Warga Tapanuli Selatan Tuntun Hamil 30 km ke RS Pagi

Kartika D. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 51 dibaca
Bisik.id
Warga Tapanuli Selatan Tuntun Hamil 30 km ke RS Pagi

Gambar atau konten salah?

Di Tapanuli Selatan, sebuah video yang menampilkan seorang wanita hamil di Dusun Aek Nabara, Desa Dalihan Na Tolu, Kecamatan Arse, menjadi viral setelah warga memutuskan untuk menuntunnya selama 7 jam perjalanan menuju rumah sakit. Wanita tersebut diduga membawa bayi yang sudah meninggal dunia dalam kandungan, sehingga ia harus segera menjalani operasi.

Video menunjukkan bagaimana warga menempatkan wanita itu di atas kain, lalu menuntunnya menggunakan sebatang bambu. Belasan orang bergantian menggotong, melewati jalan setapak di pegunungan. Mereka menempuh jarak sekitar 30 kilometer sebelum akhirnya sampai di rumah sakit di Sipirok, ibukota Kabupaten Tapanuli Selatan.

Mantri Desa, Samsul Bahri Sihombing, yang sempat memeriksa kondisi wanita hamil tersebut, menceritakan kejadian itu. Ia mengingat bahwa ia pertama kali diminta warga untuk datang dan memeriksa. “Kan saya dapat telepon itu, makanya Jumat itu, sore berangkat ke sana tiba saya sampai di sana habis salat Isya, kira‑kira jam 8 malam. Ternyata saya cek, menurut amat saya tadi, bayi yang di dalam petut itu di kandungan ibu itu telah meninggal,” kata Samsul Bahri Sihombing pada 11 Mei 2026.

Setelah mengetahui kondisi ibu hamil, Samsul menyarankan agar wanita itu dibawa ke rumah sakit di Sipirok. Warga kemudian berangkat pada 9 Mei 2026 pagi, menggotong wanita hamil itu sepanjang perjalanan. Ia menjelaskan, “Makanya saya anjurkan pada hari Sabtu tanggal 9, dibawa ke rumah sakit. Makanya dibawa, digotong lah, ditandu, rame‑rame. Sekitar perjalanan 7 jam menempuh 30 kilometer l ah biar sampai ke Dusun Hasahatan, Kecamatan Sipirok, biar dapat mobil,” jelasnya.

Rombongan itu tiba di rumah sakit pada sore hari, sehingga operasi dapat dilaksanakan keesokan harinya. Setelah operasi, wanita hamil selamat, sementara bayi dalam kandungan memang meninggal. Samsul melanjutkan, “Sampai di rumah sakit karena berhubungan sudah sore, operasinya berlangsung hari Minggu, tanggal 10. Operasinya berjalan, ternyata ibu itu sehat, ternyata bayinya itu sudah meninggal,” ucapnya.

Ia menambahkan bahwa kejadian serupa tidak pertama kalinya di wilayah tersebut. “Dari dusun yang lain, Dusun itu kan orang itu satu desa tiga dusun. Pambongol itu, sudah dua kali kejadian kayak gitu juga, digotong menuju Kecamatan Arse. Itu pun sekitar 7 jam lah perjalanannya,” ujarnya.

Selain masalah kesehatan, Samsul juga menyoroti masalah infrastruktur. Ia mengatakan bahwa bidan yang pernah ditugaskan di sana telah pindah karena tidak tahan. “Bidan pun sudah pernah ditugaskan di sana, nggak tahan orang itu, ngurus pindah dia,” ungkapnya. Jaringan listrik PLN belum menyentuh permukiman warga di sana, dan penerangan tenaga surya yang ada sudah banyak rusak. “Ada penerangan di situ tenaga surya, karena usianya sudah lama, sudah banyak yang rusaklah, nggak layak dipakai lagi. itulah butuh perhatian pemerintah, apa tenaga surya lagi dipasang yang baru, atau kincir,” tuturnya.

Kasus ini menyoroti tantangan akses kesehatan di daerah terpencil. Perjalanan panjang, kurangnya fasilitas medis, dan infrastruktur yang buruk menambah beban warga. Pemerintah lokal perlu memperhatikan kebutuhan listrik, tenaga surya, dan tenaga kesehatan di wilayah ini agar kejadian serupa dapat dihindari di masa depan.

Tapanuli Selatanvideo wanita hamilpengantaran 7 jamrumah sakit Sipirokbidaninfrastruktur listrik PLNakses kesehatan terpencil

Komentar

Memuat komentar...