APBN 2027: Defisit 1,8-2,4% dan Pertumbuhan 5,8-6,5%

Wahyu T. · 2 min baca · 15 hari lalu · 42 dibaca
Bisik.id
APBN 2027: Defisit 1,8-2,4% dan Pertumbuhan 5,8-6,5%

Gambar atau konten salah?

APBN bukan sekadar dokumen keuangan, kata Presiden Prabowo Subianto pada rapat paripurna DPR RI hari 20 Mei 2026. Ia menegaskan bahwa APBN adalah alat perjuangan bangsa, melindungi rakyat, memperkokoh dasar ekonomi, dan memastikan setiap warga dapat hidup lebih sejahtera.

Prabowo mengungkapkan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok‑Pokok Kebijakan Fiskal (KEM‑PPKF) sebagai landasan awal Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun 2027. Dalam pernyataannya, ia menekankan pentingnya APBN sebagai pedoman perjalanan bangsa ke depan.

Menurut kerangka tersebut, defisit diharapkan berada pada kisaran 1,80‑2,40% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Defisit ini muncul karena pendapatan negara dipatok lebih kecil, yaitu 11,82‑12,40% PDB, sementara belanja negara direncanakan antara 13,62‑14,80% PDB.

Prabowo menegaskan: “Pendapatan negara dalam APBN 2027 kami targetkan mencapai kisaran 11,82‑12,40% dari PDB kita. Untuk mendukung berbagai program prioritas dan program‑program vital kita, belanja negara direncanakan berada pada kisaran 13,62‑14,80% dari PDB kita. Dari sisi pembiayaan, defisit kita di 2027 akan kami jaga pada kisaran 1,80% sampai maksimal 2,40% PDB dan kita akan berjuang terus untuk menekan dan memperkecil defisit ini.”

Di bidang asumsi ekonomi makro, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan berada pada kisaran 5,8‑6,5% di tahun 2027. Prabowo mengemukakan keyakinannya bahwa target tersebut dapat tercapai melalui strategi ekonomi yang tepat serta kebijakan fiskal yang prudent dan berkelanjutan. Ia menambahkan: “Saya yakin ekonomi Indonesia dapat tumbuh pada kisaran 5,8‑6,5% di 2027 menuju pertumbuhan ekonomi 8% pada 2029. Pertumbuhan tersebut harus tercermin pada meningkatnya kesejahteraan rakyat secara nyata.”

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dipatok berada pada kisaran Rp 16.800‑Rp 17.500 di tahun 2027. “Nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS berada pada rentang Rp 16.800 sampai Rp 17.500. Strategi fiskal dan moneter kita haruslah strategi yang mampu untuk menjaga nilai tukar kita tetap stabil terhadap mata uang dunia,” ujarnya.

  • POSTUR APBN 2027
  • Pendapatan negara: 11,82‑12,40% PDB
  • Belanja negara: 13,62‑14,80% PDB
  • Defisit: 1,80‑2,40% PDB
  • ASUMSI DASAR EKONOMI MAKRO 2027
  • Pertumbuhan ekonomi: 5,8‑6,5%
  • Inflasi: 1,5‑3,5%
  • Suku bunga SBN 10 tahun: 6,5‑7,3%
  • Nilai tukar: Rp 16.800‑Rp 17.500/US$
  • Harga minyak mentah Indonesia (ICP): US$ 70‑95/barel
  • Lifting minyak mentah (RBPH): 602‑615
  • Lifting gas bumi (RBSMPH): 934‑977
  • SASARAN PEMBANGUNAN 2027
  • Kemiskinan turun ke 6‑6,5%
  • Pengangguran terbuka: 4,30‑4,87%
  • Rasio Gini: 0,362‑0,367
  • Indeks modal manusia: 0,575
  • Indeks kesejahteraan petani: 0,8038
  • Proporsi penciptaan lapangan kerja formal: 40,81% (aid/fdl)

Prabowo menegaskan bahwa setiap angka dan target dalam kerangka tersebut dirancang untuk menumbuhkan ekonomi, menurunkan kemiskinan, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Dengan fokus pada pengelolaan defisit dan stabilitas nilai tukar, ia berharap Indonesia dapat mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan distribusi pendapatan yang lebih merata di masa depan.

APBN 2027Defisit PDBPertumbuhan EkonomiKebijakan FiskalNilai Tukar RupiahPrabowo SubiantoKEM‑PPKF

Komentar

Memuat komentar...