Yayasan Bagea Berjuang Membantu Anak Jalanan Bandung Kehidupan

Ningsih R. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 96 dibaca
Bisik.id
Yayasan Bagea Berjuang Membantu Anak Jalanan Bandung Kehidupan

Gambar atau konten salah?

Yayasan Bagea terletak di Jl. Cibuntu Selatan, Wr. Muncang, Kecamatan Bandung Kulon. Rumah sederhana ini menjadi tempat belajar bagi anak jalanan dan anak keluarga rentan yang sering terpinggirkan. Tidak seperti sekolah formal dengan seragam dan ruang kelas megah, tempat ini tumbuh dari empati dan kepedulian terhadap anak-anak yang hidup di tengah kerasnya jalanan kota Bandung.

Yayasan ini didirikan oleh Suminah (50) pada tahun 2005. Nama Bagea sendiri merupakan singkatan dari “Bangun Bahagia Sejahtera”. Ia memulai kegiatan ini setelah melihat banyak anak putus sekolah dan keluarga yang hidup dalam tekanan ekonomi. “Waktu itu saya tinggal di sini dengan kondisi lingkungan yang tidak sehat. Banyak anak yang tidak bersekolah, mereka semua dieksploitasi secara ekonomi,” kenang Ibu Sumi menceritakan awal mula berdirinya yayasan ini.

Awalnya, Suminah bekerja sama dengan sejumlah NGO internasional untuk membantu anak-anak marginal. Seiring waktu, ia membangun pendampingan secara mandiri dan menjadikan Yayasan Bagea sebagai tempat belajar alternatif bagi anak jalanan di Bandung. “Banyak anak yang tidak sekolah dan orang tuanya hidup dalam tekanan ekonomi. Dari situ muncul empati untuk membantu mereka lewat pendidikan,” ujarnya.

Anak-anak yang dibina Yayasan Bagea berasal dari latar belakang yang beragam. Tidak hanya anak jalanan, tetapi juga anak pemulung dan anak keluarga pekerja malam. Banyak di antaranya datang dengan rasa minder dan tidak percaya diri karena kondisi keluarga mereka. “Ada anak-anak yang malu keluar rumah karena sering mendapat stigma dari lingkungan sekitar,” katanya.

Yayasan Bagea tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang aman untuk tumbuh dan diterima. Meskipun sudah mengabdi lebih dari dua dekade, Yayasan Bagea masih harus berjuang dengan keterbatasan fasilitas. Saat ini, mereka menempati bangunan dengan status sewa seharga Rp1 juta per bulan. Biaya ini menjadi tantangan tersendiri di samping kebutuhan pangan dan pendidikan harian bagi 122 anak binaan yang aktif. “Besar sekali artinya, karena di dalamnya tadi terdiri orang-orang miskin yang perlu ditangani oleh kita. Jadi kita perlu memanusiakan manusia, di sinilah tempatnya,” ujar Ibu Sumi.

Dari 122 anak yang binaan aktif, hanya sekitar 41 anak yang mengenyam pendidikan formal, sementara sisanya mengikuti pembelajaran alternatif dan penguatan keterampilan hidup. Bagi Suminah, pendidikan menjadi cara penting untuk memutus lingkaran kehidupan jalanan. Ia mengaku tidak ingin anak-anak binaannya tumbuh tanpa arah hingga terjebak dalam kriminalitas. “Kalau mereka tetap hidup di jalan tanpa pendidikan, risikonya bisa terjerumus ke hal-hal negatif,” ujarnya.

Karena itu, Yayasan Bagea berupaya memberikan pendampingan hingga anak-anak memasuki usia dewasa. Setelah menyelesaikan pendidikan setara Paket C, sebagian anak diarahkan untuk bekerja di perusahaan atau mencari pekerjaan yang lebih layak. Menjalankan yayasan dengan ratusan anak binaan tentu bukan hal mudah. Suminah mengatakan, sebagian besar biaya yayasan berasal dari donasi masyarakat dan mahasiswa yang peduli terhadap isu sosial. Meski memiliki keterbatasan, ia tetap berharap Yayasan Bagea suatu hari memiliki tempat belajar yang lebih layak dan permanen. “Harapan saya, anak-anak ini punya kehidupan yang lebih baik dan dihargai sebagai manusia,” katanya.

Salah satu bukti nyata keberadaan yayasan ini adalah Daffa, berusia 14 tahun, yang sudah belajar di sini selama tiga tahun. Meskipun setiap hari ia harus berjalan jauh dari Pasir Koja hingga ke Alun-Alun Bandung untuk berjualan permen, Daffa tetap menyempatkan diri untuk belajar. Di Yayasan Bagea, Daffa belajar menulis, menggambar, hingga Bahasa Inggris. “Disini belajar gambar, bahasa Inggris. Terus senengnya belajar matematika,” kata Daffa singkat saat menceritakan kegiatannya di yayasan.

Walaupun jalannya tidak mudah, Daffa memiliki mimpi setinggi langit yang terus dipupuk melalui bimbingan kakak-kakak pengajar. “Cita-citanya pengen jadi TNI Angkatan Udara. Jadi pilot,” tambahnya dengan penuh harap.

Yayasan Bagea tetap berfokus pada pendidikan dan pengembangan diri anak-anak yang sebelumnya terpinggirkan. Dengan dukungan donasi dan semangat para pendiri, yayasan ini terus berusaha memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk memulai hidup yang lebih baik. Suminah berharap generasi muda yang dibina dapat tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, terdidik, dan dihargai sebagai manusia.

Yayasan Bageaanak jalananpembelajaran alternatifdonasi masyarakatBandungPendidikan formalketerbatasan fasilitas

Komentar

Memuat komentar...