Wajib Haji: Langkah Penting Setiap Jemaah Harus Jalankan
Gambar atau konten salah?
Wajib haji adalah bagian dari ibadah haji yang harus dilaksanakan setiap jemaah. Menunaikan haji adalah kewajiban bagi setiap muslim yang mampu, sebagaimana tertulis dalam Al‑Qur’an surat Ali ‘Imran ayat 97:
فِيهِ ءَايَٰتٌۢ بَيِّنَٰتٌ مَّقَامُ إِبْرَٰهِيمَ ۖ وَمَن دَخَلَهُۥ كَانَ ءَامِنًا ۗ وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ مَنِ ٱسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ عَنِ ٱلْعَٰلَمِينَ
Artinya: Padanya terdapat tanda‑tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya menjadi aman; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari haji, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.
Menurut kitab I'anatut Thalibin, مَا يَجِبُ بِتَرْكِهِ الفِدْيَةُ أَيْ وَالإَثْمُ إِنْ كَانَ لِغَيْرِ عُذْرٍ artinya: Yang dimaksud dengan wajib haji ialah bagian dari ibadah haji yang bila seseorang meninggalkannya, maka ia wajib membayar fidyah atau dam sebagai tebusan, dan jika ia meninggalkannya tanpa uzur yang sah, maka ia berdosa di sisi Allah.
Kitab Taqriratus Sadidah menjelaskan enam kewajiban haji, yaitu:
- Ihram – niat memulai ibadah haji dari miqat.
- Mabit di Muzdalifah – bermalam di Muzdalifah pada malam 10 Dzulhijjah.
- Melempar Jumrah Aqabah – melempar tujuh butir kerikil pada 10 Dzulhijjah.
- Melempar tiga jumrah pada hari Tasyrik – pada 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.
- Mabit di Mina – bermalam di Mina pada malam‑malam hari Tasyrik.
- Tawaf Wada' – tawaf perpisahan sebelum meninggalkan Makkah.
Ihram dimulai di miqat, batas yang ditentukan baik secara waktu (miqat zamani) maupun tempat (miqat makani). Setelah memasuki ihram, jemaah harus menjaga larangan-larangan tertentu, seperti tidak memakai parfum, tidak berburu, dan tidak melakukan hubungan badan.
Mabit di Muzdalifah terjadi setelah wukuf di Arafah. Pada malam 10 Dzulhijjah, jemaah mengumpulkan batu kerikil yang akan digunakan untuk melempar jumrah, sekaligus memperbanyak doa dan zikir. Mabit di sini menandai transisi antara wukuf dan aktivitas berikutnya.
Melempar Jumrah Aqabah dilakukan pada 10 Dzulhijjah, hari Nahr (Idul Adha). Jemaah melempar tujuh butir kerikil sebagai simbol menolak godaan setan dan menegaskan ketaatan kepada Allah. Tindakan ini menandai awal serangkaian lemparan jumrah.
Setelah hari Nahr, jemaah melanjutkan ritual melempar tiga jumrah pada hari Tasyrik. Pada 11, 12, dan 13 Dzulhijjah, masing‑masing jumrah (ula, wustha, dan ‘aqabah) dilempar dengan tujuh butir kerikil. Praktik ini melanjutkan simbolik menolak godaan setan dan memperkuat kesungguhan jemaah.
Mabit di Mina diwajibkan pada malam‑malam hari Tasyrik. Selain menjadi bagian dari rangkaian ibadah, mabit di Mina menjadi momen untuk memperbanyak ibadah, seperti zikir, doa, dan refleksi spiritual. Kegiatan ini menandai persiapan akhir sebelum tawaf wada'.
Tawaf Wada' merupakan tawaf perpisahan yang dilakukan sebelum meninggalkan Kota Makkah setelah seluruh rangkaian ibadah haji selesai. Tawaf ini menjadi penutup ibadah haji, sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada Ka'bah sebelum kembali ke tanah air.
Ulama dari empat mazhab memiliki pandangan berbeda terkait wajib haji. Berikut keempat pandangan tersebut:
- Hanafi: sa'i, mabit di Muzdalifah, melempar jumrah, memotong rambut, dan tawaf wada'.
- Maliki: mabit di Muzdalifah, melempar jumrah aqabah, memotong rambut, tawaf ifadah pada 10 Dzulhijjah, mabit di Mina, dan melempar jumrah pada hari Tasyrik.
- Syafi'i: ihram, mabit di Muzdalifah, melempar jumrah aqabah, mabit di Mina, melempar jumrah pada hari Tasyrik, tawaf wada', dan menjauhi larangan-larangan ihram seperti tidak memakai parfum, berburu, dan berhubungan badan.
- Hanbali: ihram dari miqat, wukuf di Arafah sampai malam, mabit di Muzdalifah, mabit di Mina, melempar jumrah, memotong rambut, dan tawaf wada'.
Perbedaan pendapat di antara mazhab bukanlah hambatan, melainkan bagian dari kekayaan khazanah Islam yang dapat disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan masing-masing jemaah. Dengan memahami berbagai ketentuan wajib haji, jemaah diharapkan dapat menjalankan ibadah dengan lebih tertib dan sesuai syariat.
Wajib haji menuntut kesungguhan dan ketelitian. Setiap langkah, mulai dari ihram hingga tawaf wada', memiliki makna mendalam yang menghubungkan jemaah dengan sejarah dan tradisi ibadah haji. Melalui pelaksanaan kewajiban ini, jemaah dapat memperkuat hubungan spiritualnya dengan Allah dan menegaskan komitmen terhadap ajaran Islam.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ratusan Monyet Ekor Panjang Turun ke Pasar, Cari Makan
Guru SD di Sidoarjo Naik Perahu Demi Mengajar saat Banjir Rob
Messi Geser Mbappe di Puncak Top Skor Piala Dunia
Penyebab Karhutla: dari Hal Sepele hingga Bencana
KAI Bantah Penguntit Penumpang Wanita di Supas adalah Pegawai
Banjir Rob Kalianak Semakin Parah, Warga Minta Dam Dibangun
