Yong‑jun, Bayi Pertama di Eunha Setelah 17 Tahun di Korea
Gambar atau konten salah?
Pada Sabtu, 28 Maret 2026, desa kecil di Korea Selatan bernama Eunha menyambut kelahiran bayi pertama dalam 17 tahun terakhir. Bayi ini diberi nama Yong‑jun, dan tangisan kecilnya menjadi suara yang menenangkan warga setempat yang selama dua dekade terakhir tidak pernah mendengar suara bayi.
Seiring kabar kelahiran tersebar, jalanan yang biasanya sepi tiba‑tiba dipenuhi spanduk ucapan selamat. Salah satu spanduk menuliskan, “Hadiah bermakna hadir untuk kami di tahun 2026. Selamat atas kelahiran bayi Yong‑jun.” Ucapan ini menandai harapan baru bagi komunitas yang selama ini khawatir akan masa depan.
Yong‑jun lahir dari pasangan Jeong Hae‑deok dan SYardani, wanita kelahiran Kamboja yang kini menetap di Eunha. Kehadirannya tidak hanya menambah anggota keluarga baru, tetapi juga menjadi titik terang bagi desa yang jumlah penduduknya perlahan menurun.
Selama satu dekade terakhir, populasi Eunha turun dari lebih dari 2 600 menjadi di bawah 2 000 jiwa. Mayoritas penduduknya adalah lansia, sementara angka kelahiran hampir tidak ada. Pada bulan yang sama, satu‑satunya sekolah dasar di desa menerima empat siswa baru untuk kelas 1. Meskipun kecil, kehadiran siswa tersebut memberi arti penting bagi kelangsungan pendidikan di desa.
Perangkat desa setempat, Shim Seon‑ja, menyatakan bahwa kelahiran Yong‑jun menjadi kebahagiaan terbesar warga setelah bertahun‑tahun tidak ada tangisan bayi. Ia berkata, “Kami berkomitmen memberikan dukungan administratif dan kesejahteraan semaksimal mungkin, agar tempat ini tidak hanya menjadi desa yang damai, tetapi juga lingkungan terbaik untuk membesarkan anak,” ujarnya.
Keberadaan bayi pertama setelah 17 tahun di Eunha mencerminkan masalah demografi yang lebih luas di Korea Selatan. Pada tahun 2023, tingkat kelahiran negara tercatat hanya 0,72—terendah di dunia—dan jauh di bawah angka ideal 2,1 yang diperlukan untuk menjaga populasi tetap stabil. Sementara itu, jumlah penduduk berusia 65 tahun ke atas kini mencapai lebih dari 21 % dari total populasi, menempatkan Korea Selatan dalam kategori super‑aged society.
Pemerintah telah meluncurkan berbagai kebijakan, mulai dari bantuan finansial, fasilitas penitipan anak gratis, hingga kemudahan akses hunian bagi pasangan muda. Semua upaya tersebut bertujuan mendorong angka kelahiran dan menstabilkan struktur demografi.
Keberhasilan kecil di Eunha, seperti kelahiran Yong‑jun, menjadi simbol harapan bagi desa yang menghadapi penurunan populasi. Di tingkat nasional, upaya pemerintah terus berlanjut untuk mengatasi tantangan demografi, sementara komunitas lokal tetap bersatu menunggu masa depan yang lebih cerah.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Seleksi PPPK Guru Sekolah Rakyat 2026 Buka 3-15 Juni: Lulusan PPG
Jembatan Batang A: Lalu Lintas Satu Lajur, Rute Alternatif
Gubernur Jateng Atur Ulang Anggaran 2026 untuk Perbaikan Jalan
SPMB Jateng 2026: Pendaftaran Murid Baru Buka Resmi
Kobra Jawa Didampingi Relawan Dilepas dari Rumah di Klaten
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Jawa Tengah Hari Ini Pada
Berita Terbaru
Seleksi PPPK Guru Sekolah Rakyat 2026 Buka 3-15 Juni: Lulusan PPG
Slamet Santoso: Pemuda Banyuwangi Gabung Sokol Pyrzyce
Liburan Baru Fokus Istirahat: Tren Sleep Tourism Meningkat
Pemerintah Perkenalkan Kebijakan Energi Terbarukan 2025
Amalia & Fadia Raih Kemenangan Ganda Putri, Melaju ke P4
Jembatan Selemadeg: Lubang Besar, Perbaikan Masih Menunggu
Jepang Kehilangan 3 Juta Penduduk, Populasi Menurun 123 Juta
Ariston Luncurkan Pemanas Air Andris 3, Kamar Mandi Smart
