AAPA: 33,9 Juta Penumpang Maret 2026, Keterisian 87,6%
Gambar atau konten salah?
Asosiasi Maskapai Asia Pasifik (AAPA) baru saja mengumumkan data trafik penerbangan untuk 01 Maret 2026. Hasilnya menunjukkan lonjakan besar pada perjalanan internasional, meski industri masih menghadapi tantangan global.
Selama bulan tersebut, maskapai di kawasan Asia‑Pasifik mengangkut 33,9 juta penumpang, naik 8,5 % dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Permintaan perjalanan, diukur lewat RPK (Revenue Passenger Kilometres), melonjak 11,3 %, terutama di rute jarak jauh antara Asia dan Eropa. Pertumbuhan ini jauh melampaui kenaikan kapasitas kursi yang hanya 1,9 %. Akibatnya, load factor atau tingkat keterisian kursi melonjak 7,4 poin persentase hingga mencapai rekor 87,6 % pada bulan Maret.
Di sisi lain, konflik di Timur Tengah mengganggu rantai pasok global. Banyak penerbangan kargo dibatalkan dan dialihkan dari hub utama di kawasan tersebut. Meski begitu, permintaan kargo udara internasional tetap tumbuh 2,5 % secara tahunan, didorong kebutuhan pengiriman cepat.
“Industri penerbangan menghadapi berbagai tantangan pada bulan Maret, karena konflik militer di Timur Tengah menyebabkan pembatalan penerbangan dan kenaikan tajam harga bahan bakar jet. Maskapai penerbangan Asia Pasifik merespons dengan cepat dengan melakukan penyesuaian jaringan, termasuk menambah penerbangan pada rute‑rute utama Asia‑Eropa, dan memangkas rute‑rute yang tidak menguntungkan di tengah kenaikan biaya bahan bakar dan operasional. Hal ini mendukung permintaan penumpang dan kargo selama bulan tersebut, sehingga pertumbuhan kuartal pertama mencapai 6,2 %, dengan 102 juta penumpang internasional yang diangkut, dan peningkatan permintaan kargo udara sebesar 5,7 %,” ujar Direktur Jenderal AAPA, Wong Hong.
“Harga bahan bakar jet melonjak hingga 80 % dibanding tahun lalu, mencapai rata‑rata US$156 per barel pada Maret.”
Harga bahan bakar yang melonjak ini menambah tekanan, karena bahan bakar menyumbang sekitar 30 % dari total biaya operasional maskapai. Meski begitu, maskapai di Asia Pasifik tetap berkomitmen menjaga konektivitas internasional, efisiensi operasional, dan standar keselamatan tertinggi.
Ke depan, ketidakpastian akibat konflik di Timur Tengah diperkirakan masih akan membayangi industri penerbangan global. Namun, data menunjukkan bahwa penumpang dan kargo tetap mencari layanan penerbangan, menandakan ketahanan pasar yang kuat.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Empat Anakan Harimau Sumatra Lahir di Taman Safari Prigen
Bandara Husein Sastranegara Dipertimbangkan Rute Luar Jawa
Trans Luxury Hotel Surabaya Buka, Soft Opening Rp999.000
Jatiluwih: Turis Asia Domestik Naik, Barat Turun Pasar Konflik
Pendaki Terjatuh di Gunung Semeru, Evakuasi Sempat Lama
Allo PayLater dan Allo Prime Diskon 20% di Trans Studio
Berita Terbaru
Lirik Lagu Timur: Rindu dan Harapan di Jarak Jauh Menyusuri
Gaji Ke-13 2026: Mulai Bayar ASN, TNI, Polri, Pensiunan
Bloom Putih Anggur: Lapisan Lilin Alami, Bukan Jamur
Surabaya Target 250 Medali Emas Porprov Jatim 2027
Hanya 8 Tim Piala Dunia 2026 Punya Pemain Lokal, 310 Luar Negeri
SPMB Jakarta 2026: Daftar Sekolah dengan Skor UTBK 2022
KAI Butuh Rp1,2 Triliun & 8.000 Petugas Perlintasan Sebidang
Dolar AS Beruat Rp 18.000, Rupiah Terdampak Kuat Pada Hari
