Wali Kota Medan Jembatan Setelah Anak Menyeberangi Pipa Air

Bambang W. · 2 min baca · 3 bulan lalu · 144 dibaca
Bisik.id
Wali Kota Medan Jembatan Setelah Anak Menyeberangi Pipa Air

Gambar atau konten salah?

Wali Kota Medan Rico Waas mengungkapkan keprihatinannya tentang anak-anak SMP yang nekat menyeberangi pipa air di atas Sungai Deli untuk menuju sekolah. Ia menegaskan, “Sudah lama jadi jalan pintas. Dulu saya juga lewat situ karena lebih dekat,” sambil menegaskan bahwa jalur tersebut berada di lahan PT Kereta Api Indonesia (KAI). Menurutnya, solusi terbaik adalah membangun jembatan alternatif atau mencari jalur yang lebih aman dan tetap efisien.

Situasi ini terungkap pada 16 April 2026 ketika Rico diwawancarai di Balai Kota Medan. Ia menyatakan akan segera koordinasi dengan pihak terkait untuk memeriksa kemungkinan pembangunan jembatan. Namun, ia juga menekankan bahwa Detail Engineering Design (DED) masih dalam tahap pertimbangan. “Tentu menjadi atensi kita (membangun jembatan) terlebih jika mau dibangun dari awal kita mesti punya DED-nya dulu,” tambahnya.

Keputusan anak-anak untuk menyeberangi pipa ini muncul karena tidak ada jembatan yang tersisa di lokasi tersebut. Sebelumnya, sebuah jembatan bekas rel kereta api menghubungkan Gang Perbatasan dan Jalan Brigjen Katamso di Kecamatan Medan Maimun dengan Kecamatan Medan Polonia. Jembatan itu menjadi akses utama bagi siswa dan warga sekitar. Namun, seiring waktu, jembatan tersebut rusak dan akhirnya hilang.

Di antara siswa yang menyeberangi pipa, Mita, siswi kelas 7 di SMPN 34 Medan, mengaku terpaksa melintasi pipa agar lebih dekat ke sekolah. Ia menjelaskan, “Kalau naik motor sekitar 6 menitan ke rumah, tapi kalau jalan jauh, harus mutar, dari sini lebih dekat,” sambil menegaskan bahwa angkot tidak dapat menjemputnya di rumah. Mita juga menegaskan bahwa ia tidak merasa takut saat menyeberangi pipa, karena sudah terbiasa.

Seorang siswa lain, Pramudya, juga bersekolah di SMPN 34 Medan, menyatakan bahwa ia biasanya hanya melewati pipa saat pulang sekolah. Ia menyimpan uang ongkos yang diberikan orang tuanya untuk lebih hemat. Ia menambahkan, “Sejak pertama sekolah lewat sini, nggak ada ketakutan,” menegaskan kebiasaan yang sudah terbangun sejak masuk SMP.

Warga sekitar, seperti Lestari dari Kepling 21 Kelurahan Kampung Baru, menyatakan bahwa anak-anak tersebut memang sering menyeberangi pipa. Ia menegaskan bahwa warga juga melakukan hal serupa. Ia mengingatkan bahwa sudah ada garis kok dan peringatan, namun anak-anak tetap nekat karena lebih dekat menuju sekolah. Ia juga mengingatkan bahwa jembatan bekas rel kereta api pernah ditinjau oleh Bobby Nasution saat menjadi Wali Kota Medan, dan ia berharap pemerintah segera memperbaiki akses tersebut.

Rico menegaskan bahwa langkah cepat diperlukan. Ia menambahkan, “Segera kita koordinasikan, apakah bisa dibangun jembatan atau dicarikan jalur lain yang lebih aman dan tetap efisien,” sambil menekankan pentingnya Detail Engineering Design (DED) sebelum memulai konstruksi. Ia juga menegaskan bahwa keputusan akhir masih dalam proses pertimbangan.

Situasi ini menyoroti masalah infrastruktur di daerah Medan, di mana akses jalan masih tergantung pada jembatan yang sudah usang. Anak-anak yang menyeberangi pipa air menunjukkan betapa pentingnya solusi cepat untuk mengurangi risiko. Pemerintah daerah diharapkan dapat menyelesaikan masalah ini dengan membangun jembatan baru atau jalur alternatif yang aman, sehingga siswa dapat menempuh perjalanan ke sekolah tanpa harus menyeberangi pipa berbahaya. Dengan demikian, keamanan dan kenyamanan siswa serta warga sekitar dapat terjamin.

Medanpipa airjembatanSMPN 34 MedaninfrastrukturRico WaasDetail Engineering Design (DED)

Komentar

Memuat komentar...