AS Blokade Selat Hormuz, Harga Minyak Naik 8%, Dampak Global
Gambar atau konten salah?
Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas. Negosiasi perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran gagal, dan AS bahkan menambah ancaman dengan memblokade kapal yang melewati Selat Hormuz. Langkah ini menambah tekanan pada harga minyak dunia.
Harga minyak mentah berjangka Amerika Serikat untuk pengiriman Mei 2026 melonjak hampir 8 % menjadi US$104,20 per barel pada sore hari Minggu. Sementara itu, patokan internasional Brent untuk pengiriman Juni 2026 naik 7 % menjadi US$101,86 per barel. Kenaikan ini mencerminkan ketidakpastian yang tumbuh akibat konflik di kawasan tersebut.
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan pada hari Minggu bahwa militer akan memblokade semua lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran mulai Senin pukul 10.00 waktu setempat (ET). AS menegaskan bahwa kapal yang hanya melakukan transit dari dan ke pelabuhan non‑Iran tidak akan terhalang. Pernyataan ini menandai langkah konkret setelah perundingan di Pakistan berakhir tanpa kesepakatan.
"Mulai sekarang juga, Angkatan Laut Amerika Serikat, yang terbaik di dunia, akan memulai proses blokade semua kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz," kata Presiden Donald Trump dalam unggahan di media sosial Truth.
Beberapa negara segera menyuarakan pendapat mereka. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menyerukan agar jalur perairan strategis Selat Hormuz tetap terbuka tanpa hambatan. "Selat Hormuz merupakan jalur perdagangan internasional yang penting untuk barang dan energi, dan menjaga keamanan, stabilitas, dan kelancaran arus adalah kepentingan bersama komunitas internasional," ujarnya. Guo menambahkan bahwa China berharap kedua belah pihak tidak menyulut kembali perang di Timur Tengah, dan menyerukan penyelesaian perselisihan melalui cara politik dan diplomatik.
Turki juga menegaskan dukungan untuk pembukaan kembali Selat Hormuz secara damai. Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa Ankara mendukung pembukaan selat secara damai. "Negosiasi dengan Iran harus dilakukan, metode persuasi harus digunakan, dan selat harus dibuka sesegera mungkin," tuturnya.
Di sisi lain, Malaysia mempersiapkan diri menghadapi potensi kelangkaan bahan bakar mulai Juni 2026. Menteri Ekonomi Malaysia, Akmal Nasrullah Mohd Nasir, menegaskan bahwa periode Juni-Juli 2026 akan menjadi fase krusial dalam menjaga ketersediaan energi nasional. "Juni dan Juli akan menjadi periode yang sangat kritis dalam memastikan pasokan bahan bakar tetap tersedia," kata Akmal, dikutip dari Bloomberg. Ia juga menekankan pentingnya menjaga ketersediaan bahan baku minyak dan gas untuk industri farmasi dan alat kesehatan.
Pemerintah Malaysia menyatakan bahwa pasokan energi masih aman hingga April–Mei 2026. Namun, tantangan terbesar terletak pada memastikan pasokan mulai Juni 2026 dan seterusnya. Peningkatan permintaan BBM di beberapa daerah telah menyebabkan gangguan di beberapa SPBU. "Saya ingin menekankan bahwa posisi pasokan bahan bakar negara masih stabil dan mencukupi," ujar Wakil Menteri Perdagangan Dalam Negeri, Fuziah Salleh.
Secara keseluruhan, aksi blokade yang direncanakan AS menambah ketegangan di jalur perdagangan penting Selat Hormuz, sementara negara-negara lain menekankan pentingnya navigasi bebas. Sementara itu, Malaysia memantau potensi dampak terhadap pasokan BBM, menyiapkan langkah-langkah untuk menjaga stabilitas energi nasional di tengah ketidakpastian global.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Muharram 2025: Sepuluh Amalan Penting Memulai Tahun Baru Islam
Puasa 1 Muharam 1448 H: Boleh, Niat & Jadwal 16 Juni
Luwu Utara Cetak 2,960 Ha Lahan Sawah Baru, Target 20,000 Ha
PP PBVSI Pilih Toiran Gonzales Reidel, Timnas Siap AVC 2026
KKP Rencanakan Insentif Daerah untuk Hindari Sampah ke Laut
270 Personel Dishub & Polrestabes Lindungi CFD Palembang
Rupiah Jatuh ke Rp 18.000, Mata Uang Terlemah Asia 12 Juni
