Wanita 24 Tergelincir Botulisme Setelah Makan Ikan Fermentasi
Gambar atau konten salah?
Di Arizona, seorang wanita berusia 24 tahun hampir kehilangan nyawanya setelah menikmati hidangan ikan fermentasi yang disiapkan temannya. Kronologinya sederhana namun mengerikan.
Trinity Peterson‑Mayes, yang dikenal sebagai penyintas kanker, tiba-tiba mengalami gangguan serius beberapa jam setelah makan malam bersama teman-temannya. Awalnya ia hanya merasakan kesulitan menelan, namun kondisi tersebut memburuk dengan cepat.
“Perlahan, dalam waktu 24 jam, saya yang awalnya hanya tidak bisa minum air banyak, akhirnya sama sekali tidak bisa minum air,” ujar Peterson‑Mayes, dilansir dari NYPost (19/03/2026).
Ketakutan memuncak ketika ia tersedak saat mencoba minum kopi. Segera ia dibawa ke rumah sakit untuk pertolongan darurat.
Setelah pemeriksaan, dokter menegaskan bahwa Peterson‑Mayes menderita botulisme, penyakit langka yang disebabkan oleh racun bakteri yang menyerang sistem saraf. Penyakit ini dapat mengganggu komunikasi antara saraf dan otot, memicu kelumpuhan, gangguan pernapasan, dan bahkan kematian bila tidak segera diobati.
Hidangan yang diduga menjadi penyebabnya adalah ikan todak (swordfish) fermentasi yang ia santap bersama teman-temannya. “Itu rasanya sangat tidak enak, jujur saja. Katanya makanan itu sehat, jadi saya pikir tidak apa‑apa mencobanya,” kata Peterson‑Mayes.
Beberapa jam kemudian, gejala mulai muncul. Ia tidak bisa menelan air liur, otot wajah melemah, dan tubuhnya semakin sulit digerakkan. Kondisinya memaksa ia dipindahkan ke pusat perawatan neurologi khusus di Phoenix, karena penurunannya terus berlanjut.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), botulisme memang tergolong penyakit langka, namun tingkat kematiannya bisa mencapai 5% hingga 10% jika tidak segera diobati. Peterson‑Mayes akhirnya menerima suntikan antitoksin yang menyelamatkan nyawanya, meski proses pemulihannya diperkirakan berlangsung cukup lama.
Saat sadar, ia sudah terpasang tiga infus, tidak bisa bergerak sama sekali. “Itu sangat menakutkan,” ujarnya.
Dari lima orang yang ikut menyantap hidangan ikan fermentasi tersebut, dua lainnya juga didiagnosis mengalami botulisme. Kini Peterson‑Mayes masih menjalani pemulihan dan mengaku lebih berhati‑hati terhadap makanan, terutama seafood. “Sekarang saya bahkan takut makan sushi,” pungkasnya.
Beberapa jenis makanan memiliki risiko lebih tinggi menyebabkan botulisme. Salah satunya produk makanan kaleng, terutama yang rendah asam seperti sayur dan daging, paling berisiko jika tidak diproses dengan benar. Seafood fermentasi juga berbahaya karena bakteri bisa tumbuh tanpa udara. Selain itu, makanan dari kaleng yang rusak, kentang panggang yang dibungkus aluminium lalu dibiarkan lama, serta bawang putih dalam minyak yang disimpan di suhu ruang juga dapat memicu botulisme jika tidak ditangani dengan tepat.
Kasus ini menegaskan betapa pentingnya kewaspadaan dalam memilih dan menyiapkan makanan. Meskipun botulisme jarang terjadi, konsekuensinya dapat sangat serius, terutama bila tidak segera mendapatkan perawatan medis. Penyintas seperti Peterson‑Mayes kini menjadi contoh betapa cepatnya kondisi dapat berubah, sekaligus mengingatkan semua orang akan bahaya yang tersembunyi dalam hidangan yang tampak biasa.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Prabowo Tekankan Standar 8 Potong Ayam MBG, Kumink Jelaskan
Londo Kampung Nikmati Pasar Blauran Baru dengan Rp 50.000
Buket Brokoli Prewedding Viral, Hemat dan Ramah Lingkungan
Ghibli's Table: Resep Ramen & Minuman Spesial Ponyo
Makanan Sederhana Dulu, Kini Warisan Kuliner Nasional
One Satrio Jadi Destinasi Kuliner Jakarta Selatan Penuh
Berita Terbaru
Persaingan Tinggi pada UTBK Plus Unair 2026 Untuk Mahasiswa
Influencer Jakarta Viral Cosplay Disabilitas, Kontroversial
Prabowo Tekankan Standar 8 Potong Ayam MBG, Kumink Jelaskan
Gamelan Bali dan Tarian Tampil di Pagi SF Indo Cita
Wuling Eksion: SUV Plug‑In Hybrid dengan Empat Mode Energi
Indonesia vs Timor Leste: Duel AFF U-19 2026 Live Streaming
Fadia/Tiwi Raih Kemenangan di Perempatfinal Indonesia Open
Debat Tutup Program Studi: Wisnu vs Menteri Yuliarto
