Varian BA.3.2 Terdeteksi di 25 Negara, Tidak Lebih Parah

Yuli S. · 2 min baca · 3 bulan lalu · 122 dibaca
Bisik.id
Varian BA.3.2 Terdeteksi di 25 Negara, Tidak Lebih Parah

Gambar atau konten salah?

BA.3.2, yang juga dikenal dengan julukan Cicada, telah dideteksi di setidaknya 25 negara. Varian ini muncul setelah lama tidak terdeteksi sebelum akhirnya menyebar lebih luas. Nama Cicada diambil dari serangga yang lama bersembunyi sebelum muncul ke permukaan.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia dan Pusat Pengendalian Penyakit Amerika Serikat, meski memiliki banyak mutasi dan berpotensi lebih mudah menular atau menyebabkan infeksi ulang, data awal menunjukkan varian ini tidak menyebabkan penyakit yang lebih parah. Para ahli menekankan bahwa situasi tetap perlu dipantau ketat, tetapi belum ada alasan untuk panik.

BA.3.2 adalah sub‑garis keturunan dari Omicron. Varian ini pertama kali diidentifikasi di Afrika Selatan pada 01 November 2024, dan sempat tidak terdeteksi sebelum mulai menyebar lebih luas pada 01 Januari 2025. Menurut laporan pengawasan terbaru, varian ini telah ditemukan di sedikitnya 25 negara. Kasus mulai meningkat sejak sekitar 01 September 2025, terdeteksi melalui sampel klinis, pemeriksaan perjalanan, hingga pemantauan udara di berbagai wilayah.

Dalam analisis yang dipublikasikan di The Lancet Infectious Diseases, BA.3.2 disebut sebagai varian saltasi potensial karena mengalami banyak mutasi dalam waktu singkat. Disebutkan bahwa BA.3.2 memiliki sekitar 70‑75 mutasi spike protein, jauh lebih banyak dari varian sebelumnya. Mutasi ini berpotensi meningkatkan kemampuan virus untuk menghindari kekebalan dari infeksi sebelumnya atau vaksin. Dalam laporan CDC disebutkan bahwa kondisi ini bisa memicu “lolosnya kekebalan”. Sementara itu, studi di The Lancet menyebut BA.3.2 menunjukkan penghindaran antibodi yang kuat. Meski demikian, data laboratorium juga menunjukkan virus ini kurang efisien dalam mengikat reseptor ACE2 di sel paru‑paru, yang merupakan pintu masuk virus ke dalam tubuh.

Varian BA.3.2 telah terdeteksi di berbagai kawasan dunia, termasuk Afrika, Eropa, Amerika Utara, Asia, hingga Oseania. Pertama kali ditemukan di Afrika Selatan pada 01 November 2024, varian ini kemudian menyebar ke Mozambik, Belanda, Jerman, Amerika Serikat, dan negara lain. Saat ini sudah terdeteksi di 25 negara. Di Eropa, varian ini sempat menunjukkan penyebaran lokal pada akhir 2025 hingga awal 2026, namun tidak diikuti lonjakan rawat inap.

Gejala infeksi BA.3.2 tidak berbeda dari varian Omicron sebelumnya. Pasien melaporkan sakit tenggorokan, demam dan menggigil, kelelahan, batuk, nyeri tubuh, hidung tersumbat, sakit kepala, mual ringan, hingga sesak napas pada kasus tertentu. Tidak ada indikasi bahwa varian ini menimbulkan gejala yang lebih berat dibandingkan varian sebelumnya.

Walaupun mutasi spike protein tinggi, virus ini masih belum menunjukkan peningkatan kemampuan menular secara signifikan. Pemerintah dan lembaga kesehatan terus memantau penyebaran dan karakteristik varian ini, memastikan data terbaru tersedia bagi publik. Masyarakat disarankan tetap mengikuti protokol kesehatan dan vaksinasi sesuai rekomendasi.

Dalam konteks global, deteksi BA.3.2 di 25 negara menandakan bahwa varian ini telah mencapai tingkat penyebaran yang cukup luas. Namun, data klinis dan laboratorium saat ini tidak menunjukkan peningkatan risiko penyakit parah. Pemantauan berkelanjutan tetap penting untuk memastikan tidak ada perubahan drastis dalam perilaku virus.

BA.3.2varian CicadaOmicronmutasi spike proteinpenyebaran globalpenghindaran kekebalanreseptor ACE2

Komentar

Memuat komentar...