What The Puff: 3 Gerai, 500.000 SGD Omzet, Ekspansi 10

Fajar H. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 56 dibaca
Bisik.id
What The Puff: 3 Gerai, 500.000 SGD Omzet, Ekspansi 10

Gambar atau konten salah?

Di Singapura, hawker centre menjadi tempat ramai orang menikmati makanan kaki lima. Budaya ini memberi peluang bagi banyak pengusaha muda untuk memulai bisnis dengan modal kecil namun potensi pendapatan tinggi.

Berawal pada Desember 2024, tiga saudara Lim—Lim Yuan Ming (23), Brandon Lim (29), dan mitra mereka Oh Chin Jie (31)—mendirikan gerai What The Puff. Gerai ini menjual pastel isi kari, atau yang lebih dikenal sebagai curry puff, dengan harga mulai dari 2 SGD (Rp 27.300).

Menurut data yang dikumpulkan pada 04 Mei 2026, usaha ini telah mencapai omzet sekitar 500.000 SGD, setara Rp 6,8 miliar pada tahun 2025. Dari satu gerai, mereka memperluas ke tiga gerai dalam waktu kurang dari satu tahun.

Setiap hari, tim ini memproduksi sekitar 1.500 curry puff. Varian rasa yang ditawarkan meliputi keju, char siew, dan beberapa varian lainnya. Ide usaha ini terinspirasi dari warung makan orang tua Lim di Block 216 Bedok Food Centre and Market. Melihat orang tua mereka memasak lebih dari 20 menu setiap hari tanpa henti, Lim Yuan Ming menyatakan, “Kami melihat perjuangan mereka yang harus memasak lebih dari 20 menu makanan setiap hari dan bekerja tanpa lelah sejak pagi.”

Lim Yuan Ming menambahkan, “Curry puff dipilih karena lebih sederhana, namun tetap memiliki potensi besar jika dikembangkan.” Ia juga mengungkapkan, “Curry puff adalah jajanan ikonik masa kecil kami. Kami ingin memberi sentuhan modern agar generasi baru kembali menyukainya.”

Pengelolaan usaha dibagi secara jelas. Oh Chin Jie bertanggung jawab atas pengembangan resep, Brandon Lim mengelola operasional, sementara Lim Yuan Ming mengurus administrasi dan pemasok. Riset intensif dimulai pada Oktober 2024, termasuk 10 kali revisi resep untuk varian Cheesy Curry Puff.

Gerai pertama dibuka di Changi Village Hawker Centre dengan modal sekitar 10.000 SGD (Rp 137 juta). Awalnya gerai tersebut sepi, namun pelanggan kembali membeli, memberi dorongan bagi ekspansi. Gerai kedua dibuka di Bedok, dan gerai ketiga di Punggol Coast Hawker Centre, yang kini menjadi lokasi paling populer.

Perjalanan usaha tidak selalu mulus. Lim Yuan Ming harus bekerja hingga 14 jam sehari sambil kuliah di Singapore University of Social Sciences. Ia juga menghadapi kerugian akibat 400 curry puff basi karena masalah kulkas. Meskipun begitu, pengalaman tersebut memperkuat kerja sama tim. “Kami belajar lebih sabar dan berkomunikasi lebih baik, bahkan dalam hal yang sulit seperti keuangan,” ujar Lim Yuan Ming.

Ketiganya kini fokus menjaga kualitas dan konsistensi rasa curry puff. Mereka juga merencanakan ekspansi hingga 10 gerai dalam lima tahun ke depan. “Saya belajar bahwa tidak semua berjalan sesuai rencana, tetapi selalu ada cara untuk mewujudkan ide menjadi kenyataan,” tutup Lim Yuan Ming.

Dengan modal awal Rp 137 juta, omzet Rp 6,8 miliar, dan rencana ekspansi yang ambisius, ketiga pengusaha muda ini menunjukkan bahwa makanan tradisional dapat diubah menjadi bisnis yang menguntungkan. Mereka memadukan rasa nostalgia dengan inovasi modern, sekaligus menyesuaikan diri dengan tantangan operasional dan keuangan yang nyata. Hasilnya, mereka tidak hanya berhasil memonetisasi jajanan masa kecil, tetapi juga membuka peluang bagi generasi berikutnya untuk menikmati cita rasa yang telah disempurnakan.

Curry puffWhat The Puffhawker centrepengusaha mudaomzetekspansiSingapore

Komentar

Memuat komentar...