Wakil Gubernur Jawa Timur dan Sungai Watch Bersihkan Sungai

Andi B. · 3 min baca · 3 bulan lalu · 95 dibaca
Bisik.id
Wakil Gubernur Jawa Timur dan Sungai Watch Bersihkan Sungai

Gambar atau konten salah?

Emil Elestianto Dardak, Wakil Gubernur Jawa Timur, menerima audiensi dari Yayasan Sungai Watch Indonesia dalam rangka perjalanan Run For Rivers Bali‑Jakarta. Pertemuan ini menyoroti upaya penyelamatan sungai dari ancaman sampah di Indonesia, khususnya di wilayah Jawa Timur.

Audiensi dihadiri pendiri Sungai Watch, Gary Bencheghib, Sam Bencheghib, dan Kelly Bencheghib. Selain itu hadir Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jawa Timur Nurkholis dan Plt Kepala Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (PU SDA) Jawa Timur I Nyoman Gunadi.

Emil menyoroti aksi lari jarak jauh yang dilakukan tim Sungai Watch dari Bali sebagai kampanye tidak biasa namun efektif. Ia berkata, “Ini kegiatan yang sangat inspiratif. Mereka berlari bukan sekadar olahraga, tetapi untuk menarik perhatian kita semua terhadap persoalan besar dalam ekosistem, yaitu sungai yang penuh sampah,” ujar Emil pada Rabu, 15 April 2026.

Menurut Emil, gerakan Sungai Watch tidak hanya berhenti pada kampanye. Mereka juga mengolah limbah plastik menjadi produk bernilai guna serta memasang barrier atau perangkap sampah di aliran sungai. Langkah tersebut sudah diterapkan di beberapa titik di Jawa Timur, termasuk wilayah Sidoarjo.

Emil menegaskan bahwa pencemaran sungai bukan sekadar masalah teknis pengelolaan. Ia menggambarkan bahwa perilaku membuang sampah di hulu berdampak besar bagi masyarakat di hilir. “Yang buang sampah di hulu sering tidak melihat dampaknya. Tapi yang merasakan justru masyarakat di hilir. Ini yang harus kita sadarkan bersama,” tegasnya.

Ia mencontohkan kondisi drainase di wilayah perkotaan yang sering dipenuhi sampah tak lazim, mulai dari kasur hingga ban bekas. Sampah tersebut terbawa arus dari hulu dan menambah beban di hilir. Fenomena ini, kata Emil, menjadi gambaran nyata lemahnya disiplin masyarakat dalam pengelolaan sampah.

Selain edukasi, Pemerintah Provinsi Jawa Timur mulai mendorong langkah tegas melalui penegakan hukum. Emil menyebut, pihaknya tengah mengidentifikasi titik‑titik rawan pembuangan sampah liar untuk kemudian ditindaklanjuti. “Kita ingin tahu titiknya, lalu kita tegakkan hukum. Dasarnya sudah ada, tinggal kita perkuat, termasuk kemungkinan lewat peraturan daerah agar petugas punya kewenangan menindak pelanggar,” jelasnya.

Emil menambahkan bahwa pendekatan ini penting untuk menyasar perilaku masyarakat yang masih abai, meski fasilitas tempat sampah telah tersedia. Ia menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Timur akan menindaklanjuti sinergi dengan komunitas Sungai Watch dengan mencari langkah cepat yang berdampak nyata, salah satunya melalui pemasangan barrier di titik strategis. “Dengan barrier, kita bisa tahu segmen mana yang paling banyak menghasilkan sampah. Ini penting untuk pemetaan sekaligus evaluasi,” ungkapnya.

Namun, ia juga mengingatkan adanya potensi perilaku kontraproduktif masyarakat yang justru menjadikan titik barrier sebagai tempat pembuangan baru. Emil menjelaskan bahwa regulasi pengelolaan lingkungan di Jawa Timur masih mengacu pada Undang‑Undang Lingkungan Hidup. Pengawasan terhadap limbah industri juga terus dilakukan melalui pengecekan kepatuhan pabrik terhadap standar emisi.

Untuk persoalan sampah domestik, tantangannya berbeda. Ia menyinggung upaya pemasangan CCTV di Sungai Brantas pada periode awal kepemimpinan Gubernur Khofifah sebagai langkah pencegahan pembuangan sampah, termasuk limbah rumah tangga seperti popok. Meski berbagai upaya telah dilakukan, Emil mengakui bahwa persoalan sampah di sungai masih berulang. Bahkan setelah pengerukan sungai, kondisi kotor dapat kembali dalam waktu singkat. “Ini menunjukkan bahwa solusi teknis saja tidak cukup. Harus ada perubahan perilaku,” katanya.

Sungai Watch siap memperluas aksi di Jawa Timur. Gary Bencheghib menyampaikan optimismenya terhadap kolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Ia berharap pertemuan ini menjadi awal proyek percontohan di tingkat kabupaten. “Kami ingin memulai pilot project, mungkin di Situbondo atau Probolinggo. Kami masih akan melanjutkan perjalanan ke Gresik, Lamongan, dan Tuban,” ujarnya.

Gary juga berharap dukungan dari pemerintah provinsi dapat membuka akses kolaborasi dengan pemerintah kabupaten/kota di sepanjang jalur yang dilalui. Gerakan Run for Rivers sendiri menjadi simbol perjuangan panjang menjaga ekosistem sungai, sekaligus pengingat bahwa krisis lingkungan membutuhkan aksi nyata dan kolaborasi semua pihak. Dengan sinergi antara pemerintah dan komunitas, harapan akan sungai yang bersih dan lestari di Jawa Timur pun kian terbuka.

Pertemuan ini menegaskan bahwa upaya bersih‑sungai memerlukan kombinasi kampanye publik, tindakan teknis, dan penegakan hukum. Kolaborasi antara pemerintah, yayasan, dan masyarakat menjadi kunci untuk mengubah perilaku dan menjaga ekosistem sungai agar tetap berfungsi bagi semua.

Run For RiversSungai Watchpencemaran sungaibarrier sampahpenegakan hukumpemerintah Jawa Timurpengolahan limbah plastik

Komentar

Memuat komentar...