Wakil Presiden Tegaskan Gelar Gelap Trade Misinvoicing dan Modal Lari »

Eko P. · 1 min baca · 1 bulan lalu · 48 dibaca
Bisik.id
Wakil Presiden Tegaskan Gelar Gelap Trade Misinvoicing dan Modal Lari »

Gambar atau konten salah?

Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mengungkapkan kritik terhadap praktik gelap dalam ekspor‑impor. Menurutnya, praktik ini dapat menyebabkan modal dan kekayaan bangsa mengalir keluar negeri.

Ia menekankan bahwa yang dimaksud adalah trade misinvoicing, yakni manipulasi faktur perdagangan yang tersembunyi di balik angka‑angka resmi. “Di balik arus besar perdagangan global ada gelombang lain yang tidak selalu terlihat di permukaan. Namun bisa menggerus keadilan dan kejujuran ekonomi serta menyebabkan larinya modal dan kekayaan bangsa ke luar negeri. Itu adalah praktik trade misinvoicing, sebuah praktik yang selama ini tersembunyi di balik angka‑angka ekspor impor,” jelas Gibran dalam video yang diunggah oleh Sekretariat Wakil Presiden pada 12 April 2026.

Ia menjelaskan bahwa modusnya mencakup under invoicing, yaitu melaporkan harga lebih rendah, dan over invoicing, yakni melaporkan harga jauh dari nilai sebenarnya. “Inilah kecurangan yang seolah teknis tapi mengakibatkan dampak yang sangat nyata,” tegas Gibran.

Gibran memaparkan data yang mencakup periode 2014 hingga 2023. Nilai under invoicing ekspor diperkirakan mencapai US$ 401 miliar atau rata‑rata US$ 40 miliar per tahun. Sementara itu, nilai over invoicing ekspor tercatat US$ 252 miliar atau US$ 25 miliar per tahun. Sektor terbesar ada pada perdagangan limbah, logam berlapis, logam mulia, serta smartphone,” pungkas Gibran.

Praktik ini menimbulkan selisih pencatatan yang membuka celah bagi dana gelap beredar. Dampaknya, keadilan ekonomi tergoyahkan dan modal serta kekayaan bangsa berpotensi lari ke luar negeri. Praktik trade misinvoicing tetap menjadi tantangan bagi kebijakan perdagangan dan pengawasan fiskal di Indonesia.

trade misinvoicingunder invoicingover invoicingmodal luar negeriekspor imporkebijakan perdaganganpengawasan fiskalkekayaan bangsa

Komentar

Memuat komentar...