Varian COVID-BA.3.2 (Cicada) Menyerang 25 Negara AS
Gambar atau konten salah?
Varian baru COVID‑19 yang diberi nama BA.3.2 atau Cicada kini menjadi sorotan karena penyebarannya mulai meningkat secara internasional sejak akhir tahun lalu. Meskipun sudah terdeteksi sejak tahun 2024, varian ini baru belakangan mulai menyumbang jumlah infeksi yang signifikan, mencapai 30 persen kasus COVID di beberapa negara Eropa Timur dan sudah terdeteksi di 25 negara bagian Amerika Serikat.
Para ahli menilai bahwa tingkat mutasi pada BA.3.2 membuatnya lebih mampu menghindari perlindungan dari vaksin maupun sistem kekebalan tubuh yang sudah terbentuk akibat infeksi COVID‑19 sebelumnya. Hal ini berpotensi memicu lonjakan kasus kembali pada musim panas mendatang.
Seperti kebanyakan varian lainnya, gejala Cicada pada dasarnya sangat mirip dengan varian lain. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mengungkapkan gejalanya meliputi:
- Hidung berair atau tersumbat
- Demam
- Sakit kepala
- Kelelahan
- Bersin
- Sakit tenggorokan
- Batuk
- Nyeri otot atau pegal‑pegal
- Muntah
- Diare
- Perubahan pada indera penciuman atau perasa
Beberapa varian yang muncul belakangan juga dikaitkan dengan kondisi yang disebut “razorblade throat”, yaitu sakit tenggorokan yang terasa sangat perih. “Saya belum melihat data yang menunjukkan bahwa varian Cicada lebih parah dibandingkan varian lain yang sedang beredar,” kata Direktur Medis dari National Foundation for Infectious Diseases, Dr Robert H Hopkins Jr, Rabu (01 April 2026). “Sakit tenggorokan yang berat dilaporkan sebagai gejala yang cukup umum, bersama dengan gejala khas COVID lainnya,” sambungnya.
CDC menegaskan bahwa gejala COVID sangat sulit dibedakan dengan flu biasa tanpa tes. Namun, ada beberapa gejala yang sedikit lebih sering muncul pada masing-masing kondisi tersebut. Misalnya, perubahan signifikan atau hilangnya kemampuan mencium bau atau mengecap rasa, terutama jika berlangsung lama tanpa penyebab jelas, lebih sering dikaitkan dengan COVID. Selain itu, sesak napas atau kesulitan bernapas juga lebih sering menjadi tanda COVID dibandingkan flu.
Infeksi COVID juga cenderung muncul sedikit lebih lama setelah paparan dibandingkan flu. Jika gejala flu biasanya muncul 1‑4 hari setelah terpapar, gejala COVID bisa muncul dalam 2‑5 hari, bahkan hingga 14 hari setelah terinfeksi.
Varian Cicada menunjukkan bahwa mutasi virus masih aktif, menambah tantangan bagi sistem kesehatan global. Pengawasan dan tes tetap penting untuk membedakan COVID dari penyakit pernapasan lainnya, terutama di musim panas yang akan datang.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Lalat Parasit Baru Menyerang Sapi di Texas, Dampak Ekonomi
Frisian Flag Indonesia Dorong Keluarga Minum Susu Sehari
Kejahatan Donor Sperma Ilegal Robert Albon Tertangkap
Singapura Jadi Blue Zone, Harapan Hidup 84 Tahun di Singapura
Influencer Jakarta Viral Cosplay Disabilitas, Kontroversial
Tendon Achilles Menjadi Penanda Kolesterol Tinggi Kesehatan
Berita Terbaru
Pilot Digitalisasi Bantuan Sosial Gianyar Pakai Parlinsos
Afni‑Syamsurizal: Tahun Pertama Menurunkan Utang Siak
Medan Gelar Gemes 27‑30 Juni 2026 Rp 2,5 Miliar APBD 2026
Pengumuman Hasil Seleksi SPMB Sumsel 2026/2027: Tanggal 6 Juni
Bulan Muharram: Larangan dan Amalan yang Harus Diikuti
Persela Lamongan Rekrut Statistik Sukses, Siap Liga 2 2026
Indonesia 3-0 Timor Leste, Poin Lengkap Grup A AFF U-19 2026
I Wayan Sutama: Dari Peternak Jadi Pengusaha Bengkel Mobil
