WHO: Keracunan Makanan Menyebabkan 1,5 Juta Kematian Tahunan
Gambar atau konten salah?
Keracunan makanan tetap menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat di seluruh dunia. Setiap tahun, lebih dari 1,5 juta orang meninggal karena penyakit yang disebabkan oleh makanan terkontaminasi, sementara 885 juta kasus penyakit akibat makanan dilaporkan.
Analisis terbaru dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa penyebab keracunan tidak hanya terbatas pada makanan basi atau proses pengolahan yang kurang higienis. Berbagai faktor lain, seperti bakteri, parasit, virus, dan logam berat beracun, turut berperan sebagai pemicu utama gangguan kesehatan yang berasal dari makanan.
Menurut WHO, bakteri masih menjadi penyebab terbesar kasus keracunan makanan. Pada tahun 2021, sekitar 250 ribu orang meninggal setelah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi bakteri berbahaya. Bakteri seperti Campylobacter dan E. coli sering ditemukan pada daging unggas yang kurang matang, susu mentah, serta buah dan sayuran yang tidak dicuci bersih sebelum dikonsumsi.
Kasus keracunan makanan juga banyak dikaitkan dengan kebiasaan mengonsumsi bahan makanan yang tidak dimasak sempurna. Daging, unggas, dan produk susu yang tidak melalui proses pengolahan sesuai standar berisiko menjadi media berkembangnya mikroorganisme berbahaya.
Selain bakteri, WHO menyoroti ancaman dari Listeria yang banyak ditemukan pada produk susu yang tidak dipasteurisasi. Meski infeksinya sering kali ringan pada orang dewasa sehat, bakteri ini dapat menimbulkan dampak serius bagi ibu hamil dan bayi baru lahir, termasuk keguguran, bayi lahir mati, hingga infeksi berat pada bayi.
Keracunan makanan juga dapat dipicu oleh parasit yang mencemari bahan pangan. Organisme ini umumnya ditemukan pada sayuran yang terpapar pupuk berbahan kotoran hewan atau manusia. Parasit juga dapat mengontaminasi daging sapi dan babi yang kurang matang atau disimpan pada suhu yang tidak sesuai.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menekankan pentingnya keamanan pangan. Ia berkata, “Keamanan pangan bukanlah isu yang abstrak. Ini berkaitan dengan setiap makanan, setiap keluarga, dan setiap hari,” ujarnya.
Temuan ini menjadi pengingat penting bahwa keamanan makanan tidak hanya bergantung pada kualitas bahan makanan, tetapi juga cara penyimpanan, pengolahan, dan kebersihan selama proses memasak. Menjaga agar makanan matang sempurna dan higienis menjadi salah satu langkah sederhana untuk mengurangi risiko keracunan makanan.
Kesimpulannya, meski keracunan makanan masih menjadi masalah global, kesadaran akan faktor-faktor penyebab dan penerapan praktik sanitasi yang baik dapat membantu melindungi kesehatan masyarakat.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Bayi Gajah Sumatera Lahir di Lembah Hijau, Berat 123 Kg
Pekanbaru Luncurkan Logo HUT Ke-242: Kolaborasi Aksi
Tahun Baru Islam 1448 H: 1 Muharram 16 Juni 2026 Diperingati
PIP 2026 Cair: Siswa SD, SMP, SMA Dapat Bantuan Sekarang
Investor Asing Menjual Besar Rp4,1 Triliun, IHSG 6.127,38
Timnas Indonesia Hadapi Oman di Garuda Championship 2026
Slamet Santoso Pemain Banyuwangi TKI Debut di Sokol Pyrzyce
