rasa bagi kelompok bawah ini mereka pinjam itu bukan karena ada tabungan, tapi karena tabungannya sedikit. Kalau ada, pasti mereka langsung bayar cash. Biasanya orang yang punya uang tidak bayar pakai paylater atau pinjol, mereka bayar langsung,” jelas Tauhid.
Dengan kondisi tersebut, Tauhid berpendapat bahwa terjadi pergeseran dari fenomena “makan tabungan” menjadi “makan utang” untuk bertahan hidup. Meski tidak terjadi di semua kalangan, terutama di kelompok menengah ke bawah, “Justru yang tabungannya sedikit atau tidak punya tabungan kemungkinan juga menjadi konsumen terbesar untuk pinjaman online seperti ini,” tegas Tauhid.
Perubahan pola ini menandakan ketergantungan masyarakat pada pinjaman digital semakin mendalam. Sementara beban bunga dan NPL menambah tekanan, tabungan menurun menunjukkan ketidakmampuan menabung. Kondisi ini memunculkan risiko finansial jangka panjang bagi banyak keluarga di Indonesia.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Rupiah Jatuh ke 14.000 per SGD, Pasar Saham Turun 5,2%
IHSG Menurun ke Zona Merah, Turun 1,46% ke 5.854 di Bursa
KAI-INKA Merger Selesai Tahun Ini, Menjadi Holding Subholding
Trump Menandatangani Perintah Pemutusan Pegawai Tinggi
IHSG menutup di zona negatif, turun 4,11%; global merosot
Moody's Atur Peringkat Baa2 Negatif untuk Danantara Investasi
Berita Terbaru
UEA Berhenti Ujian Internasional, Pindah Online Kini
Damri: Rute Bus Palembang–Lampung, Harga Rp 200–228 Ribu
Raffi Ahmad Operasi Benjolan Bahu Setelah Haji, Tertutup
Kementerian Agama Tetapkan 16 Juni 2026 sebagai Puasa 1 Muharram
Bom Incendiary Ditemukan dan Dimusnahkan di Sungai Ariyau, Jayapura
Peternak Sapi Perah Dusun Brau Siap Hadapi Musim Kemarau
Prabowo Luncurkan Program Makan Bergizi Gratis di Sentul
Indonesia Open 2026: 16 Besar di Istora Senayan, Menang
Prabowo Buka Penerbangan Bandara Bandung & Yogyakarta
Messi Terima Penghargaan Putri Asturias di Kansas City
