Yao Shunyu Jadi Kepala Ilmuwan AI Tencent, Target AGI China

Cahyo S. · 2 min baca · 1 jam lalu · 29 dibaca
Bisik.id
Yao Shunyu Jadi Kepala Ilmuwan AI Tencent, Target AGI China

Gambar atau konten salah?

Yao Shunyu, mantan peneliti di OpenAI, kini memegang jabatan Kepala Ilmuwan AI (Chief AI Scientist) di Tencent. Ia menaruh ambisi membangun kecerdasan buatan umum, atau AGI, di China. Langkah ini menandai pergeseran dalam persaingan teknologi antara Amerika Serikat dan China.

Perusahaan-perusahaan AS seperti OpenAI, Anthropic, dan Alphabet menargetkan AGI—AI yang mampu beroperasi setara atau melebihi kecerdasan manusia. Sementara itu, perusahaan China, yang dulu lebih fokus pada aplikasi praktis di pabrik dan barang elektronik, kini bergegas mengejar ketertinggalan di bidang AI, terutama setelah pembatasan chip AS.

Robin Li, CEO Baidu, pernah memprediksi AGI baru akan tercapai setidaknya pada 01 Januari 2034, berlawanan dengan proyeksi Elon Musk yang menargetkan pencapaian tersebut pada 01 Januari 2026. Seiring berjalannya waktu, perusahaan-perusahaan China mulai merekrut talenta dari Silicon Valley dan secara perlahan mengadopsi visi serupa dengan perusahaan AS.

Yao Shunyu bergabung dengan Tencent pada tahun lalu setelah meninggalkan OpenAI. Ia mengungkapkan, “Tujuan pribadi saya adalah kita harus membangun sebuah organisasi AGI jangka panjang di China.”

Diskusi tentang tahap pengembangan AI selanjutnya berlangsung bersama Dowson Tong, eksekutif Tencent Cloud, di sebuah acara perusahaan di Beijing. Acara tersebut diselenggarakan bersama otoritas setempat, dan seorang pejabat senior Beijing memberikan pidato pembukaannya.

Yao menambahkan, “Saya rasa ChatGPT atau Claude takkan jadi satu-satunya super-app.” Ia menekankan masih ada potensi belum tergarap bernilai triliunan dolar. Ia juga menyoroti strategi China ke depan, yaitu lebih bertumpu pada model AI yang lebih kecil namun kinerjanya lebih konsisten untuk menyelesaikan tugas-tugas dasar.

Optimisme Yao berlawanan dengan kehati-hatian yang meningkat di AS. Anthropic memperingatkan bahwa model terdepan kini semakin mendekati titik di mana mereka dapat mengembangkan kemampuan sendiri tanpa pengawasan manusia. Mereka menyerukan pelambatan atau penghentian sementara pengembangan model baru guna mencegah disrupsi besar.

Ketidakpastian seputar kebijakan imigrasi AS mendorong warga negara China mencari pekerjaan di tanah air, meski dengan bayaran yang mungkin lebih rendah. China saat ini juga menggenjot investasi untuk menarik minat talenta unggul, serta menggelontorkan lebih banyak dana untuk penelitian dalam upaya mengejar terobosan ilmiah selama lima tahun ke depan.

Berbagai perusahaan terus bersaing untuk merekrut talenta, baik yang berada di dalam negeri maupun di luar negeri. Alibaba dilaporkan telah merekrut peneliti Google DeepMind, Hao Zhou, untuk mendukung pengembangan AI Qwen. Sementara itu, Wu Yonghui, Wakil Presiden Penelitian di Google DeepMind, meninggalkan posisinya di California pada 01 Februari 2025 untuk memimpin divisi penelitian di ByteDance Seed.

Langkah serupa terlihat pada berdirinya startup Moonshot, perusahaan di balik model Kimi AI, yang didirikan oleh Yang Zhilin, mantan karyawan Meta AI dan Google Brain.

Pergerakan ini menandai perlombaan global dalam mengembangkan AI yang lebih canggih. China berusaha menutup jarak dengan AS melalui investasi besar dan rekrutmen talenta internasional. Sementara AS menyesuaikan kebijakan dan memperhatikan risiko etis, kedua belah pihak tetap bertekad mencapai AGI, meski jalur dan strategi mereka berbeda.

Yao ShunyuTencentAGIOpenAIChinatalenta Silicon Valleyinvestasi AIperbandingan AS-China

Komentar

Memuat komentar...