Australia Pindah ke Bali, Nusa Dua Terima Tambahan Wisata

Ika P. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 69 dibaca
Bisik.id
Australia Pindah ke Bali, Nusa Dua Terima Tambahan Wisata

Gambar atau konten salah?

The Nusa Dua menyaksikan perubahan pola kunjungan wisatawan asal Australia akibat ketegangan di Timur Tengah. Banyak pengunjung yang sebelumnya merencanakan liburan ke Eropa kini membatalkan rencana tersebut dan memilih Bali sebagai tujuan alternatif. General Manager The Nusa Dua, I Made Agus Dwiatmika, mengamati pergeseran ini sudah jelas dalam tiga bulan terakhir.

“Kalau kita melihat selama tiga bulan ini, masih tertinggi oleh Australia. Jadi kami sudah prediksi, karena banyak wisatawan Australia sebetulnya yang cancel ke Eropa. Jadi itu juga bisa menambah kunjungan ke Indonesia khususnya,” ujarnya pada hari Jumat, 17 April 2024.

Data kunjungan juga memperlihatkan peningkatan. Pada Maret 2026, jumlah wisatawan di kawasan tersebut naik sekitar 4‑5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. “Kalau dibandingkan Maret tahun 2025 sama Maret 2026, kita ada kenaikan kurang lebih 4‑5%. Jadi itu sebetulnya kondisi yang cukup bagus,” jelasnya.

Agus menambahkan bahwa faktor geopolitik bukan satu-satunya penyebab. Iklim tropis dan musim di Australia juga memengaruhi keputusan. “Australia itu biasanya, dia kalau di daerahnya mulai musim dingin, dia pasti akan ke Indonesia. Kemudian orang Australia itu, sebenarnya di tempatnya dia itu kan banyak pilihan, tapi suasana katulistiwa itu memang tidak ditemukan di negara dia. Jadi salah satu pilihannya adalah ke Bali selain Bangkok,” jelasnya.

Walaupun infrastruktur di Bangkok masih dianggap lebih unggul, Bali tetap menjadi destinasi favorit bagi wisatawan Australia. Saat ini, kunjungan Australia masih mendominasi The Nusa Dua, diikuti oleh Rusia dan China. Agus mengingatkan pelaku pariwisata di Bali untuk tetap waspada terhadap dinamika global, termasuk kenaikan harga avtur yang dapat berdampak pada industri penerbangan. “Jadi geopolitiknya masih berlangsung, kemudian diikuti oleh naiknya harga avtur, karena maskapai pun cukup merasa tertekan terkait dengan harga yang tinggi. Kita mesti mengantisipasi itu, tetapi kita harus optimis,” ungkapnya.

Perubahan pola perjalanan ini menandai pergeseran preferensi wisatawan Australia, yang kini lebih memilih pengalaman tropis di Bali daripada destinasi Eropa. Dampak geopolitik dan faktor iklim tetap menjadi pendorong utama, sementara tantangan harga avtur menuntut kesiapan industri pariwisata untuk menyesuaikan strategi.

Nusa Duawisatawan Australiageopolitik Timur TengahBaliEropaharga avtur

Komentar

Memuat komentar...