Yakuza Maneges Terbuka di Kediri, Fokus Dakwah Sosial
Gambar atau konten salah?
Yakuza Maneges adalah komunitas yang baru saja diumumkan di Kota Kediri. Nama yang sama dengan geng mafia Jepang membuat banyak orang penasaran, namun gerakan ini sebenarnya menekankan dakwah sosial dan spiritual bagi masyarakat yang sering terpinggirkan.
Pimpinan utama komunitas ini adalah Gus Thuba, seorang pemuda yang dikenal aktif dalam dunia spiritualitas pesantren. Ia meresmikan Yakuza Maneges pada hari Sabtu, 09 Mei 2026, di sebuah acara yang dihadiri oleh pejabat kota dan tokoh masyarakat.
Acara peresmian tersebut mendapat sambutan hangat dari Wali Kota Kediri, Vinanda Prameswati. Ia menyatakan bahwa Kediri adalah kota yang terbuka bagi siapa pun yang ingin berkontribusi positif. “Saya sangat mengapresiasi lahirnya komunitas Yakuza Maneges ini. Kediri adalah kota yang terbuka bagi siapa pun yang ingin berkontribusi positif bagi masyarakat. Komunitas ini membuktikan bahwa perubahan tidak selalu datang dari atas, ia bisa lahir dari bawah, dari jiwa-jiwa yang selama ini dianggap pinggiran. Kami dari Pemerintah Kota Kediri siap bersinergi, karena semangat Yakuza Maneges sejalan dengan visi kami membangun Kediri yang inklusif, guyub, dan berkeadaban,” kata Wali Kota pada hari tersebut.
Gus Thuba mengakui bahwa inspirasi utama datang dari KH Hamim Tohari Djazuli, atau yang lebih dikenal sebagai Gus Miek. Gus Miek adalah ulama karismatik yang hidup pada era 1940-an dan wafat pada 5 Juni 1993. Ia merupakan kakek spiritual Gus Thuba dan dikenal tidak seperti kiai konvensional. Ia dekat dengan kaum preman, seniman jalanan, dan masyarakat marjinal.
Gus Miek mendirikan Jamaah Al-Khidmah dan Jamuro (Jamaah Muji Rosul), sebuah gerakan zikir dan selawat yang menargetkan kalangan yang jauh dari masjid. Ia menyatakan, “Gus Miek iku dakwah-ne ning pinggiran. Orang yang tidak bisa diajak ke masjid, ya didatangi di tempatnya.” Filosofi ini menjadi dasar bagi Yakuza Maneges.
Gus Thuba menekankan bahwa ia mengadopsi metode dakwah Gus Miek secara langsung di lapangan. Ia mewarisi pandangan bahwa orang yang dianggap “nakal”, “preman”, atau “terbuang” sebenarnya adalah ladang dakwah yang sejati. Mereka tidak untuk dihakimi, melainkan dirangkul dan diberdayakan.
Nama Yakuza memang sering menimbulkan kontroversi. Namun Gus Thuba menjelaskan bahwa nama tersebut dipilih dengan sadar dan memiliki makna tersendiri. Ia berkata, “Di bawah pimpinan saya, organisasi ini berdiri dengan semangat spiritual dan kemanusiaan yang kuat. Yakuza Maneges merupakan tempat bagi saudara-saudara kita yang sering kita sebut sebagai santri jalur kiri.” Dalam pandangannya, istilah tersebut merujuk pada orang-orang yang pernah tersesat, berada di jalan yang keliru, atau pernah terjerumus dalam kesalahan, namun memiliki niat kuat untuk memperbaiki diri dan kembali ke jalan yang benar.
Menurut Gus Thuba, Yakuza Maneges tidak mengadopsi gaya hidup kriminal Yakuza Jepang. Sebaliknya, komunitas ini mengambil semangat perlawanan terhadap sistem yang meminggirkan rakyat kecil. Kata “Maneges” dalam bahasa Jawa berarti jernih atau bening, menggambarkan jiwa yang tampak keras di luar namun jernih di dalam. Ideologi komunitas ini dibangun di atas tiga pilar: inklusivitas, spiritualitas jalanan, dan solidaritas akar rumput.
Selama peresmian, Kasatreskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Edy Herwiyanto juga hadir dan memberikan apresiasi atas deklarasi Yakuza Maneges. Ia menegaskan bahwa pemerintah kota akan mendukung komunitas yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat. “Selama niatnya baik dan manfaatnya nyata untuk warga Kediri, kami hadir untuk mendukung. Bukan menghambat,” ujar beliau.
Acara peresmian berlangsung meriah dan penuh nuansa kultural. Terdapat pertunjukan musik tradisional, tarian, dan sesi dakwah singkat yang menampilkan pesan tentang inklusivitas dan solidaritas. Peserta dari berbagai lapisan masyarakat, termasuk pelajar, pekerja, dan pengusaha, turut hadir untuk menyaksikan langkah baru ini.
Gus Thuba berharap Yakuza Maneges dapat menjadi jembatan antara masyarakat pinggiran dan nilai-nilai luhur kemanusiaan. Ia percaya bahwa gerakan sosial tidak harus tampil dalam format konvensional. Dengan semangat yang diwariskan Gus Miek, komunitas ini berusaha merangkul semua orang, apapun latar belakangnya.
Dalam konteks sosial Kediri, Yakuza Maneges menandai perubahan cara dakwah dan gerakan sosial. Ia menunjukkan bahwa perubahan dapat muncul dari bawah, dari jiwa-jiwa yang selama ini dianggap pinggiran. Dukungan pemerintah kota dan kehadiran tokoh masyarakat menambah legitimasi gerakan ini. Dengan tiga pilar utama, komunitas ini berpotensi memperkuat solidaritas di tingkat akar rumput dan memperluas jangkauan dakwah ke masyarakat yang sebelumnya tidak terjangkau.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ratusan Monyet Ekor Panjang Turun ke Pasar, Cari Makan
Guru SD di Sidoarjo Naik Perahu Demi Mengajar saat Banjir Rob
Messi Geser Mbappe di Puncak Top Skor Piala Dunia
Penyebab Karhutla: dari Hal Sepele hingga Bencana
KAI Bantah Penguntit Penumpang Wanita di Supas adalah Pegawai
Banjir Rob Kalianak Semakin Parah, Warga Minta Dam Dibangun
