Anak Harimau Benggala 8 Bulan di Bandung Zoo Meninggal
Gambar atau konten salah?
Bandung Zoo menegaskan bahwa seekor anak harimau benggala berusia 8 bulan bernama Hara telah meninggal. Kabar ini datang di tengah kegiatan rutin di kebun binatang yang sering dikunjungi pengunjung.
Hara adalah anak dari pasangan Shah Rukh Khan (jantan) dan Jelita (betina). Ia lahir bersamaan dengan saudara laki‑kakinya, Huru, pada tanggal 12 Juli 2025. Kedua anak ini menjadi sorotan karena kondisi kesehatan yang terus dipantau oleh petugas.
Menurut Eri Mildranaya, humas BBKSDA Jawa Barat, penyelidikan atas kematian Hara masih berlangsung. “Betul (mati), namun hasilnya belum kami dapatkan secara lengkap, setelah hasil periksa oleh dokter hewan,” ujar Eri pada hari Rabu, 25 Maret 2026. Proses nekropsi telah dilakukan, dan hasil lengkap akan diumumkan setelah semua analisis selesai.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menambahkan bahwa penyebab kematian Hara adalah virus yang dibawa oleh induknya. Ia menjelaskan di Terminal Leuwipanjang bahwa Hara dan Huru terpapar virus sejak lahir pada 12 April 2025. “Jadi begini, induknya menjadi carrier virus. Ini virus khas keluarga kucing besar, keduanya sudah terinfeksi sejak lahir. Yang satu tidak terselamatkan, yang satu sedang kita upayakan,” kata Farhan.
Farhan menyebut virus tersebut bernama panleukopenia, yang sering menyerang kucing besar. “Virus ini memang khas pada kucing besar dan sulit diselamatkan jika sudah terinfeksi. Induknya sudah kebal, tetapi anaknya lemah.” Ia menambahkan bahwa penyakit ini dapat menurunkan sel darah putih, sehingga kondisi hewan menjadi kritis.
Pengobatan Hara meliputi antibiotik, antiemetik, larutan rehidrasi oral, suplemen imun, dan antivirus. “Menurut dokter, yang berjumlah lima orang dalam satu tim, hewan tersebut telah melewati fase kritis 72 jam. Biasanya setelah itu kondisi akan terus membaik, dengan pemantauan intensif. Makan sudah mulai masuk dengan bantuan keeper, dan secara bertahap ditingkatkan,” jelas Farhan.
Berbeda dengan Hara, Huru kini menunjukkan perbaikan. Pada pukul 14.19 WIB, Farhan mengonfirmasi bahwa diare sudah tidak ada, tidak muntah, dan lebih aktif. “Kondisi terbaru pukul 14.19 WIB, kondisi membaik dibanding kemarin. Diare sudah tidak ada, tidak muntah, dan lebih aktif.” Ia menegaskan bahwa Huru sudah dapat mengkonsumsi pakan secara normal.
Farhan menegaskan perlunya evaluasi menyeluruh agar kejadian serupa tidak terulang. “Ini menjadi tanggung jawab bersama, baik pemerintah pusat, provinsi, maupun kota. Kami memastikan hal ini tidak mengganggu kesejahteraan hewan lain.” Ia juga mengakui telah menempatkan petugas bersiaga di kebun binatang dan menegaskan kepeduliannya terhadap kesehatan satwa.
Dalam pernyataannya, Farhan menutup dengan peringatan tentang pentingnya waspada terhadap virus kucing besar. “Semua informasi terpantau, tidak ada yang ditelantarkan. Saya sudah mengecek ke beberapa taman marga satwa, virus ini memang salah satu yang paling perlu diwaspadai jika ada kucing besar di kebun binatang. Saya sangat prihatin dan sedih, tetapi ini harus menjadi perhatian agar tidak terulang,” tutupnya.
Kasus ini menyoroti pentingnya pemantauan kesehatan hewan di kebun binatang. Virus panleukopenia, meski umum pada kucing besar, tetap menimbulkan risiko serius bagi anak harimau. Penanganan cepat dan evaluasi kebijakan kesehatan hewan menjadi kunci untuk mencegah tragedi serupa di masa depan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Promo Akhir Juli: Tiket Trans Studio Cibubur Mulai Rp398 Ribu
Piala Dunia 2026 Gagal Tarik Lonjakan Wisatawan
'Timuran di Bekasi' Hadirkan Musik Santai dan Games Seru
Nemuru Ciawi Siapkan Paket Liburan Sekolah Anak
Bandara Husein Sastranegara Resmi Jadi Bandara Internasional
13 Terluka dalam Lari Banteng San Fermin
