Rumor Erupsi Gunung Lawu 7 Tidak Terdukung Data BMKG
Gambar atau konten salah?
Unggahan di media sosial yang menyebut Gunung Lawu menempati urutan nomor 7 sebagai gunung yang akan mengalami erupsi besar dalam waktu dekat menjadi viral, menimbulkan heboh di kalangan pendaki dan masyarakat umum. Rumor ini menyatakan bahwa gunung berapi ini sedang menunjukkan tanda-tanda aktivitas, sehingga banyak orang mulai menunggu kabar resmi.
Di pos pendakian Cemoro Sewu, Magetan, para pendaki menanggapi isu tersebut dengan santai, menolak untuk langsung percaya pada kabar yang belum terverifikasi. Mereka menekankan bahwa kondisi jalur pendakian tetap normal dan aman, sehingga tidak ada alasan untuk panik di antara pendaki.
Salah satu pendaki, Aurel (20), mengaku kondisi di sepanjang jalur pendakian hingga ke puncak Lawu dalam keadaan normal dan kondusif. Ia meminta masyarakat tidak langsung menelan mentah-mentah kabar burung yang beredar di jagat maya.
“Saya baru turun mendaki, alhamdulillah aman. Kita tidak perlu langsung percaya dan cari kebenaran dulu,” ujar Aurel pada 19 Juni 2026.
Aurel mengaku dirinya bahkan belum sempat membaca narasi viral itu saat berada di atas gunung.
“Saya belum lihat media sosial dan baru dengar ini,” tandasnya.
Hal senada diutarakan Muhammad (20), pendaki asal Aceh yang sedang menempuh pendidikan di Kampung Inggris, Kediri. Ia mengaku tidak mendengar kasak-kusuk mengenai isu Lawu yang dikabarkan akan meletus sewaktu-waktu.
“Belum dengar, saya dari Aceh kebetulan sedang di Kediri di Kampung Inggris,” papar Muhammad.
Muhammad berpesan kepada sesama rekan pendaki agar tidak terjebak dalam kepanikan massal sebelum ada rilis data ilmiah dari lembaga yang berwenang.
“Kita jangan panik, tunggu kabar dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG),” katanya.
Di sisi lain, Asisten Perhutani (Asper) BKPH Lawu Selatan, Mulyadi mengonfirmasi bahwa tren jumlah pendaki pada bulan Suro tahun ini memang tercatat mengalami penurunan dibanding periode tahun lalu. Namun, ia menegaskan penurunan animo tersebut murni karena siklus kunjungan biasa, bukan akibat pengaruh dari isu miring di media sosial.
“Kalau jumlah pendaki bulan Suro ini dibanding tahun lalu menurun. Tapi bukan pengaruh isu Gunung Lawu erupsi,” ungkap Mulyadi.
Pihak Perhutani mengimbau para pendaki untuk tetap tenang dan selalu menyaring informasi dari sumber resmi. Walau demikian, kewaspadaan dasar saat berkegiatan di alam bebas tetap harus dijaga mengingat status geologis Lawu.
“Kita imbau pendaki tidak panik namun waspada. Karena Gunung Lawu salah satu gunung berapi aktif yang lama tidur. Ada kawah juga berada di pos dua kawasan Karanganyar,” pungkas Mulyadi.
Mulyadi menegaskan bahwa Gunung Lawu masih aktif, dengan kawah yang terletak di pos dua kawasan Karanganyar, sehingga kewaspadaan tetap diperlukan meski tidak ada data erupsi baru. Ia menekankan pentingnya mengikuti petunjuk resmi dan tidak menyalakan spekulasi di media sosial.
Sebelumnya, Gunung Lawu menjadi perbincangan hangat di media sosial setelah beredar unggahan yang mengeklaim adanya indikasi lava naik akibat tekanan tektonik dari jalur Bojonegoro. Narasi itu menyebut Bojonegoro memiliki tekanan lempeng yang tinggi dan mengimbau warga di lingkar lereng Lawu untuk bersiap menghadapi erupsi destruktif.
“Gunung no 7 yg akan erupsi besar adalah gn Lawu, saat ini ada indikasi lava naik , (chamber ada yg mulai penuh ) ada tekanan dari jalur Bojonegoro (maka bojonegoro salah satu kota yg tinggi tekanan lempeng, erupsi dipetkirakan sangat besar, ya waspada sekitar gn lawu,” demikian bunyi narasi yang beredar luas di media sosial.
Narasi tersebut menekankan tekanan lempeng di jalur Bojonegoro, yang dianggap tinggi, serta menilai bahwa erupsi di Gunung Lawu dapat sangat besar. Namun, belum ada data ilmiah yang mendukung klaim tersebut. Sumber-sumber resmi belum mengonfirmasi adanya aktivitas lava atau tekanan yang signifikan di gunung tersebut.
Kabar ini menyoroti pentingnya menunggu konfirmasi resmi dari lembaga geologi sebelum menanggapi spekulasi online. Para pendaki tetap diingatkan untuk tetap tenang, menyaring informasi, dan mematuhi arahan resmi, karena Gunung Lawu masih tetap menjadi gunung berapi aktif yang memerlukan kewaspadaan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
BMKG Monitor 24 Jam, Sosialisasi Gempa di Bojonegoro
Gunung Semeru Erupsi, APG 4,5 km: Peringatan BPBD Warga
Malang Pakai Jersey Jumat Piala Dunia, Dukung UMKM Ekonomi
Gempa Kecil 4-5 M di Sesar Kendeng, BMKG: Tenang Ya Warga Siap
Semeru Letus: Awan Panas 4,5 km Tanpa Dampak Warga
Gempa Darat Lebih Merusak, Pakar Jelaskan Penyebabnya
Berita Terbaru
Lampu Merah Soekarno‑Hatta Kembali Menyala Lalu Lintas Lancar
Rumor Erupsi Gunung Lawu 7 Tidak Terdukung Data BMKG
Tiga Saudara Perempuan Temukan Donor Sperma Bersama
5 Warung Soto Betawi Legendaris Klasik Jakarta Tradisional
KLH Adakan Pertemuan Lintas Agama untuk Moral Ekologis
Guide dan Porter Gunung Rinjani Perlu Kartu Akses Tahunan
Barantum Raih Rating 4,9/5 Google, Jadi CRM Lokal Populer
Timnas PUBG Mobile Indonesia Raih Tiket Asian Games 2026
