Warung Pecel Lele Denpasar Jadi Panggung Projection Mapping

Fitri A. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 82 dibaca
Bisik.id
Warung Pecel Lele Denpasar Jadi Panggung Projection Mapping

Gambar atau konten salah?

Warung pecel lele di Denpasar, Bali, tak lagi hanya tempat makan. Pada akhir pekan lalu, tenda sederhana yang biasanya menampung menu lele, ayam, dan sambal berubah menjadi panggung seni digital. Desainer visual Dian Yuniastu mengubah banner warung Lalapan Wakuncar menjadi instalasi projection mapping yang memukau.

Konsep projection mapping memanfaatkan proyeksi video untuk menampilkan gambar 3‑dimensi pada permukaan fisik. Dalam proyek ini, banner yang dulunya berisi gambar menu berubah menjadi layar bergerak. Ayam goreng, lele, sambal, dan ikon-ikon emoji muncul secara dinamis, menambah nuansa street art yang cerah. Dian mengunggah video di media sosial, menampilkan transformasi tersebut. Ia mengungkapkan bahwa ide awalnya datang dari keinginannya membuat projection mapping pada banner warung lalapan yang biasa ditemui di jalanan Indonesia.

Video tersebut segera menarik perhatian netizen. Banyak yang memuji kreativitasnya, menilai bahwa karya ini berhasil menggabungkan budaya kuliner kaki lima dengan seni digital modern. Beberapa komentar di media sosial menyebutnya sebagai “karya visual yang dekat dengan keseharian masyarakat” dan “menarik bagi warga sekitar”.

Proyek ini tidak hanya sekadar instalasi visual. Ia menjadi bagian dari rangkaian acara Road to Warung Terang, yang diselenggarakan oleh @wearefilamen dan @klfestivalmy. Acara tersebut akan digelar di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 08 Mei 2023 hingga 10 Mei 2023 dan kembali pada 15 Mei 2023 hingga 17 Mei 2023. Konsep acara ini menampilkan street‑style projection mapping activation dengan berbagai karya digital, visual langsung, dan takeover seniman.

Netizen mengungkapkan rasa terkejut dan kagum. “Pecel lele naik kelas ini mah,” tulis salah satu pengguna. “Berkelas beneran dah ini, kayaknya ke sini bukan makan doang, sambil nobar enak ini,” tambah yang lain. Kesan tersebut menunjukkan bahwa tenda sederhana dapat menjadi ruang ekspresi kreatif yang tak biasa.

Selain menambah nilai estetika, instalasi ini juga menyoroti potensi warung kaki lima sebagai platform seni. Dengan menggunakan teknologi projection mapping, karya ini membuka peluang bagi pelaku usaha kecil untuk menampilkan identitas mereka secara lebih menarik. Kegiatan ini juga menambah daya tarik bagi pengunjung, yang kini tidak hanya datang untuk mencicipi lele, tetapi juga menyaksikan pertunjukan visual yang memukau.

Secara keseluruhan, proyek ini menegaskan bahwa seni digital dapat berkolaborasi dengan budaya lokal tanpa mengorbankan fungsi aslinya. Warung pecel lele di Denpasar menjadi contoh bagaimana kreativitas dapat menghidupkan kembali ruang publik yang sederhana, menjadikannya tempat yang lebih hidup dan berwarna bagi masyarakat.

Warung Pecel LeleProjection MappingSeni DigitalKuliner Kaki LimaDenpasarStreet ArtMedia Sosial

Komentar

Memuat komentar...