Atap SD Ambrol, Siswa Belajar Bergantian di Musala

Bambang W. · 4 min baca · 7 menit lalu · 2 dibaca
Bisik.id
Atap SD Ambrol, Siswa Belajar Bergantian di Musala

Gambar atau konten salah?

Di Grobogan, Jawa Tengah, sebuah sekolah dasar negeri menghadapi masalah besar. Atap dua ruangan di SD Negeri Tanggirejo, yang terletak di Kecamatan Tegowanu, ambrol sejak awal tahun ini. Kejadian ini memaksa pihak sekolah untuk mengosongkan beberapa ruang kelas lain demi keselamatan para siswa. Akibatnya, para siswa harus belajar dengan cara berbagi dan bergantian menggunakan ruang kelas yang tersisa.

Dua ruangan yang atapnya ambrol adalah ruang kelas enam serta ruang guru dan kepala sekolah. Kepala SDN Tanggirejo, Juwariyah, mengambil keputusan tegas. Ia memerintahkan pengosongan ruang kelas lain yang berada di sebelah ruang kelas enam. Keputusan ini mulai diterapkan pada tahun ajaran baru. Ruangan yang dikosongkan adalah ruang kelas empat dan lima. Kedua ruangan ini dinilai rawan karena letaknya bersebelahan dengan ruang kelas enam yang atapnya sudah runtuh.

"Mulai tahun ajaran ini sudah tidak ditempati. Setelah ambrolnya yang kedua itu, terus tahun ajaran baru ini saya suruh kosongkan saja. Saya tidak mau berurusan dengan nyawa," kata Juwariyah saat dihubungi pada Selasa, 14 Juli 2026.

Dengan kondisi ini, SDN Tanggirejo kehilangan tiga ruang kelas dan satu ruang guru yang juga berfungsi sebagai kantor kepala sekolah. Hanya tersisa tiga ruang kelas yang masih layak pakai, yaitu ruang kelas satu, dua, dan tiga. Juwariyah harus memutar otak agar kegiatan belajar mengajar tetap berjalan lancar.

"Satu ruangan digunakan bergantian, kelas satu dan dua. Jadi kelas satu dari pagi sampai jam 09.15 WIB, kemudian disambung kelas dua sampai siang," jelas Juwariyah.

Siswa kelas tiga dan empat harus berbagi satu ruang kelas. Untuk mengurangi gangguan saat belajar, Juwariyah menyekat bagian tengah kelas dengan triplek. Ia juga mengatur tempat duduk siswa dari kedua kelas agar saling membelakangi.

"Satu kelas disekat untuk kelas tiga dan empat. Jadi yang sebelah menghadap barat, yang sebelah menghadap timur. Jadi saling memunggungi papan tulis. Sekatnya pakai triplek, bisa digeser, bisa diangkat," terang Juwariyah.

Satu ruang kelas yang masih utuh dikhususkan untuk siswa kelas enam. Alasannya, mereka harus fokus menghadapi ujian kelulusan. Juwariyah tidak ingin konsentrasi mereka terganggu.

"Kelas enam kan menghadapi mau ujian jadi saya tidak boleh untuk campur-campur dengan yang lain. Kelas enam itu kan nanti pada akhirnya ujung tombak untuk menuju ujian," kata Juwariyah.

Karena tidak ada lagi ruang kelas yang tersisa, siswa kelas lima untuk sementara belajar di musala. Sementara itu, Juwariyah dan para guru berkantor di perpustakaan sekolah.

"Kelas limanya saya taruh di musala. Terus ruang guru dan kepala sekolah saya tempatkan di perpustakaan," kata Juwariyah.

Meskipun banyak ruangan tidak bisa digunakan, sekolah tetap menerima murid baru di tahun ajaran ini. Jumlah siswa baru yang diterima mencapai puluhan orang.

"Kelas satu sekarang 24 anak. Ini masih MPLS sampai besok, tiga hari," ujar dia.

Juwariyah sudah mengajukan permohonan perbaikan kepada pihak terkait. Sambil menunggu, ia juga berusaha memberi pengertian kepada para wali murid.

"Sudah (mengajukan perbaikan). Katanya ada dari revit pusat, tapi masih menunggu. Selain itu, kemarin diminta dan hari ini sudah mengumpulkan proposal sama foto-foto juga, insyaallah segera secepatnya (ada perbaikan)," jelas Juwariyah.

"Yang jelas anak-anak sudah terkondisikan. Dengan kondisi sekolahan seperti itu saya sudah bilang ke wali muridnya juga, bapak ibu saya mohon maaf sekali untuk sekolahannya belum bisa dibantu untuk saat ini, bapak ibu boleh bersabar diri ya karena semua itu butuh proses saya bilang gitu," imbuhnya.

Sebelumnya, atap dua ruangan di SD Negeri Tanggirejo ambrol sejak awal tahun. Penyebabnya adalah kerusakan pada penyangga atap yang dimakan rayap.

"(Sampai ambrol karena penyangga atap) Dimakan rayap itu, kalau didengarkan ini 'krekes krekes krekes' suaranya begitu," ujar Juwariyah.

Ruangan pertama yang atapnya ambrol adalah ruang guru dan kepala sekolah. Peristiwa itu terjadi pada Januari lalu. Beruntung, kejadian tersebut berlangsung pada malam hari saat tidak ada orang di dalam ruangan.

"Alhamdulillahnya itu (kejadian) malam hari, paling selatan ruang guru itu (ambrol) Januari tahun ini. Sudah tidak bisa digunakan," ujar Juwariyah.

Ruangan kedua yang mengalami nasib serupa adalah ruang kelas enam. Atap ruangan itu ambrol pada April lalu.

"Ruang kelas enam, barusan kok (ambrolnya), sekitar bulan April," ucap Juwariyah.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Grobogan, Purnyomo, mengatakan pihaknya sudah menerima informasi awal tentang kondisi SD Tanggirejo. Rencananya, pihak dinas akan meninjau langsung ke lokasi.

"Korwil kemarin sudah mendatangi sekolah untuk cek keadaan bangunan tersebut, kemudian menyampaikan informasi perihal kondisi sekolah ke dinas melalui Kabid Pembinaan SD," kata Purnyomo.

"Agar informasi lebih lengkap dan valid, besok Kabid Pembinaan SD akan melakukan cek lapangan secara langsung ke SDN Tanggirejo," tambahnya.

Menurut Purnyomo, pihaknya sebenarnya sudah mengajukan perbaikan kerusakan bangunan di SDN Tanggirejo melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Namun, sebelum usulan tersebut terealisasi, atap dua ruangan sudah ambruk terlebih dahulu.

"Sebelum peristiwa ini terjadi, sebenarnya sudah kami usulkan penanganan kerusakan bangunan ke Pemerintah Pusat melalui program revitalisasi sekolah dengan sumber dana APBN. Sayangnya, sebelum usulan tersebut membuahkan hasil, sudah didahului dengan terjadinya peristiwa ini," ujar Purnyomo.

Sambil menunggu realisasi revitalisasi dari pusat, Purnyomo menyebut pihaknya akan mengusulkan penanganan kerusakan tersebut dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) perubahan.

"Langkah yang bisa kami tempuh sementara adalah mengusulkan ke TAPD agar mendapat prioritas penanganan di perubahan APBD nanti. Sekaligus tentu saja menunggu terealisasinya pengusulan di program revitalisasi sekolah," jelas Purnyomo.

Kondisi SDN Tanggirejo menunjukkan bagaimana keterbatasan fasilitas pendidikan masih menjadi masalah di beberapa daerah. Sekolah harus berkreasi dengan sumber daya yang ada sambil menunggu bantuan perbaikan dari pemerintah. Keputusan Juwariyah untuk mengosongkan ruangan yang rawan menunjukkan prioritas utama adalah keselamatan siswa, meskipun harus mengorbankan kenyamanan proses belajar mengajar.

atap ambrolSD Negeri TanggirejoGroboganruang kelasbelajar bergantiankeselamatan siswarevitalisasi sekolah

Komentar

Memuat komentar...