Bali Jadi Tempat Spiritual dan Kuliner Bersatu Indonesia

Mira T. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 56 dibaca
Bisik.id
Bali Jadi Tempat Spiritual dan Kuliner Bersatu Indonesia

Gambar atau konten salah?

Dalam novel Eat, Pray, Love (2010), penulis Elizabeth Gilbert menelusuri perjalanan spiritualnya di tiga destinasi berbeda. Setiap tempat menampilkan sisi unik yang membentuk kisah pencarian cinta dan kedamaian.

“Di dunia yang penuh kekacauan, bencana, dan penipuan, terkadang hanya keindahan yang dapat dipercaya....Dan terkadang makanan adalah satu-satunya mata uang yang nyata,” – Elizabeth Gilbert, dalam buku Eat, Pray, Love (2010) yang kemudian difilmkan pada 2010 oleh sutradara Ryan Murphy.

Gilbert menghabiskan empat bulan di Italia, menikmati kuliner dan kebahagiaan hidup (Eat). Selanjutnya, ia menghabiskan tiga bulan di India untuk mencari kedalaman spiritual (Pray). Akhirnya, ia tiba di Bali, tempat ia menemukan keseimbangan dan jatuh cinta (Love).

Berbeda dengan Italia, di Bali makanan tidak sekadar hidangan; ia menjadi bagian dari praktik spiritual, terhubung dengan alam, memori, dan upacara. Penduduknya dikenal ramah, harga masakan terjangkau, dan bahan-bahan segar menambah kelezatan setiap sajian.

Lingkungan Bali, dikelilingi sawah hijau, pohon mangga, nanas, dan kelapa, memberikan latar yang mempesona. Di sinilah Gilbert merasakan rasa manis dan gurih yang harmonis, mencicipi sate ayam, lumpia, dan saus celup mangga.

Saat memasuki Pasar Ubud, Julia Roberts memerankan Elizabeth Gilbert. Di pasar, ia dibawa berkeliling oleh Felipe, yang mengajarinya mencoba rambutan dan menasihati untuk tidak makan durian.

Felipe menjelaskan, “Durian...tidak, tidak, kamu tidak akan mau memakannya - rasanya seperti kaki kotor...”

Liz mencoba rambutan, buah yang asing bagi penjelajah asing. Durian, buah yang sering dilarang di hotel karena bau tajamnya, menjadi peringatan bagi para wisatawan.

Penjelasan lucu Felipe tentang rambutan, “seperti jeruk yang bercinta dengan buah plum,” menambah nuansa humor dalam perjalanan kuliner ini.

Artikel ini ditulis oleh Hari Suroto, penulis yang bekerja di Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Utara.

Dengan menelusuri kisah Elizabeth Gilbert, pembaca dapat melihat bagaimana Bali menjadi tempat di mana spiritualitas dan kuliner bersatu. Setiap rasa, setiap aroma, dan setiap interaksi di pasar menambah lapisan makna bagi pencarian cinta dan kedamaian yang digambarkan dalam novel tersebut.

Eat Pray LoveElizabeth GilbertBalikulinerspiritualitasPasar Ubuddurian

Komentar

Memuat komentar...