Adang Kupat: Tradisi Ketupat Bersama Warga Dusun Kebonsari

Andi B. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 35 dibaca
Bisik.id
Adang Kupat: Tradisi Ketupat Bersama Warga Dusun Kebonsari

Gambar atau konten salah?

Adang Kupat adalah tradisi memasak ketupat massal yang digelar di Dusun Kebonsari, Desa Delanggu, Kecamatan Delanggu, Klaten. Kegiatan ini diselenggarakan tujuh hari setelah Idul Fitri 1447 H/ 2026, sebagai bagian dari Bakda Kupat.

Acara dimulai dengan doa bersama, lalu dilanjutkan workshop pembuatan kelontongan ketupat. Peserta tidak hanya warga lokal, melainkan juga mahasiswa dan komunitas dari luar wilayah. Workshop dipandu oleh sesepuh dusun, termasuk Suparno, salah satu sesepuh Kebonsari.

Setelah workshop, kelontongan ketupat yang sudah jadi diisi beras dan dimasak bersama. Para peserta menggunakan 30 dandang dan kayu bakar untuk memasak nasi. Semua proses dilakukan secara kolaboratif, menegaskan semangat gotong‑royong.

Suparno menjelaskan bahwa Adang Kupat merupakan rangkaian tradisi Bakda Kupat yang digelar setiap tujuh hari pertama di bulan Syawal. Ia menekankan pentingnya tradisi ini untuk melestarikan nilai‑nilai luhur. “Menurut Kanjeng Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga, kupat ini memiliki nilai filosofis sangat tinggi, kupat artinya ngaku lepat atau mengakui kesalahan karena dalam Hablum Minallah dan Hablum Minannas, hubungan kita dengan Allah dan sesama manusia tidak luput dari kesalahan‑kesalahan sehingga momen ini untuk saling memaafkan,” ungkap Suparno.

Ia juga menjelaskan makna simbolis ketupat. “Kupat terbuat dari janur (daun kelapa muda) juga memiliki arti laku papat, empat laku untuk mencapai janur, sejatinya nur (cahaya hati) yang meliputi syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat.” Tradisi ini telah berlangsung sejak tahun 1950. Puncak acara biasanya diikuti kenduri ketupat dengan membaca doa Nabi Sulaiman, karena mayoritas warga di sini adalah petani dan peternak. Mereka memohon rejeki melimpah.

Menurut Suparno, sekitar 1.500 ketupat dimasak dalam kegiatan Adang Kupat ini. Tiga jenis ketupat dibuat: ketupat luar, sinto, dan tumpeng. Semua dibuat bersama, dimasak bersama, kemudian dikirab, didoakan, dan dimakan bersama.

Rafiki, seorang peserta berusia 15 tahun, mengungkapkan rasa senangnya mengikuti tradisi ini. “Ternyata susah (membuat kelontongan ketupat), saya buat satu saja tidak selesai. Senangnya ini untuk acara silaturahmi, memperkuat kerukunan masyarakat,” ujarnya.

Acara Adang Kupat di Dusun Kebonsari menunjukkan bagaimana tradisi lokal dapat memperkuat tali silaturahmi, mempromosikan nilai-nilai keagamaan, dan mengajak generasi muda berpartisipasi aktif dalam kegiatan budaya. Dengan melibatkan mahasiswa dan komunitas luar, tradisi ini tetap relevan dan dinamis, sekaligus menjaga warisan budaya yang telah ada sejak lama.

Adang Kupatketupat massalDusun KebonsariBakda Kupatgotong-royongtradisi budayagenerasi muda

Komentar

Memuat komentar...